Perihal Babi dan Kerjasama Umat Beragama

Babi hutan

Tidak peduli pilihan agama petani, celeng menyerang ladang siapa saja

Semalam saya diajak ikut outbound rutin tahunan teman-teman paguyuban mahasiswa transmigran. Jam 9 pagi, saya jalan sendirian menuju lokasi di bantaran Kali Pelus berbekal secarik peta. Karena tak pernah ikut pramuka, denah dan petunjuk lokasi tidak bisa saya baca. Kesulitan semakin lengkap karena saya tidak membawa smartphone. Alhasil, saya kesasar hingga ke sampai kandang babi.

Menemukan kandang babi, saya senang sekali. Karena ini kali pertama saya melihat babi piaraan, sebelumnya hanya saya hanya pernah lihat babi hutan. Dan, saya baru tau di daerah padat muslim begini ada peternakan babi yang jumlahnya puluhan ekor.

Di ujung kandang saya melihat seorang pekerja sedang mempersiapkan ransum, mungkin untuk sarapan bagi para babi. Setelah beruluk salam, saya minta izin melihat-lihat. Babi-babi tinggal di bilik sederhana dengan kamar mandi di dalam. Ya, karena mereka berak dan pipis di tempat yang sama untuk tidur.

Babinya gemuk-gemuk, badannya sintal dan bokongnya, aduh, bohay sekali. Menandakan mereka dirawat dengan baik. Pada saat saya datang, mereka masih tidur, dan ada juga yang bermalas-malasan sambil main smartphone. “Dasar babi pemalas. Jam segini masih tidur, besar nanti mau jadi apa kelean?!”, umpat saya dalam hati.

Tapi saya berusaha untuk berbaik sangka. Kan siapa tau mereka malamnya begadang baca buku, diskusi atau main mobile legends. Toh kalau begadang, jangankan babi kita juga bakal siang bangunnya. Duh, maafin saya ya bi, babi.

Diantara babi yang lagi asyik molor itu, saya melihat seekor induk babi yang masih lelap bareng enam ekor anaknya. Dari raut wajahnya saya melihta raut wajah lelah. Saya menaksir, enam dede bayi babi itu rewel dan susah diatur. Dasar babi, kecil-kecil sudah nyusahin.

Saya ndak bisa bayangin, betapa repotnya babi itu ngurus enam ekor bayinya. Misal kalau debay minta ngempeng serentak, duh apa gak  copot tuh susu babi. Belum lagi kalau ada debay yang gak mau minum Air Susu Babi (ASB) dan minta susu formula, kan repot. Apalagi setau saya, lokasi alfamart lumayan jauh dari kandang.

*****

Ingat babi saya jadi ingat kampung halaman 10 tahun silam, saat komplotan babi hutan masuk desa. Babi hutan rupanya tidak seimut babi piaraan. Warnanya abu-abu gelap dengan taring tajam diujung moncongnya. Banyak warga yang takut pergi ke ladang seorang diri, karena babi ini gampang naik pitam dan galaknya gak ketulungan.

Komplotan babi biasanya menginvasi kebun singkong, yang pada waktu itu merupakan komoditas dengan harga lumayan mahal. Mereka mendongkel singkong dengan taringnya yang tajam, lalu mengudap umbinya mentah-mentah tanpa direbus. Selain umbi, mereka juga makan cacing yang mudah ditemui di sela-sela umbi singkong. Mengudap singkong yang kaya karbohidrat plus lauk cacing yang sarat protein adalah hidangan yang yummi  sekali. Sungguh babi yang sadar gizi.

Orang desa tidak punya cukup senjata untuk menghadapi babi hutan itu. Senjata yang mereka punya paling hanya senapan angin dengan peluru timah yang efeknya paling banter cuma bikin babi korengan. Maka satu-satunya jalan yang ditempuh adalah dengan membangun koalisi dengan kelompok pemburu bersenjata dan berpengalaman.

Pemburu sebagian besar orang dayak ngaju dan beragama kaharingan. Kepercayaan asli daerah itu. Kebetulan desa saya adalah desa transmigran. Selain ada orang Jawa, juga ada banjar dan dayak. Selain ada Islam, juga ada katolik, protestan dan kaharingan. Tiga dari empat agama itu, tentu hanya Islam yang umatnya tidak dizinkan mengkonsumsi daging babi.

Tapi sialnya, justru kebun singkong orang islam  yang paling sering diinvasi oleh para babi hingga porak poranda. Meski Islam mengajarkan sifat pemaaf untuk umatnya, tapi jika sumber penghidupannya di rusak maka mereka juga bisa galak. Orang Islam menaruh dendam pada babi-babi sialan itu. Sama seperti cinta, dendam juga harus dibalas tuntas. Komplotan babi, mesti mati kabeh!.

Disisi lain, pemburu melihat babi punya nilai ekonomis sekaligus ajang bersenang-senang. Permintaan daging babi cukup tinggi, kadang daging buruan sampai di eksport ke desa sebelah. Selain itu berburu adalah aktivitas yang menyenangkan. Sehingga berburu babi seperti hobi yang dibayar.

Para pemburu punya bedil tradisional, namanya dum-duman. Karena jika sudah menyalak bedil mengeluarkan bunyi “dumm…” yang menggelegar. Dibanding bunyi senapan semi-otomatis yang “dor..dor..dor..”atau “trata…tratata…tratata….”, dum-duman punya efek kejut yang hebat untuk babi.

Senapan biasanya dibuat secara swadaya oleh para pemburu. Popornya dibuat dari akar kayu dan larasnya dari pipa besi berdiamter 5 cm. Peluru terbuat dari timah dengan mesiu berasal dari campuran arang dan garam inggris. Senapan bekerja dengan sistem bolt-action dengan reload peluru manual. Caranya bubuk mesiu diisi dalam laras senapan, kemudian setelah itu peluru dimasukan melalui moncong laras senapan. Untuk mulai meledakan peluru, mesiu dibakar melalui sumbu. Karena reload yang sulit, maka setiap pemburu punya prinsip: One shoot, One pig. Satu peluru, satu babi.

Berburu meski menyenangkan tapi tidak gampang. Para pemburu kadang harus mengintai selama berjam-jam, bersembunyi di semak-semak menunggu babi datang. Apalagi jarak tembak efektif senapan paling jauh hanya 20 meter dan akurasi tembak yang payah, membuat para pemburu harus berada sedekat mungkin dengan babi tanpa diketahui.

Yang paling sulit adalah saat harus berburu di malam hari karena para pemburu bukan pasukan Navy Seals yang dilekapi kacamata visi malam. Sekali menyerang kebun, jumlah babi jumlahnya bisa satu peleton. Dan, pemburu biasanya memilih babi yang paling besar dan paling gemuk.

“Oke, gaes sekarang waktunya pesta di kebun singkong pak Qomar”, kata seekor babi hitam mengajak komplotannya mulai menggasak kebun.

Lima belas menit setelah babi itu kasak-kusuk, tiba –tiba “ dumm…….”, seekor babi yang paling gemuk terpental dengan perut ambyar. Menggelepar- menggelepar, lalu meninggal dunia.

“Wuanjing…., ada pemburu. Kaburrrrr !!!!” kata salah satu babi hutan terperanjat. Merek lari lurus terbabi-babi sambil mengumpat di tengah pekat malam.

*****

Kerjasama antara petani muslim dan pemburu kaharingan efektif menekan populasi babi. Jika ada babi nekat kembali menjarah kebun, mereka harus berpikir dua kali karena harus menghadapi orang Islam dan Kaharingan bersatu. Babi mungkin tau jika orang Islam tidak bisa menyantap daging mereka. Tapi orang Islam suka melaporkan lokasi mereka pada kawannya yang Kaharingan yang punya senapan dan doyan makan babi panggang. Ketimbang apes, mereka memilih untuk mengalihkan target penjarahan

Konon, komplotan babi pindah menyerang ke desa sebelah yang warganya lebih sering berantem. Menyerang desa yang pemburu dan pekebunnya tidak bisa bersatu hanya karena perbedaan agama.

“Masnya, eslam?”, tanya seekor babi.

“Iya, emangnya kenapa?”

“Gak apa-apa, cuma tanya aja mas, hehe”.

Besoknya, satu kebun singkong ludes di gasak babi.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga