sekulerisme

Sekuler, Akar Istilah dan Perdebatan-perdebatan yang Menyertainya

10/01/2018 244 0 0

sekulerisme

Hiduplah di dunia untuk bekal di akherat tul?

Di beberapa kalangan, perdebatan tentang sekuler, sekulerisasi, dan sekulerisme masih sering terdengar. Umumnya mereka mempertentangkan antara sah tidaknya praktik sekuler dalam kehidupan bernegara dan beragama. Dari rahim pertentangan keduanya itu maka lahirlah sebuah istilah negara sekuler. Istilah yang secara serampangan didefinisikan sebagai sistem pengelolaan negara yang memisahkan antara agama dan praktik bernegara. Lebih lanjut, negara-negara yang tidak menambahkan embel-embel Islam atau menerapkan syariat secara letterlijk akan dicap sebagai negara sekuler. Dan karenanya sah menyandang gelar sebagai negara toghut.

Sejalan dengan konsepsi negara, masyarakatnya juga tak lepas dari dikotomi islamis dan sekuler. Kelompok yang mengaku Islam kaffah akan menuduh mereka yang secara pakaian atau pandangan politik tidak sejalan dicap sebagai sekuler. Labeling semacam itu makin menambah jurang pemisah antara satu dengan lainnya yang masing-masing memang memiliki variabel pembeda.

Kembali pada perdebatan soal sekuler dan turunannya itu. Pertanyaan yang tidak bisa kita lewatkan begitu saja adalah sudah tepatkah definisi itu dibuat?

Akar sekulerisme dan problem pandangan dualisme umat manusia

Sudah sejak pertama mengenal kata-kata, kita didoktrin untuk melihat segala sesuatu dari pandangan binner. Dualis. Kita tentu kenal dengan apa yang disebut antonim atau lawan makna. Atau lebih tepatnya, sesuatu yang dianggap pasangan dari sesuatu yang lain. Misalnya saja: siang-malam, pria-wanita, tinggi-rendah, cakep-jelek, aku-kamu, suci-profan, ukhrowi-duniawi, dan sebagainya.

Konsep seperti itu, secara tidak sadar membentuk persepsi kita terhadap suatu realitas. Dalam memandang manusia misalnya, kita akan membaginya menjadi paling tidak dua bagian, yakni raga dan jiwanya atau fisik dan batinnya. Pandangan semacam itu, yang turut membentuk watak “sekuler” kita. Perlahan-lahan kita mulai memisahkan kebutuhan badaniyah dengan batiniyah. Kita juga piawai memilah olah raga dan makan sebagai kebutuhan raga kita, sementara ibadah atau piknik untuk memenuhi kebutuhan jiwa kita. Persis seperti itulah watak sekuler itu dilatih.

Saya tidak yakin ada manusia, apalagi muslim, yang tidak sekuler. Tentu saja dengan batasan sekuler seperti telah disinggung di atas. Betapa pun seorang muslim mengaku tidak sekuler (baca: tidak memisah persoalan dunia dan akhirat) pasti akan membedakan perlakuannya pada Al-Quran dan buku, kendati dua-duanya sama-sama terbuat dari kertas. Contoh lain misalnya pada saat memasuki mushola, tanpa disuruh akan melepas alas kaki, tetapi tidak dilakukan saat masuk mall dengan lantai marmer yang jauh lebih mewah sekalipun.

Itu terjadi karena secara sadar kita memisah, yang satu kertas duniawi yang satu “ukhrowi”. Yang satu bangunan suci yang satu bangunan profan. Pendek kata kita memisah urusan duniawi dan urusan akhirat. Maka berarti, jika menggunakan pendekatan tersebut, kita semua sekuler. Hiks.

Beda sekulerisme dan sekulerisasi

Seperti adagium “jika terjadi perdebatan, itu berarti ada salah paham atau pahamnya yang salah”, orang-orang yang berdebat soal sekulerisme dan sekulerisasi mengalami problematika serupa. Mereka tidak menentukan standar makna yang disepakati bersama. Sehingga masing-masing keukeh dengan definisi yang diyakininya.

Kita yang tak cukup punya kecerdasan segregatif untuk memilah mana kata dengan nilai dan konteks tertentu yang saling terkait pada konteks yang lain, tentu akan kesulitan untuk memahami sekuler di sini. Begini, coba Anda cermati kembali, orang-orang yang selama ini getol menjadi “penjaga moral”, mereka yang menolak korupsi dan menganganggapnya sebagai kejahatan luar biasa, disaat yang sama juga menyeru untuk menghukum mati para koruptor: pembunuhan. Hey, orang yang baik kok menyuruh untuk membunuh? Adakah beda antara menghukum mati dengan membunuh?

Pada contoh yang lain misalnya kontradiksi soal pembunuhan yang dilakukan militer saat pecah perang. Membunuh menjadi boleh bahkan wajib, jika kita tidak mau dibunuh. Tetapi pada kondisi dimana malam tahun baru saja selebaran dangdut begitu banyak, tentu membunuh adalah sesuatu yang haram dilakukan. Padahal bukankah membunuh atau menghilangkannya nyawa orang dalam perang itu sama-sama membuat orang bertemu ajalnya lebih cepat? Dan itu dilarang agama?

Kondisi yang demikian juga berlaku pada istilah sekulerisme dan sekulerisasi. Keduanya mengandung kontradiksi interminus. Bahwa oleh agama, yang satu adalah praktik yang dilarang, sedang satunya lagi adalah wajib. Yang jelas dilarang adalah sekulerisme dalam arti upaya meninggalkan sama sekali pertimbangan akan adanya Tuhan dalam mengambil suatu keputusan. Sedang yang diwajibkan banyak betul.

Penyebaran agama Islam pun, bila diteliti benar-benar, dimulai dengan proses sekulerisasi secara besar-besaran terlebih dahulu. Sekulerisasi secara sederhana dapat dipahami sebagai proses pemisahan benda atau tempat keduniaan yang mulanya disembah dengan Tuhan yang sejati.

Sebelum manusia mengenal Tuhan, mereka menyembah patung, gunung, laut, dan sebagainya. Di sini tentu perlu sebuah upaya untuk memisah mana yang patut disembah dan mana yang seharusnya tidak disembah. Nah proses ini disebut sekulerisasi, yakni proses memilah yang fana (seculer) dengan yang sejati.

Dalam pengertian begini, siapa orang Islam yang tidak setuju sekulerisasi?

Lagipula untuk mendefinisikan istilah-istilah sosial begini tak semudah mengartikan istilah teknik, misalnya. Jambanisasi, umpamanya, selalu merujuk pada sebuah upaya memperbanyak jumlah jamban. Pun dengan neonisasi yang selalu sebangun dengan penambahan jumlah lampu penerangan (neon) dan seterusnya. Tapi hal demikian tidak bisa begitu saja dalam istilah sosial.

Kata sosial, tentu berbeda dengan kata sosialisme dan sosialisasi. Sosialisasi jelas tidak bisa diartikan sebagai sebuah upaya menyebarkan paham sosialis bukan? Sama halnya dengan kamu, kamu, dan kamu yang harus memilah mana sekulerisme dengan sekulerisasi.

Comments

comments

Tags: akhirat, asal mula sekulerisme, sekuler, sekulerisasi, sekulerisme Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
fajar

semacam pemuda, suka kopi, berafiliasi dengan PMII

Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.