Rayuan dan Distorsi Seksualitas Populer

27/01/2018 190 0 0

Tak ada yang benar-benar terbebas dari rayuan. Orang terdekat sekalipun menawarkan bujuk rayu. Ayo pakai kerudung biar cantik, misalnya. Belum lagi mengenai wacana ikhtiar mencari pasangan yang harus memenuhi kualifikasi bibit, bebet, dan bobot di mana standarnya disepakati mayoritas agar mendapatkan pasangan berkualitas lalu hidup bahagia.

Keindahan dan kebahagiaan kemudian dikomodifikasi di ranah perekonomian. Masyarakat masih belum bisa terlepas dengan segala bentuk pujian dan bertahan hidup dengan beragam pencapaian yang terkadang standarnya didasarkan pada orang lain. Maka ekonomi libido, mengambil istilah yang diperkenalkan oleh Jean Francois Lyotard, terus berkembang. Berbagai iklan ditayangkan di segala lini media; cetak, elektronik, dan juga media baru, internet, untuk memperoleh keuntungan. Ditawarkan segala cara agar keindahan dan kebahagiaan bisa memuaskan diri dan membebaskan nafsu dengan suguhan ungkapan-ungkapan persuasif.

Jacques Lacan menyampaikan bahwa manusia memiliki konsep kebutuhan (need) dan konsep nafsu (desire). Kebutuhan didapatkan secara alami sebagai makhluk hidup. Minum, misalnya. Nafsu yang dibicarakan Lacan mengenai dorongan yang berhubungan dengan psikis seseorang, seperti keinginan seksual. Inilah yang kemudian dimanfaat beberapa kalangan.

Iklan-iklan secara terus menerus menawarkan berbagai produk dengan manusia-manusia yang berpenampilan rupawan. Membentuk objek citraan yang kemudian disepakati masyarakat sebagai visual terbaik yang harus dicapai; putih, tinggi, hidung mancung, langsing dan kesempurnaan rupa lain dari perempuan yang diciptakan melalui media massa.

Orang-orang segera berbondong-bondong untuk tampil sesuai dengan citraan yang dibangun media. Membeli seperangkat make up. Melakukan operasi plastik. Membeli baju mewah. Menggunakan body lotion dan minyak wangi. Kebutuhan-kebutuhan yang terkadang sifatnya sekunder kemudian diprioritaskan untuk mengukuhkan gengsi. Lain lagi dengan kelamin laki-laki, di wilayah pedesaan bahkan memicu pilihan, kamu mau sekolah atau beli motor. Dua hal yang nilainya cukup berpengaruh mengingat tayangan yang menjamur di media massa lebih menunjukan harta yang dimiliki setara dengan kebahagiaan. Soal fenomena ini, Via Vallen memotretnya dalam lirik yang epic “nek ra ninja, ra oleh dicinta.”

Masyarakat pada mulanya sebagai cerminan media, kini lebih menjadi tiruannya. Sajian yang disiarkan secara terus menerus, lama-lama mengakar dan mengikis nilai-nilai lama; kesederhanaan dan welas asih. Tumbuh nilai-nilai baru yang lebih menguntungkan pemilik modal karena memicu perilaku konsumtif bahkan di kalangan proletar.

Pergerakan media massa terutama new media pun begitu cepat, diiringi pula dengan beragamnya produk yang dijual secara online. Siapa saja bisa memesan dan jika transaksi sudah disepakati barang atau jasa siap diantarkan. Pembeli tinggal menunggu pesanan datang sambil ngopi-ngopi asyik.

Keberagaman produk yang ditawarkan kini sudah menggantikan fungsi manusia dalam memenuhi libido seseorang. Sex toys, sex doll, misalnya. Entah harus memberi selamat atau tidak, produk ini juga bisa mengurangi kesempatan perilaku seksual yang tidak pada tempatnya.

Tidak mau kalah, beragam produk dan jasa pun mulai menawarkan vitalitas organ seksual untuk meningkatkan gairah yang dipercaya dapat membuat pasangan semakin sayang dan bahagia. Tentu saja, itu kata para pengiklannya. Bahkan paling baru, ada operasi pemutihan kelamin bagi pria. Apakah perlu kulit yang berwarna sawo matang–membusuk ini harus mengekslusifkan warna kelamin supaya seperti orang-orang londo?

Comments

comments

Tags: Bujuk Rayu, Iklan, media, New Media, Seksualitas Categories: Malem Minggu Esensiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Aifiatu Azaza Rahmah

Bersenang-senang di sekolah. Main dengan tulisan.

Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.