Soal Revolusi Seharusnya Islamlah yang Paling Jago

Revolusi dan Islam

ilustrasi perjuangan Islam (sumber esensiana.com)

Seperti yang kita ketahui bersama, ajaran Islam sudah ada semenjak Nabi Adam diturunkan. Sedangkan Rasulullah Saw hanya melengkapi dan menyempurnakan ajaran-ajaran sebelumnya. Namun bila berkaca pada umat Islam hari ini sepertinya ada suatu hal yang aneh. Islam hanya banyak membahas persoalan yang sifatnya Ritual dan Individual semata, alih-alih persoalan sosial dan persoalan esensial sebagaimana inti ajarannya.

Misalnya, betapa marak kini kisah percintaan dibalut Islam, membahas soal perjodohan, pernikahan, dan ujung-ujungnya bikin baper di kalangan kaum muda Islam. Sementara sisanya membahas persoalan yang sifatnya privat seperti bagaimana mempersiapkan bekal akhirat, bagaimana shalat, bagaimana mengahafal Al Quran dan ibadah individualistik lainnya. Seolah Islam tidak mempunyai dimensi sosial dan politis apalagi dorongan pengembangan ilmu dan teknologi.

Akibat dari itu peradaban islam jelaslah mundur. Bagaimana tidak mundur bila generasi mudanya dilenakan dengan pembahasan seputar jodoh melulu. Seolah ketika sudah mendapatkan Jodoh dan menikah hal itu adalah puncak dari kebahagiaan di dunia dus kemenangan umat Islam. Saya tidak tahu apakah generasi muda Islam menjadikan cerita Cinderella dan Pangerannya yang hidup bahagia selamanya itu sebagai panutan.

Persoalan ini harus kita hadapi secara serius sekaligus kritis. Kenapa? Karena bila hal ini terus terjadi Islam hanya akan menjadi agama yang melanggengkan Status Quo dan minim terhadap perubahan konkrit. Islam akan kehilangan nilai liberatifnya sebagai agama dan hanya menjadi agama yang bersifat ritus saja yang dilakukan berulang-ulang oleh pemeluknya.

Zakat ya hanya bayar saja, infaq ya hanya mengeluarkan receh saja, dan aktifitas ibadah tidak menyentuh esensi yang mengilhami dunia sosial dan politik.

Padahal Islam merupakan agama yang sangat liberatif! Buktinya, sejak awal Rasulullah menerima wahyu Allah saja, Rasulullah telah diperintahkan untuk membebaskan diri dari kebodohan. Catat ini! Rasulullah SAW diperintahkan untuk membaca dan berilmu, untuk apa? Agar manusia terbebas dari segala dominasi yang sifatnya materil menuju dominasi mutlak dari Allah.

Belum lagi berbicara soal bagaimana Islam dengan sifat liberatifnya menyetarakan semua manusia sehingga terbebas dari relasi yang destruktif satu sama lain. Rasulullah menyatakan bahwa Semua manusia, baik arab ataupun non-arab, adalah setara kedudukannya karena yang Allah nilai hanyalah ketaqwaannya. Dan ketaqwaan hanya dapat dilihat dan dinilai oleh Allah saja.

Dengan kata lain “sudahlah manusia itu setara kedudukannya tidak ada yang berhak mendiskriminasi satu sama lain berdasarkan warna kulit, ras, golongan, kelompok, bendera, suku, Negara dan lainnya yang berhak membedakan dan menilai hanya Allah saja”.

Pada jaman itu, pandangan di atas merupakan suatu hal yang sangat revolusioner dan liberatif. Karena saat itu bangsa arab terkungkung dalam budaya yang kita sebut dengan budaya Jahiliyyah sebentuk laku destruktif dan penuh penindasan. Ini membuktikan secara nyata dan jelas bahwa Islam adalah agama pembebasan dan mengedepankan aspek sosial. Islam bukan hanya urusan yang sifatnya individual namun yang bersifat komunal.
Belum lagi bila kita mengetahui kisah Bilal, seorang budak negro yang dimerdekakan dan diberi kehormatan untuk menjadi muadzin. Saat itu Bilal jelas istimewa ditengah masyarakat yang masih percaya bahwa kulit hitam ialah ras yang hina dan tidak punya tempat selain menjadi budak.

Dalam banyak hal islam mengedepankan keberpihakan pada kaum tertindas dan terdzalimi. Rasulullah memberi teladan dengan membuat revolusi besar dalam masyarakat Arab saat itu. Dominasi Bangsawan yang luarbiasa kaya tahap dami tahap diberangus Rasulullah dan merebut kota Makkah guna menghilangkan penindasan.

Hak-hak sesama manusia dipenuhi dan hak-hak antar sesama umat beragama pun diatur sedemikian jelas ketika bersama-sama hidup di Madinah. Sifat revolusioner ini terus berlanjut hingga pasca Rasulullah wafat. Dalam banyak riwayat Umar Bin Khattab menjaga betul apa yang dicontohkn Rasulallah.

Dalam riwayat tersebut dikisahkan ada seorang Yahudi Tua yang hanya mempunyai Gubuk tua. Ketika itu Amr Bin Ash menginginkan agar masjid dibangun di atas tanah di mana di sana berdiri Gubuk Tua milik Yahudi Tua tersebut. Setelah dibujuk untuk pindah dan telah dirayu dengan sedemikian rupa, Yahudi Tua tersebut tetap tidak mau. Lantas Amr Bin Ash, dengan arogansi kekuasaan, meratakan bangunan tersebut secara paksa atas nama pembangunan masjid.

Kemudian Yahudi Tua tersebut pergi ke madinah untuk melapor pada Amirul Mukminin, Umar Bin Khattab. Tanpa basa basi Umar pun mengambil tulang dan mengukir tulang tersebut dengan pisau dan membuat garis lurus dan disilang dengan garis miring. Kemudian memerintahkan Yahudi tersebut untuk menyerahkannya pada Amr Bin Ash. Singkat cerita tulang tersebut diberikan pada Amr Bin Ash dan seketika ia menangis. Ia pun memerintahkan untuk merobohkan pembangunan masjid yang belum usai tersebut untuk dibangunkan kembali gubuk Yahudi Tua tersebut.

Ternyata maksud dari garis tersebut adalah “garis lurus ini adalah keadilan dan bila kau mencoba melanggarnya maka lehermu yang pertama aku adili”. Bayangkan bagaimana hak minoritas pun dipenuhi tanpa pandang bulu. Tidak peduli untuk rumah ibadah atau bukan selama ada hak yang dilanggar maka hak tersebut harus dikembalikan atas nama keadilan.

Hari ini, dengan contoh dan riwayat diatas, seharusnya umat Islam menjadi pelopor dalam perubahan yang sifatnya revolutif. Tidak malah mementingkan diri sendiri. Islam perlu mulai membangun basis massa yang kuat demi terwujudnya keadilan di muka bumi ini. Karena bumi telah diwariskan pada kita, dan sebagai seorang khalifah, kita musti bertanggung jawab atas setiap penindasan dan kedzaliman yang ada.

Islam haruslah liberatif, berpihak pada yang lemah, paling depan dalam memperjuangkan hak-hak rakyat, dan juga membawa perubahan sosial yang sifatnya revolutif. Tidak terjebak dalam angan-angan yang semu, ritual yang jauh dari esensi, dan juga sifat individual yang melanggengkan status quo. Mari kita renungkan keislaman kita kembali untuk mengemban tugas sebagai khalifah di muka bumi ini.

*[ Penulis bernama Alrazi Sujada,
merupakan Mahasiswa Sosiologi Angkatan 2014
Universitas Jenderal Soedirman.
Juga Ketua KAMMI Komisariat Soshum Unsoed
Purwokerto]

About The Author

Reply

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Dongeng “Anak Setan” dari Gunung
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga