Seluruh Kambing, Sapi, dan Ayam Betina Bersatulah Menuntut Kesetaraan

27/03/2018 217 0 0

Memang agak mengerikan membayangkan bagaimana sekelompok ayam betina, juga para domba, kerbau, lembu dan sebagainya menyampaikan tuntutan tentang kesetaraan. Mereka, umpamanya, keberatan atas bias jenis kelamin yang selama ini diterapkan oleh manusia dalam transaksi jual beli hewan ternak. Sebab kita tahu, sebagaimana manusia menetapkan harga (tenaga) perempuan lebih murah ketimbang laki-laki, kita juga menggunakan cara pandang yang sama dalam menghargai bebinatang tadi.

Tentu tidak perlu bagi kita untuk mengajarkan ideologi semacam feminisme kepada para hewan ternak tadi. Apalagi sampai menanamkan keyakinan bahwa ternak betina memiliki otoritas penuh atas tubuhnya sendiri. Tidak perlu, tidak perlu! Namun akan sulit juga bagi kita untuk menepis sama sekali bahwa konsep gender juga telah merambah sampai dunia binatang. Wong jelas sekali kok dikotomi jantan betina tak lagi soal fungsi dan kemampuan biologis, tetapi sudah mengintervensi hal yang sebenarnya tidak selalu sebangun: nilai ekonomi.

Kambing jantan kita tahu, selalu dihargai lebih mahal dibanding dengan betina meskipun dari jenis dan umur yang sama. Hal yang sama juga terjadi pada sapi, ayam, kerbau dan lain sebagainya. Padahal (lagi-lagi) kita tahu bahwa yang betina justru menjanjikan potensi produktifitas yang jauh lebih tinggi ketimbang pejantan. Sebab betapa pun pejantan memiliki semua citra maskulin (baca: gagah dan sedikit lebih berat) tapi tetap saja tidak memiliki kemampuan melipatgandakan diri yang bernama babaran.

Dan pastinya akal sehat kita semua mengakui itu kan? Jika hari ini kamu memiliki satu kambing jantan, diberi pakan terbaik sampai tahun 2030 pun hanya akan tetap menjadi satu. Tetapi jika betina yang kamu pelihara ia berpotensi jadi dua, lima, atau bahkan sepuluh. Kesemua itu bahkan bisa kita dapatkan dengan meminimalkan peranan pejantan, yakni dengan memanfaatkan inseminasi buatan.

Sampai di sini, saya rasa kita semua bisa memaklumi jika sampai ada beberapa ternak betina yang misalnya, melakukan aksi protes dengan mogok makan rumput atau yang lebih parah, mogok melahirkan.

Dalam relasi kerja manusia pun sama. Berdalil survei yang dirilis oleh laman qerja.com kesenjangan gaji antara tenaga kerja pria dan wanita masih menganga. Terutama di sektor seperti enegi, utilitas, industri, dan pertambangan yang mana tenaga kerja wanita bisa jadi hanya dihargai 50-78% dari laki-laki. Dan secara keseluruhan, masih dari laman tersebut, wanita hanya dihargai sekitar 85% tenaga laki-laki.

Setali tiga uang dengan konsep tersebut, harga-harga hewan ternak tadi juga diperlakukan sama. Ternak betina rata-rata dihargai 30-15% lebih murah ketimbang pejantannya. Kenyataan seperti ini jelas membingungkan, sebab begini, jika kita melihat realitas tersebut menggunakan pendekatan teori nilai-kerja ala-ala Karl Marx misalnya, kita akan memperoleh kasunyatan yang kecut.

Marx pada makalahnya tentang nilai, harga, dan profit memang menjelaskan bahwa pada dasarnya harga adalah ekspresi matrialistik dari nilai. Meskipun bagi Marx, ekspresi sebagai penampakan dari sesuatu tidak lantas sama dengan sesuatu itu sendiri. Pada hal ini, Marx tampaknya bersepakat dengan ekonom liberal, Adam Smith, bahwa nilai adalah sesuatu yang berbeda dengan harga. Nilai adalah jumlah waktu kerja sosial yang dicurahkan untuk memproduksinya. Sementara harga adalah perbandingan permintaan dan penawaran terhadap komoditas terkait.

Dengan teoritika yang seperti itu, mestinya harga ternak betina tak melulu dihargai lebih murah dengan pejantannya. Sebab untuk menghasilkan pejantan yang tangguh diperlukan serangkaian investasi yang jika itu diberikan pada betina pun akan memberi efek yang sama bagusnya. Atau bahkan lebih. Sebab sejatinya antara jantan dan betina memiliki “harga alamiah” yang sama.

Maka sekali lagi, atas nama demokrasi dan segala kebebasannya, ayolah, seluruh ternak betina, rapatkan barisan tuntut kesetaraan!

Comments

comments

Tags: ekonomi, Harga ternak Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
fajar

semacam pemuda, suka kopi, berafiliasi dengan PMII

Related Posts