Rakyat Jelata di Pasar Politik

30/01/2018 87 0 0

Bapak punya dua kaos bersablon foto paslon sisa pemilihan gubernur Kal-teng semalam. Saya tidak bertanya bapak memilih siapa dari dua pasangan yang ada. Tapi dua kaos itu sering ia pakai, sampai tampak lusuh. Pertanda bapak bukan simpatisan fanatik salah satu paslon. Tidak anti-antian, apalagi sampai kubu-kubuan seperti Cebong dan Kampret.

Setiap pemilu, entah itu pilgub atau pilkada, desa saya selalu banjir kaos, kalender, dan stiker setiap paslon. Bahkan sebenarnya bapak sampai dapat empat kaos, dua dipakai, dua lagi jadi keset. Sebuah kalender menempel di dinding. Begitu juga dengan stiker masih menempel di daun pintu. Termasuk pintu kandang kambing. Ya, mungkin bapak bingung nempel di mana lagi saking banyaknya.

Desa saya adalah sebuah desa transmigran di Kabupaten Kapuas. Mayoritas orang sini adalah buruh perkebunan sawit dan jumlahnya tidak terlalu banyak. Meskipun begitu, suara mereka tetap penting dalam proses demokrasi elektoral. Terlebih, sepanjang pengalaman saya, penduduk di sini bukan tipe yang malas datang ke tempat pemungutan suara.

Dalam pasar perpolitik di tanah air, rakyat jelata adalah segmen yang paling menentukan dalam proses meraih kekuasaan. Para spekulan politik menggunakan beragam cara untuk membeli, eh mendulang suara. Bagi-bagi kaos berkualitas butut dan kalender hanyalah bagian kecil dari banyak cara.

Kalau di desa saya strategi bagi-bagi kaos atau plus spanduk mungkin sudah cukup. Tapi di tempat lain, terutama Jawa, kaos paslon bisa langsung jadi keset. Ongkos politik jauh lebih mahal juga strategi politik yang nggatheli. Bahkan saat Pilgub DKI semalam, saya sempat bertengkar dengan teman sekelas hanya karena beda pilihan paslon. Ah, itulah bangsatnya politik.

Selain alat untuk mendapat kekuasaan, rakyat jelata juga bisa dipakai untuk mempertahankan kekuasaan. Calon bupati petahana di sini misalnya, membuka kesempatan bagi masyarakat yang bercita-cita ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan sistem kontrak. Ratusan orang bisa menjadi guru dengan mudahnya, meskipun tanpa kapasitas mengajar sama sekali. Sebuah kebijakan populis semu sekaligus norak.

Jika ia gagal terpilih kembali jadi bupati, tidak ada yang tahu bagaimana nasib kebijakan yang tak mendidik ini. Ya, disaat pemimpin di belahan dunia lain menganjurkan anak muda bercita-cita jadi pengusaha, sementara di sini anak muda disemangati untuk jadi PNS. Tapi jika itu pilihan ninja sang petahana, saya tetap menghormati.

Langgam dengan bau populis lain misalnya kebijakan gubernur Jakarta, Anis Baswedan, yang mengembalikan becak ke jalanan Jakarta. Konon, mereka akan dilatih cara menggenjot yang baik serta menjadi mitra pecinta sepeda. Atau siapa tau diproyeksikan jadi pelatih balap sepeda untuk pelatihan nasional Seagames. Siapa tau kan?Ingat lho, Ini baru 100 hari mereka bekerja, bayangkan jika sudah 5 tahun. Mungkin dokar, andong, si Pitung bahkan kompeni akan kembali lalu-lalang di jalanan Jakarta.

Kita tidak tahu persis bagaimana rencana untuk tukang becak itu. Siapa tau nanti muncul inovasi Becak Online (Beol). Sehingga warga Jakarta makin bahagia karena punya pilihan transportasi murah selain Ojek Online (Ojol). Bayangkan betapa bahagianya jika ada Beol dan Ojol. Kita bisa Beol dimana saja, apalagi beolnya dijamin negara. Sebuah kebebasan yang haaaaqqq.

Tapi politisi di mana-mana memang sama, ia selalu membangun jembatan sekal ipun tak ada sungai di bawahnya. Karena tidak penting yang dibangun punya sisi manfaat atau tidak, yang penting tampak megah dan menarik perhatian rakyat jelata agar tetap mendukung dan memilihnya.

Kita tentu punya beberapa (untuk tidak menyebut banyak) para politisi yang benar-benar membangun jembatan di atas sungai. Tapi selebihnya, kita hanya menyaksikan politisi yang membangun jembatan bukan sebagai alat penyebrangan, tapi hanya tempat berteduh bagi pemilihnya yang papa.

Comments

comments

Tags: Anies baswedan, Becak, Kebijakan Politik, politik Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.