Konsumerisme : Purwokerto Menyongsong Era Kapital

Berdiri megah tepat di depan gedung pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas, sebuah gedung dengan tinggi 18 lantai mencakar langit kota Purwokerto. Gedung yang merupakan pusat dan perbelanjaan dan hotel ini, menjadi satu ikon baru kota. Diresmikan bulan Desember kemarin, menjadi penanda bahwa Purwokerto hari ini telah memasuki babak baru pergulatan dalam hal ekonomi.

Sejak bupati periode 2013/2018 Banyumas membuka diri terhadap investasi swasta, hal ini berdampak baik pada pekembangan pembangunan dari segi infrastruktur dan perindustrian di Kabupaten Banyumas. Terlihat dari “maraknya” pembukaan unit – unit usaha oleh pemodal, seperti pabrik semen di Ajibarang sampai yang terbaru berdirinya Rita super Mall Purwokerto.

Masuknya investasi berdampak baik pada beberapa sektor, diantaranya bertambah kencangnya perputaran uang, juga dengan pembangunan kolom – kolom industri. Pembangunan infrastruktur perkotaan terlihat dengan dibangunnya dan di perindahnya pusat – pusat rekreasi seperti alun – alun dan taman.

Namun seperti  umum kita ketahui, di mana ada pembangunan di situ ada rakyat yang tergusur. Seperti rumus wajib yang harus dinikmati oleh rakyat. Pun demikian dengan perkembangan dan pembangunan sektor ekonomi berbasis kapital ini.

Dapat dilihat bahwa berdirinya pusat perbelanjaan yang ada di pusat pemerintahan Banyumas ini sedikit demi sedikit menyingkirkan para pelaku usaha mikro. Karena jika diukur dari sudut konsumen, tentu akan lebih memilih bertransaksi di tempat yang nyaman dan lebih bersih , ketimbang pasar tradisional.

Pengeluaran  rata-rata  per  kapita sebulan penduduk Kabupaten Banyumas adalah sebesar 719.753 rupiah. Sebesar    321.627    rupiah    atau    44,69    persen    dari pengeluaran  digunakan  untuk  kebutuhan  makanan  dan  sisanya sebesar  398.126  rupiah  atau  55,31  persen  digunakan  untuk kebutuhan bukan makanan (BPS Kabupaten Banyumas 2015).

Sepertinya pemerintah harus lebih jeli lagi melihat dampak yang akan di timbulkan dari berdirinya pusat – pusat kerajaan kapital di kota Purwokerto serta tidak meninggalkan sudut pandang dari kalangan menengah kebawah yang justru akan tercekik. Apa lagi jika melihat potensi masyarakat Banyumas yang kebanyakan masih kelas menengah ke bawah. Jelaslah jika konsumerisme tidak bisa dihindarkan.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga