Penyusup dalam Gerakan Purwokerto Kota Koperasi 2022

Foto di atas bagi saya cukup unik. Perempuan berkaos merah dengan sablon “Purwokerto Kota Koperasi 2022” dan lelaki berkaos hitam bersablon “capitalism” adalah paradoks paling nyata abad ini. Jadi kesannya seperti aktivis kapitalis dan sosialis sedang revolusirekonsiliasi. Oke, kita bisa mengabaikan sebentar Bapak staf khusus menteri koperasi yang menengahi keduanya. Saya sih berharap di balik  meja itu tidak tersimpan palu arit, sebagai senjata dalam perebutan alat produksi antar keduanya. Kalau ada kan bisa berabe.

Tapi saya tidak akan mengulas dua ideologi yang mirip Tom and Jerry itu (baca: tidak bisa akur). Bosen! Saya akan berkonsetrasi mengomentari foto yang diambil saat Kopdar  “Purwokerto Kota Koperasi 2022” itu saja, sebuah project ambisius dari Purwokerto. Rencananya kami—di purwokerto—mau bikin co-operative city gitu, macam Rochdale di Inggris sana.

Perlu diketahui Mba yang cantik dan tinggi itu bukan  model yang dibayar untuk meng-endorse project Purwokerto Kota Koperasi. Namanya Novita Puspasari, dosen Unsoed sekaligus aktivis koperasi. Ndak usah melotot gitu, biasa wae. Cewek cakep jadi aktivis koperasi di Purwokerto sudah biasa. Emangnya di kotamu!

Sementara bapak paruh baya itu namanya Arsyad Dalimunte. Aktivis koperasi dengan Fortofolio karya  yang buaanyak sekali. Beliau adalah pendiri Kopkun, Boersa Kampus, GM KPRI Margono, Dirut Persibas Banyumas, Ketua Dekopinda Banyumas, penasihat FKMMI, pengawas Kopindo dan apalagi, Pak? Banyak banget, je.

Ironisnya, Bapak yang selama ini dikenal sebagai penjaga nilai-nilai koperasi itu justru tampak sumringah dengan tulisan kapitalisme yang menempel di tubuhnya. Adakah ini pengukuhan “kemurtadan” ideologis?

Memakai kaos “capitalism” ditengah kerumunan aktivis koperasi itu  sama dengan pakai kaos palu arit pada kopdar kopasus. Bila tidak di“hilangkan” minimal bonyoklah digebukin atas dasar: mengganggu stabilitas nasional. Tapi untungnya Kopdar hari itu bukan Kopdar paramiliter. Jadi si Bapak—sungguhpun telah menistakan peserta kopdar aman-aman saja.

Peserta Kopdar barangkali hanya bertanya-tanya, temasuk saya. Masa seorang Arsyad Dalimunte, orang dengan rekam jejak panjang di koperasi pindah haluan jadi kapitalis sih? Ah, tidak mungkin, memangnya aktivis sekelas Koperasi Mahasiswa? hehe.

Sayangnya saya belum sempat memuaskan rasa ingin tahu itu dengan bertanya apa motif beliau pakai kaos semacam itu. Tapi kalau ternyata benar pindah haluan, duh Pak sayang sekali. Sekarang dibawah kepemimpinan Nurdin Halid, gerakan koperasi sedang mencapai masa keemasan. Persis seperti Majapahit di zaman patih Gaj Ahmada tempo dulu.

Buktinya di 70 tahun  usia gerakan, sumbangsih koperasi sudah mencapai 17 % pada  PBD per tahun, eh salah cuma 1,7 % ding. Nah baru 70 tahun saja sudah sebagus itu, apalagi 1000 tahun yang akan datang?

Hmmm…coba deh Pak di pikir-pikir lagi, jangan gegabah gitu.

Saat ini toko swalayan koperasi dikelola secara serius, modern dan profesional. Manager dan karyawan dibayar layak, bahkan ada yang melampaui Upah Minimum Regional (UMR). THR-nya aja, kalau cukup mau, bisa buat beli Mcbook sama iPhone seri teranyar. Masyaallah, koperasi baik sekali kan ya.

Coba bandingin sama swalayan korporasi. Sudah dikelola sebagai sambenan, kasirnya sok akrab dan karyawannya  paling banter dibayar UMR. Dari segi pelayanan, harga produk di rak sama di barcode sering beda, bikin kecewa pelanggan aja. Masak ngrusin harga aja gak bisa, ndeso!.

Bahkan konon, Sevel itu bangkrut karena tidak mampu bersaing dengan koperasi. Soalnya koperasi itu kan soko guru ekonomi, jadi didukung total sama  rezim bapaknya Kaesang yang pro rakyat kecil itu. Buktinya ada Kementerian Koperasi. Memangnya kamu pernah dengar Kementrian Korporasi, ha?

Ini membuktikan pemerintah bersama Om Nurdin Halid  bersungguh-sungguh membangun ekonomi kerakyatan. Yakinlah, tidak lama lagi Communism eh Cooperatives will win.

Dalam sektor keuangan, koperasi Simpan-Pinjam (KSP) misalnya, kinerjanya sudah melampaui bank konvensional. Dengan strategi marketing nempel stiker di tiang listrik, berdempetan sama stiker sedot WC, puji Tuhan, hasilnya begitu memuaskan. Pernah lihat stiker yang isinya “butuh dana segar? serahkan BPKB kendaraan anda”, kan? Yak tul, itu dia.

Dari kacamata pemasaran, itu adalah strategi marketing yang lebih hegemonik ketimbang mars partainya Oom Hari Tanoe. Dengan menempel stiker di tiang listrik, secara psikologis koperasi akan dekat dengan keseharian masyarakat. Misal mau bayar listrik ingat Koperasi, pas kesetrum ingat koperasi, lagi buang hajat di WC ingat koperasi. Heibat bukan?

Bayangkan  betapa dahsyat efek marketing semacam itu, dimana  koperasi menghegemoni sampai kamar mandi. Dengan strategi marketing, yang bahkan Philip Kotler saja tidak kepikiran, saya hakhul yakin bank-bank plecit dan konvensional nan ribawi itu secara perlahan akan gulung tikar.

Keberhasilan koperasi disektor riil dan simpan pinjam itu bukan karena faktor kultural semata. Kita jangan melupakan kerja keras para birokrat dan aktipis papan atas yang berkerja pada level elit. Dengan kemampaun menggunakan  koperasi sebagai alat politik dengan efektif dan efisien, mereka mampu membuat event-event seremonial berskala nasional. Contoh termutakhir, perayaan hari koperasi nasional diadakan di Makassar. Jauh banget ya, kenapa enggak di Purwokerto aja sih.

Perjuangan para birokrat elit itu tentu sumber suri tauladan dan inspirasi bagi aktipis junior koperasi di kampus. Contohnya aktipis koperasi mahasiswa (kopma) yang makin rajin bikin seminar, mengundang tokoh besar. Mereka meyakini, revolusi juga bisa dimulai dari ruang seminar dengan blocknote bukan hanya dengan moncong bedil. Revolusi juga tidak perlu menumpahkan darah, cukup menumpahkan gelas Aqua saja.

Soo… di tengah koperasi yang sedang maju-majunya plus aktipis  muda yang sedang progresif-progresifnya, yakin nih pak Arsyad mau pindah haluan? Jangan nyesel loh kalau nanti tidak menjadi bagian dari sedjarah kemenangan koperasi. Tapi kalau Bapak maksa-maksa mau pindah juga enggak apa-apa sih pak. Kami akan tetap mendoakan yang terbaik buat Bapak.

Eh by the way, kalo diliat-liat kaos “capitalism” boleh uga tu pak. Bagi dong satu? Heuheu

***

Duh hampir lupa nih, ngucapin selamat  hari koperasi untuk Bapak Nurdin Halid. Semoga rencana jadi gubernur terlaksana nggih pak. Kalau butuh tim sukses Wasap aja ya. Jangan sungkan, kayak sama siapa aja.

Penulis: Aef N. Setiawan, Anak desa kesayangan Tuhan.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga