sejarah plesir

Perihal Plesir, Rumah Plesiran, Bujang, dan Dinamika Berbahasa Kita

27/08/2017 147 0 0

piknik biar tidak panik

piknik adalah haque seluruh mahluque

Secara bahasa kata “plesir” baik di dalam bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia adalah kata serapan atau pinjaman dari bahasa Inggris “pleasure”, sementara merunut pada kamus babon Merriam-Webster kata “pleasure” berasal dari kata “plesure” yang mulai muncul pada abad 14 masehi. Karena orang Nusantara, khususnya Jawa, pada masa itu tidak bisa mengucapkannya dengan baik dan benar maka kata tersebut dipinjam sampai sekarang. Tentu saja jadi kata plesir sebagaimana sekarang kita kenal. Untuk artinya tidak beda jauh dan secara maksud hampir sama yakni perasaan gembira atau kegiatan yang dilakukan untuk dinikmati dan mencari kebahagiaan.

Kemudian yang menjadi persoalan adalah arti dan bagaimana sejarah kata plesir ini berkembang dan sampai pada kita hari ini. Budaya atau tradisi plesiran mulai marak saat kolonialisasi atau penjajahan terjadi pada masanya, Saat kolonialisasi inilah berkembang dua hal penting dalam sejarah munculnya kata plesir. Paling tidak itu menurut saya. Dua hal tersebut yakni Rumah Plesiran dan Plesiran sebagai kegiatan.

Budaya plesir adalah budaya yang dimotori oleh kelompok masyarakat yang jauh dari kelurganya pada zaman penjajahanya dulu. Mereka adalah orang yang bekerja sebagai tentara bayaran, pegawai kantor pos dan telegram, pegawai gubermen/pemerintahan, Residen dan pembantunya, wedhana dan asistennya, guru, mata-mata dan lain sebagainya.

****

Tentang rumah plesiran

Sesuai namanya, rumah plesiran adalah tempat untuk memburu kesenangan. Untuk kalangan muslim Jawa, baik Priyayi, Santri maupun Abangan pasti pernah mendengar ajaran larangan 5M/Molimo dari Kanjeng Sunan Ampel mengenai larangan soal Mabok, Main, Madon, Madat dan satu lagi saya lupa. Rumah plesiran ini adalah tempat kegiatan yang dilarang untuk dikunjungi oleh Sunan Ampel seperti yang saya sebutkan diatas. Rumah plesiran ini adalah gabungan dari kegiatan itu semua.

Dirumah plesiran ini lah muncul budaya pergundikan. Pergundikan adalah hubungan tanpa ikatan perkawinan, antara laki-laki perempuan baik satu ras maupun antar ras. Di jawa gundik lebih dikenal dengan istilah Gendakan, tapi artinya sama saja.

Sementara itu kegiatan plesiran memiliki sejarah yang agak berbeda, meski sama kelamnya. Pada zaman penjajahan tidak tenar istilah plesiran untuk bepergian ke suatu tempat indah dan mengendurkan urat syaraf seperti hari ini dilakukan rang-orang. Pada masa kolonial bepergian untuk mencari waktu rehat lebih dikenal dengan kata “berpakansi”. Kata “pakansi” pun adalah serapan dari kata bahasa Inggris “vacation” yang artinya waktu yang orang habiskan dari segala kegiatan kantor, sekolah, kerja dan sebagainya.

Pakansi para noni-noni meneer baik yang totok maupun peranakan atau indo abik dengan sitri atau dengan nyai biasanya ke daerah pegununungan. Mereka mendirikan villa untuk berlibur dan bersenang-senang dengan perempuan simpanan. Kegiatan mereka ditiru oleh orang-orang pribumi dari kalangan priyayi.

Pakansi tuan dan nyonya biasanya didampingi bujang dan jongos. Jongos berasal dari bahasa Belanda Jongens yang artinya anak laki-laki. Lantas berkembang menjadi remaja laki-laki yang bekerja kepada seorang tuan untuk menjadi budak.

Untuk kata “bujang” lain lagi artinya. Kata ini ditujukan untuk budak dewasa yang biasanya menjadi pembantu. Kala itu kata bujang biasanya justru disandang para perempuan. Hari ini, di Jawa, kata bujang direduksi secara makna hanya berarti laki-laki yang sudah terbiasa untuk bekerja apa saja.

Dan setelah cukup panjang kita bahas plesir-plesiran, kesimpulan apa yang bisa kita dapat? TIDAK ADA sih..

Comments

comments

Tags: piknik, rumah plesir, sejarah bujang, sejarah plesir, sejarah plesiran Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Supri Tok Supri Tok

Laki-laki medioker biasa, peminum kopi sachet dan membeli rokok eceran

Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.