Perbedaan Islam

Islam Nabi, Islamku, Islammu, dan Islam Kita

14/09/2017 265 0 0

Islam Cingkrang

Anti isbal anti isbal klub

ISLAM– Seberuntung-beruntungnya orang non muslim adalah orang non muslim pada era Nabi, dan seapes-apesnya orang non muslim adalah orang non muslim pada era kita.

Betapa tidak, di era Nabi, orang non muslim dipertontonkan pembawaan ajaran Islam yang penuh kasih dan martabatif. Akhirnya gampang saja mereka terketuk hatinya lalu masuk Islam. Sementara di era sekarang, kita seringkali menampilkan Islam sebagai agama yang suka main gruduk, main pukul, main-main. Jatuhnya, non muslim makin susah menemukan alasan kenapa mesti masuk Islam. Lawong sudah eneg duluan sama Islam yang malah sering anarhis kok. Siapa pula coba, yang mau berteman dengan para gengster.

Perubahan tampilan wajah umat Islam, barangkali berangkat dari caranya memahami ajaran agama.

Makin ke sini, orang makin serampangan memahami ajaran Islam. Asal bisa mbaca huruf arabnya, orang sudah merasa bisa memahami Al-Quran. Dan oleh karenanya ia merasa sah untuk mengutip ayat mana saja sekehendak nafsunyahatinya. Asal sudah rajin memakai gamis, orang sudah dianggap islami. Kalau perlu, bahkan digelari ustadz. Ya, modal gamis bisa jadi ustadz.

Penyederhanaan-penyederhanaan semacam itu mulai menggejala ke mana-mana. Jelas akan menjadi sangat berbahaya mengingat penyerdahanaan yang dibuat berpotensi mengurangi makna. Atau bahkan mengaburkannya sama sekali.

Misalnya saja, Nabi pernah shalat dan berdo’a di makam seorang tukang sapu. Lalu sekarang muncul polemik hukum shalat dan berdo’a di makam. Ada yang memperbolehkan, ada pula yang melarang. Polemik ini sudah ada dari zaman baheula, dan belum selesai-selesai juga.

Kenapa selalu melihat sesuatu dari segi hukum fiqih. Kenapa shalat dan do’a nabi di makam tidak kita maknai sebagai manifestasi kecintaan beliau pada orang kecil, pada rakyat jelata? Kenapa tidak kita tafsirkan begitu? Kan malah lebih bermangfaat.

Nabi melarang memanjangkan busana sampai nyentuh tanah, karena khawatir jadi sombong. Tapi sekarang manifestasi dari nasihat itu malah model celana cingkrang, bukan pada poin jangan sombongnya. Jadi yang penting cingkrang, sombong juga enggak apa-apa, asal cingkrang.

Pada masa jahiliyah, kain yang menjuntai hingga menyentuh tanah adalah bentuk kesombongan. Orang arab jahiliyah banyak yang kayak gitu itu. Makanya dilarang sama Nabi. Substansinya ada pada jangan sombongnya, bukan pada kainnya.

Sebelum wafat baginda nabi berwasiat “ummatku, ummatku, ummatku”. Beliau sebut kata itu tiga kali. Orang Islam banyak yang menafsirkan “wah mulia sekali Nabi, disaat menjelang wafat masih mikirin kita”. Kenapa kok jadi geer gitu nafsirnya.

Maksud wasiat Nabi itu agar kita melanjutkan perjuangan, melayani kepentingan umat. Jangan Cuma kepentingan kelompok atau dirimu sendiri. Kan asyik kalau tafsirnya gitu, sehingga keberislaman punya mamfaat besar dimuka bumi.

Ada hadis Nabi yang menganjurkan belajar memanah, berkuda dan berenang. Lah Jebule, main panahan atau berkuda lagi nge-trend sekarang. Bangga banget foto sambil nenteng busur di atas kuda, karena menganggap sedang melakukan Sunnah Nabi.

Sekarang ini bukan abad pertengahan, melainkan sudah era modern. Oh, postmodern malah. Kenapa tidak kita pahami hadis itu sebagai nasihat untuk punya keterampilan, untuk punya ilmu. Jadi esensinya bukan pada main panahannnya, tapi pada keterampilan dan ilmunya.

Saya nulis begini bukan berarti saya sangat religius, atau merasa paling Islam. Bukan, bukan kayak gitu. Saya tulis karena heran saja dengan perilaku beragama yang terjebak pada permukaan, tidak substantif. Ibarat makan kacang, mereka sibuk memamah kulit tapi lupa isi.

Saya inikan Islam, boleh dong komenter sedikit untuk kebaikan pelaksanaan agama sendiri?

 Atau termasuk penistaan juga?

 

Baca artikel-artikel lain Aef Nandi di esensiana

  1. Gusdur dan Pribumisasi Islam
  2. Menjadi rendah hati adalah kunci
  3.  Jonru, fitnah dan perda syariah

Comments

comments

Tags: beda islam dulu dan sekarang, islam nabi, Islam sumbu pendek, tantangan umat islam Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Aef Nandi Setiawan Aef Nandi Setiawan

Founder & GM Indonesian Creative Coop Researcher at Kopkun Institute Vice Secretary at Natural resources department HMI Badko Jateng - DIY

Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.