Cerita di Balik Secangkir Kopi

“ Baik temen-temen, kita awali pertemuan ini dengan menyampaikan tujuan kenapa saya mengajak temen-temen datang kemari” ucap Mas Miftah mengawali pembicaraan saat acara ngopi bareng endoskopi dan esensiana.com digelar. Sejurus kemudian Mas Miftah melanjutkan ceritanya, yang tak jarang, membikin para hadir mengrenyitkan dahi. Istilah-istilah yang muncul bahkan membuat Kakanda Aef nylethuk; Fiks, ngopi yang bener itu membutuhkan syarat kecerdasan tertentu. Sontak senyum peserta mengembang mendengar kalimat itu.

Mas Miftah adalah owner endoskopi. Saben sore dia telaten meladeni para konsumen. Mulai dari membuka kedainya hingga memberesinya kembali dilakukan pria ramah yang juga juga tercatat sebagai tenaga medis ini. Ia tekun menjalani rutinitas itu. Sebuah bisnis yang juga merupakan sebuah hobi; meracik kopi.

Dalam acara yang berlangsung santai di pelataran gedung PLUT tersebut beberapa mahasiswa penghamba gratisan hadir. Dian, Alif, Esti, dan tentu saja, Ardo adalah sederet nama-nama mentereng mahasiswa UMP yang hadir di sana. Saya jelas hadir.

rahasia minum kopi

Reportase Esensiana dengan endoskopi purwokerto

Alif dan Dian adalah jurnalis kampus yang tergabung dalam LPM Bhaskara. Dian malah merangkap sebagai Gubernur BEM. Esti adalah aktivis kampus yang sedang naik daun. Sedangkan Aef adalah aktivis yang mendaku diri sebagai kaum kiri paruh waktu. Ia menggelari dirinya dengan titel Prol.–kependekan dari proletar, sebuah istilah untuk masyarakat kelas bawah–di depan namanya. Sementara Ardo, adalah aktivis koperasi mahasiswa yang menyetarakan lagu-lagunya Noah serupa doa. Dia membuka dan menutup hari dengan lagu itu. Warbyasah.

Mas Miftah melanjutkan ceritanya dengan terlebih dahulu menawari kami hadiah. “Saya punya hadiah untuk temen-temen” ungkapnya. Tangan kekarnya kemudian merogoh saku dan digenggamnya tiga sachet kopi instan. “Siapa yang suka minum kopi ini?” tanya Mas Miftah yang disambut pengakuan dari para peserta. Mas Miftah kemudian menceritakan betapa kopi instan telah membodohi peminum kopi tanah air.

“Kopi yang kalian minum, itu bukan kopi sungguhan. Ia adalah tepung jagung yang diberi ekstrak kopi dan krimer” ungkap Mas Miftah antusias. “Kalau tidak percaya kita lihat komposisi yang tertera di bungkusnya. Atau kita seduh dengan air dingin, ia tidak akan blended sama air” ujar Mas Miftah melanjutkan. Pada saat dijelaskan seperti itu, Ardo terlihat nyengir menyeringai, menyadari selama ini ia bangga meminum tepung yang diyakininya sebagai kopi.

Saat ini, menurut Mas Miftah, cara meminum kopi orang Indonesia telah mulai memasuki era third wave. Di era Third Wave ini, kata Mas Miftah, orang meminum kopi bukan hanya soal rasa enak, tetapi juga soal apresiasi seluruh proses sampai terhidangnya secangkir kopi. Maka meminum kopi murni yang bahkan tanpa gula adalah caranya.

“Pada era Firts wave orang meminum kopi ya asal minum. Kaya kita minum air putih. Kemudian muncul era second wave dimana orang mulai melakukan improvisasi terhadap kopi dengan menambahkan gula, susu, dan sebagainya. Nah era third wave ini muncul untuk mengcounter itu semua.” Urai Mas Miftah panjang.

Rahasia Minum Kopi.

Menurutnya, cara meminum kopi era third wave ini lebih otentik dan menyehatkan. “ Yang selama ini bikin kembung atau asam itu krimer dan bahan lain yang ditambahkan pada kopi. Kopinya sendiri, kalau diseduh dengan benar, menyehatkan.” Ungkap Mas Miftah. Meski Mas Miftah juga tak menampik jika kebanyakan minum kopi tentu tak baik. Ah jangankan minum kopi, makan nasi juga kalau kebanyakan tidak baik. Pokoknya segala sesuatu yang kebanyakan itu tak baik. Termasuk rindu.

Namun Mas Miftah punya caranya untuk menetralisir efek kopi. “ Setiap meminum satu gelas kopi, mestinya kita mengimbanginya dengan segelas air putih” saran Mas Miftah.

Yang menarik, di kedai endoskopi miliknya itu, pengunjung bisa bertanya apapun tentang kopi yang dipesannya. Mulai dari cara membuat hingga asal muasalnya. Hebatnya lagi, Mas Miftah bisa menerangkan dengan rinci silsilah berbagai kopi yang ada di kedainya. Ini membuatku cemburu sebagai mahasiswa pertanian. Jangankan silsilah banyak kopi, silsilah keluarga sendiri saja saya tak hapal betul.

Apa mas tidak takut disaingi kalau dibeberkan gini? Tanya Ardo heran. “Selain bisnis, kita punya kepentingan edukasi ke masyarakat. Kita ingin orang meminum kopi tidak hanya menikmati kopinya. Tetapi juga proses di balik kopi ini”. Belum sempat Ardo menimpali, Mas Miftah melanjutkan lagi “Petani itu punya peran penting. Mereka memengaruhi 60% kenikmatan rasa kopi. Proses roasting mempengaruhi 30% dan kita yang menyajikan hanya punya pengaruh 10% terhadap kenikmatan kopi” Bebernya .

Ia ingin petani dihargai dan dilindungi. Terutama dari para produsen kopi instan yang seringkali memperlakukan petani kopi murni sebatas faktor produksi. Kopi dari para petani ini diproses dan disortasi. Yang bagus untuk eksport yang jelek untuk konsumsi dalam negeri. Kiranya kalimat “Jadi selama ini kita ditipu kapitalis, disuruh minum jagung seduh, sementara kopi kita yang nikmat mereka yang minum” yang muncul dari Ardo sebagai bentuk pertaubatannya mestinya juga mewakili keinsafan kita.

Rupanya ngopi gaya third wave ini tak sebatas memperlakukan kopi sebagai minuman stimulus inspirasi, melainkan juga tentang perlawanan pada kapitalisasi.

Acara kemudian dilanjutkan dengan ngopi gratis persembahan endoskopi yang dibuat oleh para peserta sendiri. Tentu dengan bimbingan ahli. Sebagai anak sastra, Aef paling kikuk dengan berbagai instrumen pembuat kopi di kedai itu. “Lebih mirip lab kimia ketimbang kedai kopi ini” gumamnya.

Di situ memang terdapat benda-benda khas lab seperti thermometer, kertas saring, timbangan analitik, hingga teko leher angsa. Mendidihkan airnya pun harus terukur, 80oC. Tapi semua keribetan itu terbayar oleh kopi yang tersaji. Aromanya yang kuat, dan sllrrruuuuuurrps ah.. sedap betul.

Rahasia minum kopi – Reportase Esensiana

Comments(3)

  1. 21/12/2016
    • 21/12/2016
  2. 21/12/2016

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga