Polusi Mencemari Hati UMP

Di UMP, Hari bumi 2016 terasa istimewa. Bukan karena kebaruan konsep yang diusung forum UKM sebagai penyelenggaranya. Melainkan tanggapan kritis, atau malah, kelewat kritis dari civitas akademika UMP.

Sebagai sebuah kampus yang banyak melahirkan intelektual organik tentu hal ini wajar bagi UMP. Padanya memang berjubal mahasiswa-mahasiswi pemikir nan piawai. Tapi soal kritis, UMP tentu beda. Tidaklah hal seremeh-temeh kinerja pemerintah apalagi rektorat yang dikritisi, melainkan car free day dalam peringatan hari bumi.

Sebagai pribadi, saya merasa sangat tercerahkan oleh pemikiran para cerdik-pandai yang bijaksana ini. Berikut adalah catatan-catatan kritis dari generasi ulul albab yang kelak akan masuk surga:

Car Free Day Kegiatan Latah, Ga Substansial

Kenyataanya UMP memang bukanlah tempat pertama dilaksanakannya kegiatan car free day. Jauh sebelum UMP beberapa tempat telah menjadi ikon dari car free day. Sebut saja Dago di Bandung, lapangan sempur di Bogor, atau yang paling terkenal di sekitaran Monas, Jakarta. Ikut melakukan car free day tentu adalah langkah plagiasi yang mencoreng marwah UMP sebagai lembaga pendidikan. UMP tidaklah boleh meniru langkah serupa. Karena car free day biar saja mereka yang melakukan. Kaya ga punya kerjaan aja niru-niru. UMP harus melahirkan sesuatu yang genuine, yang otentik.

Sekali lagi, car free day adalah acara latah. Karena merawat alam, sebagaimana menyolati mayat, adalah hal yang wajib khifayah. Jika sudah dilakukan sama orang lain kita ga perlu lagi melakukannya. Lagian CFD ga substansial. Mestinya car free years, atau car free century biar masuk substansi.

Car Free Day Untuk Orang-orang Tertentu Saja

Car free day kan semacam seremoni untuk acara tertentu, dalam konteks UMP adalah untuk memperingati Hari Bumi. Nah mestinya ini juga berlaku bagi orang-orang tertentu saja dong. Begini padanannya, Milad Muhammadiyah ya hanya untuk anggota Muhammadiyah lah, pun dengan Harlah NU, ya hanya untuk orang-orang NU dong. Nah Hari Bumi juga sama mestinya hanya untuk penduduk bumi. Eh maaf maksudnya hanya untuk aktivis lingkungan saja. Orang lain mah jangan dibikin repot. Kan ga ada kaitanya dengan bumi.

Apalagi yang punya jabatan, punya titel. Tentu bumi juga harus tau diri. Lagian kan bumi memang diciptakan untuk sebanyak-banyaknya kepentingan manusia. Ya tho?

Car Free Day Tapi Ngrokok

“…Percumah memaksa kegiatan car free day jika masih ngrokok…” 

Itu adalah penggalan kritik paling powerfull dan tepat sasaran. Sepertinya penyelenggara acara memang tidak tau apa itu car free day. Artinya kan hari bebas kendaraan kok masih ngrokok? Mestinya penyelenggara itu bisa mikir, ini kan acara bebas kendaraan kok masih ngrokok. Ga tau apa, kalau hari bebas kendaraan itu ga boleh ngrokok!

Rokok itu sangat maut. Ia adalah sumber dari semua kematian. Asap rokok itu sangat berbahaya terlebih dihembuskan oleh jutaan manusia. Bayangkan saja, sekarang ini jumlah perokok pasti lebih banyak dari orang yang menggunakan kendaraan. Pasti. Jika Sampean pernah membaca data dari BPLHD Provinsi Jakarta, asap kendaraan bermotor adalah sumber terbesar yang memberikan kontribusi terhadap polutan udara di Jakarta, yaitu mencapai ± 70%, sedangkan asap rokok hanya memberikan kontribusi 0,01% (dengan asumsi 61,4 juta perokok aktif seluruh Indonesia) itu salah. Lho kok salah? Ya salah. Pokoknya salah!

Di dalam asap rokok itu pasti mengandung zat-zat karsenogenik semacam karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), totalhidro karbon (THC), debu (TSP), oksida-oksida nitrogen (NOx) dan oksida-oksida sulfur (Sox). Dan yang terpenting asap kendaraan ga mengandung itu. Di beberapa merk malah tidak ada asapnya. Baunya wangi pula. Itu pasti asap kendaraa bermerk mahal mengandung perasa buah dan baik bagi tubuh.

Dengan data-data itu kok masih saja ada yang membuat acara car free day. Sudah dikritik masih ngeyel pula. Apa jangan-jangan polusi asap rokok tidak hanya mencemari udara ya? Tapi juga mencemari hati. Huh…

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Permasalahan Pangan Indonesia
Yang Perlu Dicatat Setelah Hari Pangan Berlalu dengan Kesunyian
Albert Camus
Pidato Kebudayaan Nobel Sastra Albert Camus
CPNS
Yang Tidak Bisa Diremehkan dari CPNS
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Terkuaknya Saracen
Terkuaknya Saracen dan Perintah Islam dalam Berhati-hati Menyikapi Berita