Pesan dari Kerinduan

05/05/2018 415 0 0

Menjelang senja, ia mandi, ia mengguyur seluruh celah betis, tengkuk, dan segala lipatan kulit. Ia menyiangi segala titik keringat, mengoles spons dengan sabun, mencuci tubuhnya sendiri. Menggosok sela gigi, menyisihkan rambut di punggung telinga, dentam gayung, air yang berkecipak menemani nyanyian sumbang, lantas mengeringkan badan dengan perlahan. Membelitkan handuk, mengurung tubuh dengan sarung, berselasar sekejap di atas gelaran lantai, ia merapal harap, mengirim sajak-sajak cenayang kepada Rabbi.

Ia lantas berganti busana terbaiknya, menyemburkan cologne secukupnya, mengulas pomade, menautkan gelang, dan memasungkan pengingat waktu di pergelangan.

“Mamah, aku ingin keluar, mencari semilir, ini lepas maghrib, bolehkah?”

“Jangan pulang terlalu larut. Jalanan sedikit padat.”

“Ia mah.”

Ia menyecap sepasang roti yang berisi ruas buku-buku jari dengan sedikit rambut. Membawa peralatan tempurnya, melawan malam yang dingin.

*

Sedikit beringsut, surainya kusut masai, dengan lindap, melangkah nanap, memercikkan air ke seluruh peron wajah, ia merabai air mukanya sendiri. Sembari berjalin, titik-titik air jatuh dengan pelan, ia tak mengusap bulir-bulir surgawi, tergeletak berserak, mengambil kain kurung, mengenakannya dengan kasar, senam rohani usai begitu saja.

“Nduk, ayo makan ….”

“Dingin mah, biar ia memeluk udara saja ….”

Ia mencari-cari sekotak penuh himpunan puisi, memeriksa kumpulan cerita, mencoba bertemu dengan pulpen kesayangnnya, mengambil carikkan kertas, membaca kata-kata yang sumbang, klausa yang enggan terhubung, paragraf yang tak kunjung usai. Ia hendak menulis, tapi apa lacur, ia habis kata.

Ia merapikan kabel-kabel yang kelindan, menusuk stop kontak, daya terhubung. Sambungan internet has been connect(ed)– ia mencoba berdamai. Setelah sabak beserta nampannya menyala, ia mencari cendawan, untuk rasa lindap yang perlahan meluap, sialnya enggan luruh.

Ia bosan dengan DOTS, mendengar Lonely 2ne1 sudah kadung bubar, mencari plot-plot seru Goblin terasa membosankan, berniat membaca webtoon, ia malas men-scroll kursor.

*

Setibanya di muka lobby kafe kecil, ia mengonggokan kendaranya di samping milik para pembawa talam, ia membawa dirinya sendiri ke sudut, beriringan dengan musik latar yang  mengusik, Bizzare Love Triangle dari Frente diperdengarkan dalam alunan yang pas, setelan treble dan bas dari serpih speaker home theater yang dipisah, serpih suasana kangen mengambang.

Ia terpaku di sudut, memunggungi ruang tengah, ia memburaikan bawaannya, sekotak kecil rokok Mild, komputer jinjing, earphone, dan segenggam ponsel pintar.

Seorang waiter membawa daftar menu saji.

“Selamat sore, mau pesan apa mas?” Tanyanya dengan lembut, lengkap dengan dua lapis bibir yang tersungging.

“Cokelat panas dan kentang goreng, masing-masing satu,” tukasnya sedikit malas.

“Mohon ditunggu mas,” timpalnya, sembari undur diri.

Ia percaya akan partikel phenethylamine dalam cokelat, unsur  yang dapat menghasilkan hormon endorphine, cocok untuk dinikmati dengan rokok ringan, ramah di paru dan lambung, bersahabat dengan asam dan melambatkan sinusitis, apalagi panas, semacam upaya menguraikan rasa bingung dengan pelan-pelan.

Seusai menyala, lantas ia memainkan jari-jarinya mengetik huruf-huruf hiragana dalam ejaan Indonesia.

“Haruki Murakami” berbaris di ujung layarnya. Ia menyukai Haruki lantaran bahasa prosanya lembut, bernuansa kemurungan kontemporer, mudah dimengerti namun sulit dimaknai, terselubung kabut misteri, perasaan penasaran yang tumpang tindih dengan realita dalam hidup.

Ia kena sihir oleh Haruki setelah menonton Norwegian Wood, sebuah film ekranisasi dengan judul sama yang meminjam lagu The Beatles.

Ia hendak membaca cerpen On Seeing 100% Perfect Girl One Beatiful April Morning, sembari menenun ingatannya menyoal pertemuannya dengan seorang gadis, pengalaman yang serupa menuntunnya membaca. Secara deskripsi mirip dengan judul tadi, meski bukan pada sebuah pagi, namun pada sepotong sore di bulan April yang baru saja selesai belum genap seminggu lalu. Lengkap dengan bertukar nomor.

Sesekali ia berhenti membaca, memeriksa layar ponselnya, ia bosan dengan lagu Frente, ia membuka Joox, menyusun kata Endah N Rhesa. Ia mencari judul Wish You Were Here.

Bibirnya lamat-lamat turut serta mengeja lirik, tanpa suara.

And I stare at the moon and hope we will meet there

Hope we will meet there? Cause I miss you

I wish you was here

Lalu pikirannya melompat ke lirik sebelumnya.

I always be here waiting for you to come back home

Sebuah penggalan lirik yang paradoks, jiwanya sendiri yang telah menemukan rumah baru.

Jarinya terus bertualang, menuju aplikasi pesan, ia memasuki baris percakapan dengan si gadis, ia hendak mengetik kata-kata, ia ragu, mencoba merangkainya kembali, ia menghapusnya lagi, begitu terus berulang.

Jenuh. Ia menyentuh foto latar yang terpaut di layar, membuka gambar, ujung jarinya ingin memeriksa kening, dan belahan dagu.

*

Dengan malas, ia berjalan menyeret kakinya menuju dapur, derak serak sandal tipis seperti memecah gerimis yang senyap. Ia bukan hendak menyantap makan sore, ia mengambil se-sachet Coco Matchalatte. Ia menyobek dengan lembut, memuntahkan isinya ke dalam mug kesayangannya, menuang air panas dengan perlahan, dicabutnya sebuah sendok, digoreskannya pada buih yang memenuhi permukaan cangkir.

Ia hendak menghibur dirinya sendiri, ia harap minumannya membawa setangkai kebahagiaan, meski lekas layu, setidaknya semerbak aroma teh hijau, menyisihkan rasa rindu yang berjauhan dengan tuannya.

Dengan malas, ia berjalan menyeret kakinya menuju kamarnya, ia menaruh genggamannya pada meja kecil, mengambil ponsel, membuka Spotify, merangkai nama musisi, Endah N Rhesa, mencari judul When You Love Someone. Menyerap lirik, mencecap rasa.

Katup mulutnya mengiringi syair-syair lagu yang memantul di ruang, menggema di cermin, ia menyeka rambutnya ke belakang.

I love you but it is not so easy to make you here with me

I wanna touch and hold you forever

But you are still in my dream

Alunan itu usai, ia memutarnya kembali, ia lantas jengah, jemarinya menggiringnya untuk memeriksa folder berkas film, ia menemukan Before Sunrise.

Seolah film itu menuntunnya mengenang seorang pria yang ditemuinya kemarin. Pertemuan yang terjadi dan selesai dengan cepat, sepenggal malam berlalu, dan menyisakan obrolan yang tertinggal.

Ia mereka ulang, ditemukanya sesimpul di ujung garis tepi bibir, tatapan teduh yang diseduh di tengah aroma pertemuan di sebuah bilangan jalan. Lambaian tangan yang mengisyaratkan pertemuan-pertemuan selanjutnya. Lalu menghabiskan separuh malam berdua saja.

Ia berhenti sejenak, membuka kolom percakapan kepada yang di sana, ia tengah online, mengetik, tapi pesan urung sampai, ia menggeser jemarinya menuju lingkaran potret di pojok, membuka gambar menyeka wajah, mencoba melepas kacamata yang terselusup di telinganya yang maya.

*

Seusai selesai membaca cerpen itu, tangannya gatal, mencari tulisan Haruki yang lain, ia bersua dengan kutipan dari After Dark. Kira-kira begini bunyinya.

Ingatan, juga kenangan milik banyak orang, mungkin seperti bahan bakar yang digunakan untuk tetap bisa hidup. Diperlukan sejauh bisa digunakan untuk menjaga kehidupan. Tak penting apakah kenangan tersebut memiliki arti atau tidak. Semua hanya bahan bakar.

Kenangan yang penting, kenangan yang tidak begitu penting, kenangan yang sama sekali tidak berguna: tak ada beda – semua hanya bahan bakar.

Ia termangu dan melongo, rokoknya teronggok di ceruk asbak dan menjadi pengusir nyamuk. Mencoba mempertanyakan perasaannya sendiri. Ia jengkel, lantas pulang, kabut kemarau malam muda menggerayangi jalannya.

Sementara itu, di sudut kota yang lain si gadis belum usai menonton, retinanya lelah dengan pendar cahaya yang kuat di tengah remang cahaya lampu tidur. Ia merasa pelupuknya diketuk rasa kantuk, ia tidak menyadari teh hijau bisa juga mengundang uap lubang mulut, ia perlahan terlelap, lupa dengan rasa rindunya sendiri.

Seseorang sering berlaku keji, membiarkan rasa kesepian merasakan kehadiran kesepiannya sendiri.

Sementara memasuki bulan Mei, udara malam yang dingin perlahan menidurkan setiap orang.

Comments

comments

Tags: Cerpen, Mei, Rindu Categories: Cerpen, Malem Minggu Esensiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Supri Tok Supri Tok

Laki-laki medioker biasa, peminum kopi sachet dan membeli rokok eceran