Mereka yang Menolak Diam pada Pelanggaran

Aliansi Selamatkan Slamet saat aksi

Aliansi Selamatkan Slamet saat menduduki gedung DPRD Banyumas

Yang terakhir, kami dari Aliansi Selamatkan Slamet akan menduduki kantor DPRD untuk menemui Gubernur Ganjar Pranowo yang akan mengunjungi Banyumas pada hari Rabu tanggal 19 Juli 2017…”.

Kalimat di atas lantang diucapkan salah satu perwakilan peserta aksi penolakan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi Baturaden. Mereka membacakan tuntutannya di dalam  gedung dewan setelah sebelumnya berhasil menerobos hadangan aparat yang bertugas. Berbagai poster tuntutan juga ditempel menghiasi ruang sidang gedung dewan tersebut.

Sudah sejak pagi, sekitar dua ratusan peserta aksi penolakan pembangunan PLTPB di Gunung Slamet telah berkumpul di sekitar kampus IAIN Purwokerto, Selasa (18/7/2017). Mereka datang dari berbagai kelompok hingga individu untuk satu tujuan: menghentikan eksploitasi hutan lindung yang dilakukan oleh PT. Sejahtera Alam Energy. Dengan berpakaian serba hitam peserta yang meliputi para aktivis, mahasiswa, dan perwakilan pemuda desa terdampak ini menyusuri jalanan sepanjang Kampus IAIN hingga halaman Kantor Bupati.

Selama perjalanan mereka terus menyuarakan tuntutannya. Sambil terus bersaut-sautan menyanyikan yel-yel ajakan menolak PLTPB yang turut bergema menerobos ramainya jalanan kota satria. Tampak bergabung dalam aliansi tersebut mahasiswa dari kampus di Purwokerto seperti BSI, IAIN, UMP, Unwiku hingga Unsoed. Juga aliansi pemuda desa, pemuda kota, serta aliansi pecinta alam.

aksi aliansi selamatkan slamet menolak PLTPB

Para peserta aksi berjalan menuju pendopo kabupaten

 

Rencana utama  mereka adalah menemui Bupati dan DPRD agar turut mendesak pemerintah provinsi dan pusat, selaku pemberi ijin, untuk mencabut ijin uzaha PLTPB oleh PT. SAE. Namun setibanya di depan kantor bupati, para peserta aksi harus kecele. Lantaran mereka mendapati Sang Bupati enggan keluar menemuinya. Sempat tegang, namun setelah melewati proses negosiasi panjang dan aneka desakan akhirnya Sang Bupati  yang dinanti-nanti keluar juga.

Kalo bisa dibikin sulit, kenapa dipermudah

Menanggapi aksi tersebut, Bupati ditemani beberapa staf menyampaikan piadato. Dalam pidato  blio menyampaikan bahwa semua urusan tambang dan panas bumi izinnya melalui provinsi. Sedang bupati, menurut blio, tidak punya kewenangan untuk urusan tersebut. Tentu ini adalah sebuah jawaban template yang sudah begitu dihapal pejabat. Lempar sana lempar sini.

Saking semrawutnya aturan birokrasi negeri ini, sampai ada anekdot: kalau bisa dibikin sulit (aturannya), kenapa harus dipermudah.

Usai pidato normatifnya itu, blio membuka sesi tanya jawab. Pertanyaan hingga pernyataan pun langsung terlontar bertubi-tubi dari para peserta yang memang sudah beberapa kali melakukan kajian bersama. Namun apalacur, Bupati terlihat tak banyak dapat menjawab, bahkan terkesan bingung dan langsung bergegas meninggalkan kerumunan.

Sebelum meninggalkan para peserta, Bupati pula menyampaikan bahwa masalah ini harusnya disampaikan kepada pejabat provinsi, yang menurutnya akan datang esok hari (hari ini: red). Sebuah saran yang sepola ketika ratusan massa petani Darmakradenan, Ajibarang, bersama para aktivis menuntut penyelesaian sengketa lahan sekira tiga tahun lalu.

Namun para peserta tak lantas mundur. Usai ditinggal Bupati mereka kemudian merancang serangkaian strategi kembali. Para aktivis tersebut dengan justru bersemangat menduduki gedung DPRD yang kosong melompong. Mereka menunggu ketua DPRD Banyumas, Juli Krisdiyanto, datang menemui mereka. Tentu agar tuntutan dapat segera disampaikan. Namun hingga sore hari tak  ada satupun pihak DPRD yang hadir. Lantas para peserta yang sudah lama menunggu memutuskan menduduki gedung dewan tersebut. Mereka juga terus menggemakan tuntutan dan menginap untuk bertemu dengan pemerintah provinsi keesokan harinya.

Tak anti pembangunan

Sebenarnya, mereka mengaku tak anti pembangunan, hanya saja, harus dilakukan dengan prosedur yang benar. Terutama dalam upaya menjaga kelestarian alam. Muflih, salah satu peserta aksi, mengatakan dirinya dan kawan-kawan terpaksa melakukan demontrasi terbuka lantara sudah dua kali ditolak audensi oleh sang Bupati.

Ihwal pembangunan PLTPB di Gunung Slamet memang sudah menimbulkan pertanyaan sejak awal. Pasalnya eksploitasi dilakukan tepat di kawasan hutan lindung. Kita tak perlu menjadi seorang sarjana hukum dan menghapal dasar hukum hutan lindung sebagaimana dijelaskan dalam UU No. 26 Th. 2007 Tentang Penataan Ruang. Dari namanya saja kita sudah tahu, bahwa hutan lindung adalah hutan untuk melindungi (satwa dan fauna) serta harus dilindungi. Itu sudah.

Masalah berikutnya muncul, ketika eksplorasi dan tahap awal pembangunan menyebabkan rusaknya kualitas air yang padanya bergantung hajat hidup seluruh masyarakat desa terdampak. Setidaknya masyarakat desa Karangtengah, Panembangan, Rancamaya, Pernasidi, Karanglo, Cikidang, Kalisari,  Sambirata, Melung dan berbagai desa lainnya harus menanggung langsung dampak rusaknya air akibat penebangan hutan dan eksplorasi gunung Slamet. Sebagai gambaran, di Desa Melung saja, terdapat sekitar 2.200 warga yang tinggal di sana. Mayoritas warganya menggantungkan kebutuhan air bersih dari sumber mata air yang bergantung pada kelestarian hutan.

Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup & Dinas Kehutanan Kabupaten Banyumas, sejak tahun 2001 hingga 2011  saja ada 1.321  mata air di sekitar gunung Slamet yang hilang. Penyebab utamanya adalah alih fungsi lahan dan perambahan hutan (deforestasi).

Kehilangan mata air sebanyak itu terjadi bahkan sebelum dilakukan penggundulan hutan besar-besaran yang dilakukan PT. SAE. Menurut data yang dimuat dalam Kertas Posisi yang disusun Aliansi Selamatkan Slamet, sebagaimana diterima redaksi esensiana.com, nantinya akan ada 600 hektar lebih hutan yang ditebangi. Sementara untuk Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Panas Bumi di Gunung Slamet, seperti dirilis oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencapai 24.660 Hektare. Sialnya 90 persen dari angka itu berada di area hutan lindung.

Padahal hutan di Gunung Slamet merupakan jantung hutan alam di  Jawa Tengah dan menjadikannya salah satu penyangga ekosistem pulau Jawa. Namun jika tak ada upaya serius dari berbagai pihak, itu akan segera musnah. Menurut data yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan periode 2003-2006, diketahui bahwa laju penggundulan hutan Pulau Jawa sebesar 2500 ha/tahun. Angka ini setara 0,2% dari total angka deforestasi Indonesia.

Sementara itu, penelitian Corey-bradshaw yang dikeluarkan 2007 lalu mengungkap, setiap 10% hutan yang ditebang, potensi banjir, tanah longsor, dan kekeringan akan meningkat 5-8%. Oleh karenanya kerja-kerja pengadvokasian yang dilakukan oleh kawan-kawan Aliansi Selamatkan Slamet bukanlah demi kepentingan pribadi atau kelompok semata. Melainkan demi terwujudnya masyarakat yang sejahtera dan aman melalui langkah harmoni dengan alam. Semoga.

*Kontributor reportase dan foto: Yollanda P.

Editor: Fajar

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga