Rumah Inklusif, Inisiatif Berdampak Masif

24/11/2016 61 4 0

Rumah Inklusif adalah tempat belajar anggota komunitas difabel yang beranggotakan keluarga dari anak berkebutuhan khusus (ABK). Rata-rata dari mereka berusia dibawah 16 tahun. Sebelum ada rumah inklusif, sudah ada dulu komunitas difa yang awal mulanya digerakan oleh 6 orang. Salah satunya adalah Ibu Mu’inatul Khoiriyah, biasa dipanggil Bu I’in.

Seiring berjalannya waktu, kegiatan-kegiatan komunitas tentu dirasa perlu memiliki tempat untuk melakukan kegiatan, sharing, dan belajar bersama. Berawal dari gendu-gendu rasa dan gethok tular, Bu I’in dan kawan-kawan memutuskan untuk mendirikan Rumah Inklusif. Hingga saat ini, jumlah anggota ada sekitar seratus lebih.

Rumah Inklusif bisa juga diartikan sebagai rumah untuk belajar semua murid dalam satu tempat yang sama. “Rumah juga sebagai tempat belajar pertama anak, karena pemaknaan rumah, anak merasa nyaman. Pengambilan kata Inklusif, sesuatu yang menyatukan berbagai macam hal” Ujar Bu I’in.

Berbagai macam kegiatan rutin diantaranya ialah mujahadahan terapi aura setiap Jum’at Pon untuk membangun enerji positif dan menyingkirkan aura-aura negatif. Ada juga kegiatan yang baru dirintis seperti pembuatan kerajinan tangan dari kain flanel secara otodidak dengan mengikuti tutorial dari internet. “November Ceria” salah satu rangkaian acara yang akan segera digelar pada tanggal 26-27 tahun ini.

Kami juga dikenalkan dengan Mbak Yaya dan Mas Rimba, pengurus yang belajar otodidak tentang isyarat tangan untuk berkomunikasi dengan tuna rungu. Mereka adalah adik-adik Bu I’in.

Pak Puji, pengurus komunitas turut menuturkan bahwa saat pertama kali bergabung, mindset awal masih terpacu ‘bagaimana cara anaknya yang mengidap Cerebral Palsy bisa tumbuh dan berjalan normal’. Setelah diberikan edukasi oleh komunitas difa, pemikiran berubah menjadi ‘bagaimana caranya anak bisa hidup mandiri’.

Saat ini beliau berwenang mengurus Mie dan Bakso Varsa (varian rasa) Inklusif yang ada di Jl.Bhayangkara No.1, RT01/01, Kembaran. Siapapun bisa peduli dengan cara masing-masing. Dengan anda membeli, secara langsung turut berkontribusi mendukung anak-anak difabel.

Anak, adalah harta paling berharga bagi orang tua. Setiap keceriannya adalah kasih sang Kuasa, senyumnya adalah kebahagiaan. Banyak pengalaman inspiratif diceritakan oleh Ibu Mu’inatul Khoiriyah, tokoh pemerhati anak berkebutuhan khusus. Peran orang tua sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, bagaimanapun kondisi anak, orang tua adalah sosok yang tak tergantikan untuk selalu disampingnya. Menurutnya, hati adalah kunci mendampingi tumbuh kembang anak. Dengan hati, kita bisa merasakan apa yang anak-anak rasakan.

Ketika rasa sudah menyatu, maka komunikasi akan terbentuk. Tahu apa yang dimaksud, tahu apa yang ingin disampaikan. “Harapan kedepannya, siapapun termasuk keluarga difabel berkumpul dan belajar bersama, tukar kawruh dan saling menguatkan, melahirkan kekuatan baru, senyum bahagia, tidak ada lagi keluhan”, ungkap Bu I’in.

Kebumen diharapkan menjadi kota yang ramah untuk semua orang, terutama bagi kaum difabel, dimulai dari kebijakan pemerintah tentang pendidikan anak. Rumah Inklusif menerima donasi dari siapa saja yang ingin ikut membantu. Bisa melalui no rek. BNI Cab Kebumen 0433670790 a.n Rumah Inklusif.

Comments

comments

Tags: #Kebumensatu, Cerebral Palsy, Difabel, esensiana, esensiana.com, Kebumen, Kembaran, Komunitas Difa, Pendidikan Anak, Rumah Inklusif Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Kangtoer Kangtoer

a Talkative Socmed Enthusiast | #Kebumen

Related Posts
Comments
  1. -

    nice article….. Rumah esensi segera menyusul 😀

  2. -

    wahiniiii . .baru namanya pemuda harapan bangsa 😀

  3. -

    bukan aku, tapi bu I’in yang luar biasa

  4. -

    suwun mas. Semoga, Bismillah

Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.