5 Alasan Kenapa Purbalingga Sehati Harus Kamu Dukung

Purbalingga Sehati

kalo ga bisa sepelaminan, sehati juga boleh.

Purbalingga kini berganti jiwa. Jika selama ini publik mengenal Purbalingga sebagai kota perwira, kini mereka harus menyebut Purbalingga sebagai kota sehati. Sehati dalam hal ini tentu punya banyak makna. Secara legal-formal, sehati merupakan akronim dari sejahtera, harmonis, aman, tertib, dan indah. Sementara secara filosofis, sehati berarti satu hati. One heart. Seiya sekata. Waiya kurang melankolis apa coba Purbalingga ini.

Tanggal peluncuran tagline ini saja dipilihkan tanggal cantik, 17-7-17. Ini bisa dimengerti, karena kita memang baru bisa sehati sama yang cantik-cantik. Eh?

Hanya saja peluncuran tagline baru kota knalpot ini tak mendapat cukup dukungan dari warganet. Mereka menyayangkan penggantian kota perwira menjadi sehati yang terkesan merubah kegagahan menjadi kemenye-menyean. Seketika tagar #SavePerwira pun bermunculan di jagat persosialmediaan warga ngapak. Huh dasar warganet minus romantisme.

Maka atas nama tanggungjawab moral saya, bersama esensiana center, melakukan riset sekaligus pemikiran paling reflektif guna mencari alasan kenapa Purbalingga sehati patut didukung. Ini dia:

5. Menghapus kenangan

Banyak di antara mereka yang menentang tagline baru Purbalingga Sehati sebab masih terpengaruh romantisme masa lalu. Mereka beranggapan bahwa kata perwira menunjukkan sejarah orang Purbalingga yang punya jiwa kejuangan yang tinggi. Selain itu untuk menghormati salah satu pahlawan paling berpengaruh di Indonesia, Jendral Besar Soedirman.

Heh Mas, Mba, dengarkan. (boleh diilustrasikan sambil memegang kedua pundak) Bahwa Purbalingga memiliki sejarah melahirkan para perwira itu iya. Tapi itu dulu. Masa lalu belaka. Move on mas, mba. Life must go on.

Saya tau melupakan masa lalu itu berat. Tapi tetap saja kita harus memandang masa depan. Pelan-pelan lupakan Pubalingga kota para perwira, sambut sejarah baru Purbalingga. Kota para pecinta. Naaaaah.

4. Bukan yang pertama

Warganet pula menanyakan kenapa penggantian Purbalingga perwira menjadi Purbalingga sehati begitu tiba-tiba. Seolah mengabaikan kedekatan emosional warga Purbalingga dengan kata perwira. Ketika ditanya pun Bupati memberikan jawaban muter-muter ala-ala bafering yutub pake waifi alun-alun.

Begini, kenyataanya, Purbalingga sehati sudah diputuskan. Memang berat untuk menerima kenyataan: diputus tanpa kejelasan. Tapi mau bagaimana lagi, gong sudah ditabuh, tumpeng sudah dipotong, selfie sudah diunggahtagline sudah ditetapkan. Lewat Perbub pula.

Maka wahai jiwa-jiwa yang limbung ditinggal (perwira) tanpa alasan, sadarilah mencintai tak harus berupa yang formil-formil. Belajarlah pada D’masive tentang cinta yang tak harus memiliki.

Lagi pula, ini bukan yang pertama kan? Bukankah dulu Perwira juga datang tiba-tiba menggantikan Purbalingga tiban abadi? Sama-sama tanpa punya yurisprudensi. Selain itu yang biasanya paling sulit kan melupakan “cinta” pertama. Kota perwira kan sudah jadi yang keentah berapa. Jadi kamu pasti kuat, lama-lama akan terbiasa. Seng penting yakin rek.

3. Adanya itikad baik pemerintah kabupaten

Jika kita mencermati apa yang disampaikan Bupati Tasdi, yang sama-sama kita cintai itu,  pada acara peluncuran tagline sehati, kita bisa menangkap betapa sinyalmen kuat diberikan Sang Bupati pada  warganya yang papah. Bupati ingin semua warga Pubalingga sejahtera lewat keharmonisan. Sejahtera, sebagaimana bahagia, adalah perkara hati. Jadi tagline Purbalingga sehati amat pas untuk mendukung kebijakan populis tersebut.

Sehati bermakna pula agar warga Pubalingga mau saling menyatukan hati, membangun rumah tanggakabupaten berdaya saing. Kebijakan ini tak main-main, pemerintah kabupaten telah menggelontorkan milyaran rupiah untuk pembangunan sejumlah taman di kabupaten tersebut. Di negeri yang berhasil tidaknya pemimpin diukur menggunakan pendekatan infrastruktur ini pembangunan taman menjadi begitu penting.

Dengan taman, warga Pubalingga bisa saling berinteraksi. Tentu agar makin sehati. Uuuuhhh anak muda, tidakkah kau lihat betapa bupatimu begitu memperhatikan nasib rakyatnya? Tak terkecuali jomblo yang lemah. Sebentar jangan langsung tersinggung dulu, ini bukan tuduhan main-main, pada Oktober 2016 lalu WHO menetapkan jomblo sebagai salah satu kaum disabilitas.

2. Sehati warganya maju kotanya

Tak ada apapun yang pantas diperjuangkan kecuali yang sehati. Maksudnya kita menaruh hati untuknya. Maka Purbalingga adalah kota pertama di Indonesia yang serius menerjemahkan kalimat itu dalam sebuah regulasi resmi.

Harapannya tentu saja, warga Purbalingga untuk tetap sehati. One hearth. Agar kota lain tak semakin di depan. Mantabs.

1. Bupatinya bukan kamu

Yang ini masih butuh penjelasan? (kriik kriiik kriiik)

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga