Permasalahan Pangan Indonesia

Yang Perlu Dicatat Setelah Hari Pangan Berlalu dengan Kesunyian

17/10/2017 135 0 0

Permasalahan Pangan Indonesia

Panen raya untuk hari pangan yang sepi

Barangkali benar, bahwa sesuatu yang terus menerus terpenuhi, sepenting apapun itu, akan menyusut nilainya. Bahkan terus menyusut hingga seolah ia tak berarti apa-apa. Kesehatan kita misalnya, ia seolah-olah adalah hal yang biasa saja dan baru terasa penting ketika sakit datang menggantikannya. Hal serupa juga barangkali terjadi pada pangan kita.

Pada tanggal 16 Oktober kemarin, kita baru saja memperingati Hari Pangan Sedunia. Sebuah hari yang dipilih sebagai pengingat akan perlawanan pada bencana kelaparan yang kerap melanda berbagai wilayah di dunia ini. Kendati hari ini masih ada beberapa wilayah yang mengalaminya, jumlahnya yang terus menyusut membuat hari pangan kurang terasa nilainya. Karenanya, betapapun kita sangat bergantung pada panganan, hari pangan kita lalui dengan sepi belaka. Kita justru lebih memilih untuk meributkan liburannya Djarot di hari pelantikan Anies-Sandi sebagai gubernur dan wakil gubernur Jakarta.

Ramai mungkin bukanlah ukuran untuk menunjukkan seberapa sesuatu diperjuangkan. Namun sepi jelas menunjukkan bahwa sesuatu tersebut tidak diperhatikan.

Soal pangan, agaknya kita harus bersyukur bahwa negara kita hari ini tak seburuk Venezuela dalam menghadapi krisis pangan. Karena kekacauan ekonomi dan kesalahan Venezuela dalam mengelola sektor pertaniannya, komoditas pangan menjadi amat langka di negara tersebut. Bahkan beberapa hari yang lalu beredar video yang menunjukkan adanya seorang tunawisma di Venezuela mengkonsumsi mentah-mentah daging kucing lantaran sulitnya mendapat makanan.

Dalam sebuah studi lembaga hak anak negara tersebut, terdapat sekitar 2/3—dari rumah tangga yang memiliki anak – tidak memiliki cukup makanan untuk anak-anak mereka. Sehingga sebagian mengambil keputusan ironis dengan menyerahkan anak-anaknya pada keluarga yang lebih mampu agar anaknya dapat makan.

Kondisi berbeda memang terjadi di negara kita. The Economist Intelligence Unit (EIU) mengeluarkan hasil penelitian tentang ketahanan pangan setiap negara di dunia dalam Global Food Sustainability Index. Dalam penelitian tersebut, Indonesia tercatat menduduki posisi 21 dari 133 negara yang diteliti. Dengan peringkat ini berarti Indonesia naik 50 peringkat dari posisi tahun lalu yang hanya ada diperingkat 71. Dibanding negara Asia Tenggara lainnya, Indonesia merupakan yang tertinggi.

Namun kondisi yang demikian, bukan berarti kita berada dalam zona aman untuk ukuran sebuah negara sepadat Indonesia. Saat ini, dari luas negara kita yang seluas 1,9 juta Km2, 18% dari lahan tersebut telah ditanami. Jauh lebih baik, dari Venezuela yang hanya menanami 3% dari luas wilayahnya. Akan tetapi bukan berarti kita bebas ancaman krisis pangan.

Kepadatan Penduduk Indonesia yang tinggi

Di Indonesia, rata-rata kepadatan penduduknya adalah 136 orang per Km2 daratan. Bandingkan dengan Venezuela yang kepadatan penduduknya hanya sekitar 30 orang per km2. Dengan kepadatan penduduk yang tinggi, kerentanan krisis pangan juga makin tinggi.

Laju alih fungsi lahan

Sejalan dengan kepadatan penduduk yang meningkat, laju alih fungsi lahan dari lahan pertanian menjadi lahan non pertanian seperti perumahan, pertokoan, pusat bisnis, hiburan, dan sebagainya juga akan meningkat. Menurut data Ditjen Sarana dan Prasarana Kementerian Pertanian, laju alih fungsi lahan pertanian produktif ke non produktif sekitar 100.000 ha per tahun. Dari luasan tersebut, 80% diantaranya terjadi di Pulau Jawa yang merupakan pusat produksi padi.

Dengan begitu, jika tanpa penanganan yang tepat, kita akan membawa 250 juta penduduk Indonesia pada bencana kelaparan mematikan.

Berkurangnya minat generasi muda pada pertanian

Persoalan mentalitas adalah persoalan yang menjadi permasalahan serius negara kita pasca kemerdekaan. Sekalipun revolusi mental telah dicanangkan dengan membentuk koordinator kementrian baru yang diduduki oleh putri terbaik Indonesia, tetap saja kecenderungan meniru budaya negara lain menjadi persoalan mental bangsa yang kronis. Dorongan mental meniru kebiasaan penduduk negeri lain—yang merepresentasikan penjajah—adalah gejala umum yang dialami oleh bangsa-bangsa terjajah.

Efek samping dari mental meniru itu adalah lunturnya minat kepada sesuatu yang lokal dan dianggap tradisional. Dalam hal ini, sektor pertanian adalah yang terdampak langsung. Anak petani sekalipun memiliki keengganan yang sama besarnya untuk terjun ke dunia pertanian. Selain dianggap kurang menjanjikan secara ekonomi, menjadi petani juga dianggap bukan generasi millenial banget.

Data dari Badan Pusat Statistik, pada 2015 jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian turun menjadi 37,75 juta dari 39,22 juta pada tahun 2013. Selain itu, rata-rata usia petani Indonesia sudah relatif tua, yakni 55% petani saat ini berusia lebih dari 55 tahun.

Rendahnya budaya menanam

Perihal rendahnya budaya menanam, kita tak memerlukan survei rumit untuk meniliknya. Lihat saja, betapa hari ini, ibu-ibu di kampung-kampung sekalipun sudah harus mengantre untuk membeli sayuran pada setiap pagi. Padahal, seyogyanya kondisi kampung, pekarangan dan tanah kosong hampir dimiliki setiap rumah. Namun demikian tak termanfaatkan dengan baik. Di wilayah Baturaden apalagi, boro-boro menanam, sekelompok orang di sana bahkan menebangi pohon di hutan lindung alih-alih menanaminya.

Baca juga artikel tentang pangan dan petani di sini.

Comments

comments

Tags: hari pangan sedunia, krisis pangan, minat remaja pada pertanian, permasalahan pangan di indonesia, persoalan pertanian di indonesia Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
fajar

semacam pemuda, suka kopi, berafiliasi dengan PMII

Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.