Puasa Warteg

Sebagai pengamat berita medioker yang juga kebetulan berstatus mahasiswa muslim tentu saya amat mengenali kedua kata di atas, puasa dan warteg. Sudah mahfum bahwa dalam jagat kemahasiswaan warteg menempati urutan pertama, disusul burjo, sebagai tempat paling sering dikunjungi. Tentu keduanya jauh meninggalkan perpustakaan di urutan buncit yang paling banter kami kunjungi ketika kepepet mengerjakan makalah sahaja.

Warteg memang bukan sembarang tempat makan, lebih dari itu, warteg juga penyelamat banyak mahasiswa perantauan yang kepepet sangu. Dengan penuh percaya warteg kerap menyalurkan kredit nasi pada kami. Ya tentu saja itu semua diberikan tanpa agunan, tanpa survei dan tetek bengek urusan birokrasi perbankan. Maka dari itu, saya, juga pasti kawan-kawan warteg hunter saya, akan bereaksi manakala ada yang mengusik warung suci itu.

Adalah Ibu Saeni dengan wartegnya di Serang sana yang membuat saya sebagai  warteg hunter tergugah. Betapa tidak, Ibu yang belakangan diketahui memiliki banyak hutang ini dipreteli dagangannya kala tetap berjualan di Bulan yang konon penuh berkah, bulan Ramadhan ini. Tak usah menjadi penjaga moral, sebagai manusia saja, kita pasti iba melihat Ibu Saeni menangis kebingungan lantaran dagangan yang baru beliau gelar diangkut paksa POLPP.

Apa yang menjadi alasan POLPP ini sebenarnya soal sederhana saja. Akan tetapi kesederhanaan itu rupanya juga tak mampu dipahami dengan baik oleh satuan polisi pengendali pentungan kita ini. Beralasan menghormati muslim yang sedang menjalani ibadah puasa, Pemda Banten mengeluarkan Perda tentang pelarangan berjualan makanan di bulan Ramadhan pada jam-jam kritis. Alasanya tentu sudah bisa ditebak. Supaya umat muslim tidak kepincut berjamaah melakukan mokah masal.

Sebenarnya dalam Perda tersebut juga dijelaskan bahwa untuk menangani warung yang tetap beroprasi di jam-jam kritis puasa mestilah ditegur dulu, bukan langsung main angkut. Tetapi jujur saya tidak tertarik membahas Perda yang justru menempatkan umat Islam sebagai umat yang cengeng. Umat manja. Oh sampean nda terima? Ya monggo, dibilang gini aja ga trima, dasar cengeng!

Begini, puasa itu bukan hanya soal kita makan atau tidak. Dalam kajian semantik, puasa atau shaum berarti menahan diri. Saya tegaskan, menahan diri bukan menahan warteg untuk buka. Menahan diri dari apa? Ya tentu menahan diri dari nafsu yang kerap menjerumuskan manusia dalam lembah dosa. Nah kalau bicara soal nafsu tentu tidak bisa kita batasi hanya nafsu makan semata. Masuk dalam kategori nafsu juga adalah amarah dan birahi. La kalau puasa nafsu makan tapi tak puasa nafsu lain ya sama saja ngehek.

Lalu sudahkah kita berhasil menahan nafsu? Indikator paling gampang dari terkendalinya nafsu adalah mewujudnya manusia yang welas asih. Manusia yang merasa menderita jika membuat manusia lain menderita. Karena sejatinya bohong belaka jika lapar dan dahaganya puasa hanya mengantarkan kita menjadi menusia angkara, manusia penuh murka. La ini puasa-puasa kok malah membikin orang lain malu, susah, hingga sakit malah.

La kalau bulan puasa warteg tetap buka memang kenapa? Sampean tergiur pengen mokah? Jujur saja dengan sepenuh keyakinan, di seluruh penjuru Serang sana pastilah ada orang non-muslim yang juga masuk kategori warteg hunter macam saya ini. Atau bisa saja ada muslim yang sedang berhalangan puasa sebab suatu alasan, sakit atau datang bulan misalnya. Jadi sempit sekali jika karena puasanya kita, yang meskipun mayoritas ini, mengharuskan semua makhluk di bumi ini puasa.

Lagi pula sekalipun merampas dagangan orang itu baik, maka kebaikan itu harus dilaksanakan dengan cara yang baik pula. Jadi perbuatan baik yang ditegakkan dengan cara tidak baik itu ya jadi  tidak baik pula hasilnya. Sampean bayangin saja, sampean mau nyumbang pembangunan masjid dengan cara merampok daganganya Bu Yanto misalnya, apa ya itu jadi baik sumbangannya?

Ibadah sosial

Puasa sebenarnya juga adalah ibadah sosial. Betapapun sampean berpuasa menahan lapar dahaga tetapi jika perangainya buruk maka menjadilah seperti yang disabdakan Rassulallah SAW. “Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.”

Bulan puasa bagi seorang muslim adalah bulan diklat sosial. Bulan yang membuat orang paling kaya sekalipun harus merasakan perihnya menahan lapar. Puasa juga membuat kita mengerti betapa harta bukanlah pembeda antar manusia. Di sini ketakwaan menjadi lebih bermanfaat dari batu mulia paling mahal. Bagi orang yang memiliki modal taat paling banyak tentu akan gampang saja menahan lapar yang baginya hanya sebentar itu. Tetapi orang dengan harta paling banyak tetap saja akan menderita jika tak memiliki modal taat saat harus menahan perut pelintiran.

Maka pada akhir puasa, sebagai tanggungjawab sosial, kita diwajibkan untuk membayar zakat yang kegunaanya untuk membantu mereka yang kurang mampu. Poinnya disini adalah soal distribusi kekayaan. Agar kelas sosial tak mempengaruhi kenikmatan Ied. Harapanya tentu agar kaya dan miskin sama-sama bisa menikmati hari kemenangan. Jika begitu maka puasa mestilah ditegakkan dengan memperhatikan bangun sosial masyarakat yang heterogen. Jangan main paksa. Puasa juga mestinya membuat kita lebih toleran menghadapi perbedaan. Bukan begitu?

Comments(3)

  1. 12/06/2016
    • 13/06/2016

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Permasalahan Pangan Indonesia
Yang Perlu Dicatat Setelah Hari Pangan Berlalu dengan Kesunyian
Albert Camus
Pidato Kebudayaan Nobel Sastra Albert Camus
CPNS
Yang Tidak Bisa Diremehkan dari CPNS
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Terkuaknya Saracen
Terkuaknya Saracen dan Perintah Islam dalam Berhati-hati Menyikapi Berita