Ramalan Valentine Bersama Dilan-Dilan Suatu Kaum

08/02/2018 74 0 0

Memasuki Minggu kedua di bulan Februari masih belum ada keriuhan fanpage dan akun media sosial syar’i yang berorasi tentang haramnya merayakan hari valentine, biasanya akan mencantumkan pula hadits man tasyabbaha bi qaumin fa huwa min hum. Artinya, barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia akan digolongkan sebagai kaum tersebut (HR. Abu Daud). Saya senang dan bingung, atau mungkin si admin masih belum move on dari upaya pen-syar’i-an kutipan film Dilan seperti, “Katakan pada Dilan, yang berat itu bukan rindu. Tapi istiqomah sholat lima waktu”.

Entah kita sebut apa itu, bentuk kreatifitas untuk meningkatkan jumlah followers atau penyeragaman wacana dari sudut pandang agama. Namun bagi saya, akan betapa keringnya dunia sastra jika semua harus di-syar’i-kan. Lalu, jika hegemoni Dilan dipadukan dengan larangan perayaan valentine, kurang lebih kalimatnya akan seperti ini, “Katakan pada Dilan, yang berat itu bukan rindu. Tapi menanggung dosa merayakan hari valentine, berat, kamu nggak akan kuat”.

Lain lagi jika kita mengintip fanpage dan akun dengan tema bisnis. Akan terasa kental aroma kapitalisasi valentine berupa penawaran paket produk–produk bertemakan cinta berhiaskan bentuk hati berwarna merah jambu. Coklat, boneka, bunga, atau sekedar kartu ucapan. Dari sisi industri kreatif, hal ini patut diapresiasi karena memanfaatkan momentum adalah salah satu upaya untuk menaikkan angka penjualan. Tapi, jika engkau menjadi konsumen dengan pola manajemen keuangan yang ketat, maka engkau akan bilang ini adalah provokasi untuk melakukan tindak pemborosan.

Lalu ada juga akun yang siap menghibur dengan meme–meme lucu, khusus buat para jomblowan jomblowati. Kalimatnya begini nih, “Jangan bilang sama para jomblo kalau kalian mau ngerayain hari valentine. Karena nanti, besoknya dia akan hilang”. Atau kalau buat jomblo yang anak remaja masjid  bilangnya, “Haram hukumnya jomblo mengucapkan hari valentine, karena dapat menyebabkan baper”. Yang pasti, semakin kreatif meme itu akan menunjukkan tingkat kejombloannya, karena dia akan lebih sibuk bikin meme daripada bikin surprise buat pacar. Benar?

Begitulah kiranya contoh hasil kreatifitas individu dalam menanggapi sebuah momentum hari valentine. Sedikit saja menggeser cara pandang dan sudut pandang, maka hasil penerimaanya akan berbeda. Dan perbedaan itulah yang membuat hidup di dunia menjadi menarik dan dinamis. Maka diperlukanlah kelapangan dada untuk menikmati daya imajinasi yang berlalu lalang di sekitar kita. Karena penerimaan dirimu terhadap perbedaan orang lain adalah bentuk dari cinta.

Yang pasti mencintai itu adalah lebih baik daripada membenci, maka bukan tanpa alasan sifat Rahman (Maha Pengasih) dan Rahim (Maha Penyayang) menjadi tagline yang selalu mengiringi nama Tuhan dan menjadi anjuran untuk diucapkan dalam permulaan aktifitasmu. Karena agar kita meresapi bahwa kasih sayang Tuhan adalah di atas segalanya dan diharapkan aktifitas kita di dunia menjadi representasi dari sifat Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Maha Cinta.

Karena atas nama cinta, matahari menyinari bumi, bumi menumbuhkan pepohonan dan kicau burung menghiasi dedaunan. Tatkala cinta meniupkan semilir angin dan membawa deburan ombak ke tepi pantai, cinta pula yang menciptakan ruang, jarak, dan waktu agar manusia bisa menikmati perjumpaan dan menyimpan kenangan di balik perpisahan. Betapa cinta menyelinap di antara aroma kopi yang engkau nikmati di bawah tetesan hujan, berdansa menyemai rindu atas perjumpaan. Dan atas nama cinta, maka dua hati tetap menanti walau sejauh putaran bumi.

Comments

comments

Tags: Dilan, Quote, Syari, Valentine Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.