Purbalingga dalam Dilema Sehati atau Perwira

Purbalingga Sehati

Segenap warga Purbalingga, jangan biarkan Jendral Besar turut dilema

Secara administratif memang saya bukanlah warga Purbalingga. Namun saya hampir setiap hari melewati daerah yang menjadi bagian wilayah kabupaten ini. Bebarapa hari kebelakang lini masa geger soal penggantian tagline yang dulunya “Perwira” diubah menjadi “Sehati”.

Guru saya, Stuart Hall, pengajar budaya dari Karibia (melalui sanad keilmuan yang kesekian dari dosen saya), mengajarkan mengenai diskusi fenomena-fenomena budaya yang ada. Menurutnya, berbicara soal budaya adalah soal positioning alias penempatan diri. Tidak cuma soal budaya, hal tersebut juga berlaku pada bagian kehidupan yang lain, bahwa hidup tidak melulu soal hitam putih. Dalam politik misalnya, ini juga soal wilayah kuasa dan kekuasaanya yang muskil dipandang hanya sebagai benar atau salah.

Dalam hal ini, tagline sebuah daerah bisa dimaknai sebagai Politic recognition atau politik pengenalan diri. Ini bukanlah sesuatu hal yang baru, melainkan sudah umum dan marak dipraktekkan. Wujudnya pun bisa beragam, berupa penamaan suatu daerah, slogan, jargon, dan seterusnya.

Kemudian yang patut digarisbawahi apa makna dari politic recognition, makna dari politik ini adalah soal penaklukan ataupun penguasaan suatu ruang publik oleh segelintir individu. Individu di sini bisa berarti perorangan maupun kelompok.

Saya ambilkan contoh yang lain, Ganjar sebagai gubernur punya slogan sendiri “Jateng Gayeng”. Boss Orde Baru, Soeharto, punya mantra sendiri yakni “Pembangunan”. Sementara Presiden sekaligus bakul meubel Joko Widodo menggunakan “Kerja, kerja, kerja” sebagai kredonya. Di belakangnya tak mau ketinggalan, Ibu nasionalis Megawati punya “Gotong Royong”.

Bahkan kepala desa yang matang dalam berpolitik pun akan melakukan hal yang demikian.

Politic of recognition di dalam arti yang lain juga bisa disebut politik pencitraan pada suatu masa pemerintahan. Atau dalam bahasa alaynya pemerintah hendak berlaku narsistik dengan caranya sendiri. Siapa yang duduk ditampuk kekuasaan, dialah yang berkuasa dan punya cara sendiri untuk menunjukan kekuasaanya.

Budayawan, sejarawan, seniman, serta para staff ahli bupati haruslah berbicara soal perubahan tagline ini. Dan kejadian ini tentu bukanlah yang pertama kali, tapi sudah beberapa kali pada rejim terdahulu.

Orang-orang yang saya sebutkan tadi haruslah menawarkan pandangan mencerahkan soal ini. Saya pribadi menganggap apa yang dilakukakan Bupati besutan PDIP itu adalah hal yang lumrah, karena ini memang masa kepemimpinannya. Dan soal perubahan tagline adalah sah-sah saja.

Ada tiga nama yang tidak bisa dijauhkan dari kelindan hubungannya tagline “Purbalingga Perwira”. Mereka adalah bupati terdahulu yang membuat/mengenalkan tagline, Jenderal Bintang Lima yang patungnya dibangun tepat di tengah kota; Raden Soedirman, serta perwira muda yang memiliki kisah hidup dan sejarah kontroversial (kini menjadi nama taman kota kabupatennya sendiri) siapa lagi kalau bukan, Usman Janatin.

Tidak hanya diabadikan menjadi nama taman kota, Usman Janatin juga dijadikan nama untuk kapal perang Republik ini. Lalu, apa yang membuat Usman begitu terkenal?

Usman adalah seorang pahlawan besar bagi bangsa ini tetapi dituduh sebagai pelaku bom oleh Singapura dan sepersemakmurannya. Peristiwa itu membunuh 3 orang dan membuat puluhan lainnya luka-luka. Itu wajar, sebab ia melakukannya pada saat Perang Dingin dalam suhu yang semakin naik. Tepat sebelum Soekarno dengan Orde Lamanya dikudeta oleh mantan penyelundup terbesar asal selatan Jateng pada zamannya, Soeharto.

Amerika, Inggris dan sekutunya tentu menganggap Usman adalah seorang teroris yang harus diganjar atas tindakannya. Sementara pihak Indonesia menganggap bahwa Usman adalah seorang pahlawan yang sangat harum, masih muda membara, pemberani dan luar biasa. Ia diiringi ribuan pelayat saat dikebumikan di Kalibata sana.
Akhir hidup sang Perwira Muda, Usman Janatin, usai di tiang gantungan.

Jadi Usman ini pahlawan atau teroris? Debatable tentu. Tergantung dari pihak mana kita memandang.

Keluarnya keputusan baru dari Bupati Tasdi, mengenai tagline Purbalingga pun demikian, ia tak melulu benar-salah. Jadi soal Sehati diberlakukan di kalangan aparatur sipil negara dan Perwira tetap menyala-nyala di benak masyarakatnya itu tak perlu dibenturkan, ini soal tolak pandang kok.

About The Author

Reply

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Dongeng “Anak Setan” dari Gunung
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga