Persekusi, Kedunguan Paripurna Komplotan Berkedok Agama

Persekusi, Kedunguan Paripurna Komplotan Berkedok Agama Saya pikir, tidak ada kata yang lebih pas untuk menggambarkan perpaduan antara kedunguan dan arogansi kecuali kata bangsat. Iya bangsat.

Anggapanku yang menyangka bahwa melindungi tersangka kasus pornografi sebagai tindakan terabsurd kelompok Islam rupanya musti buru-buru dikoreksi. Kini mereka melakukan tindakan yang lebih tak masuk akal lagi: persekusi. Yakni menyerang pendapat orang dengan kekerasan fisik dan psikis. Terutama pendapat yang bernada kritik pada kelompoknya.

Persekusi merupakan tindakan yang bukan hanya biadab, tetapi juga mengancam hak dasar manusia, berpendapat. Sebuah tindakan yang inkonstitusional tentu saja. Yang lebih bangsat lagi, aksi mereka direkam dan diviralkan seolah itu sebuah tindakan heroik. Belakangan, video anak kecil berinisial M, yang menjadi korban kebejatan mereka bermunculan di berbagai platform media sosial.

Sulit rasanya membayangkan bahwa kekerasan pada anak berusia 15 tahun itu dilakukan oleh kelompok beragama. Terlebih Islam. Jika kita masih manusia saja, pasti kasihan melihat anak diintimidasi dan dibully.
Taruhlah anak itu bersalah, maka yang seharusnya dilakukan sekomplot orang tersebut adalah membimbingnya. Bukan mengancam dan membunuh mental si anak.

Persekusi atau perburuan manusia (untuk diancam, disakiti, atau bahkan ditumpas) yang mereka lakukan tidak hanya sekali. Sebelumnya ada dokter Fiera Lovita, yang diancam hingga meninggalkan trauma pada anaknya. Bahkan menurut data Regional Coordinator Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) setidaknya ada 55 kejadian serupa sejak 27 Januari 2017 saja.

Gerakan anarkis ini, lagi-lagi, mengatasnamakan umat Islam. Mereka membentuk akun Muslim Cyber Army untuk mengkoordinir kesewenang-wenangan yang jamak diketahui jauh dari nilai-nilai Islam tersebut.
Persekusi adalah tindakan yang tidak bisa dibiarkan. Sebab bukan hanya mengancam jiwa manusia tetapi juga mengancam nalar generasi sebuah bangsa. Memangnya apalagi yang bisa diharapkan dari sebuah bangsa yang kehilangan nalarnya?

About The Author

Reply

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Menilik Perjalanan Secangkir Kopi
Sekuler, Akar Istilah dan Perdebatan-perdebatan yang Menyertainya
Memo untuk Washington
Syarat Menikah itu Ada Pasangan, Mblo!
Cara Mudah Move On dari Mantan yang Sudah Kadung Dicintai ala Sigmund Freud
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Memo untuk Washington
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif