Sepakbola dan Rasisme

Sebenarnya saya ingin nulis soal hukum mengucapkan selamat natal dan merayakan tahun baru.Tapi setelah dipikir–pikir akhirnya tidak jadi karena memang tidak mahir berpikir. Maka saya putuskan untuk berceloteh tentang sepakbola saja, karena topik ini tidak sesensitif topik agama. Ya, kamu bebas mau komentar apa saja, misal, bilang wasit ‘goblok’ atau striker ‘mandul’ atau nyangkem apa saja meski kamu sendiri kalau main bola tidak becus.

Bagi saya sepakbola bukan sekadar mengoper, menendang dan mencetak goal. Bola adalah representasi dari hidup yang sarat warna dan drama (gak pake Korea!) yang ikut mempengaruhi banyak dimensi kehidupan sosial manusia. Di Inggris sana misalnya, setiap akhir pekan stadion lebih ramai ketimbang gereja. Mereka lebih suka menghabiskan akhir pekan dengan menonton bola ketimbang mendengar khotbah pendeta soal surga. Emirates Stadium, stadion megah itu nyaris selalu terisi penuh meski Arsenal hanya bertanding dengan klub medioker semisal Chelsea atau Manchester United.

Kita, orang Indonesia, yang religius ini tentu miris melihat fenomana dimana sepakbola telah mengeliminir agama. Tapi jangan khawatir itu di Eropa, kalau di Indonesia insyaallah sama aja sih.

Dari Sepakbola saya juga belajar bagaimana berlaku dan berpikir adil tanpa ada diskriminasi karena beda warna kulit, agama atau pandangan politik. Dalam sepakbola Mourinho, misalnya, tidak boleh mencadangkan Paul Pogba hanya karena dia berkulit hitam atau saya tidak boleh melokalisir kekalahan Indonesia versus Thailand di final piala AFF waktu itu sebagai kekalahan Islam melawan Budha. Sepakbola harus bersih dari laku dan prasangka semacam itu.

Tapi sayangnya, sepakbola belum sepenuhnya bersih dari diskriminasi terutama yang berbau rasisme. Rasisme biasanya terjadi antara  pemain dengan pemain, suporter dengan pemain atau suporter dengan suporter. Bentuk rasisme beragam mulai dari melempar pisang atau bertingkah dan bersuara seperti monyet dengan maksud melecehkan.

Kasus rasisme yang mendapat perhatian publik adalah saat Evra menolak berjabat tangan dengan Suarez pada tahun 2012 silam saat keduanya masih bermain di liga inggris. Evra menuding Suarez telah berkata rasis padanya. Suarez membantah tudingan bek kiri MU itu meski akhirnya tetap dihukum denda dan larangan bertanding.

Mario Balloteli juga pernah menjadi korban rasisme saat masih bermain di Milan. Balotelli, pesepakbola tinggi, tegap sekaligus bengal ini, sampai mewek karena ulah rasis sekolompok suporter Napoli. Membayangkan seorang Balotelli mewek itu sama sulitnya seperti membayangkan kanda Catoer aka capung menangis terisak karena diputus pacarnya. Ya, membayangkan dia nangis saja sudah susah apalagi ngebayangin dia punya pacar. Heuheuheu..

*****

Di Eropa pemain kulit hitam, entah itu asli Afrika atau diasporanya, adalah korban rutin rasisme. Banyak alasan mengapa mereka selalu menjadi korban, tapi yang paling menghina nilai kemanusian, adalah karena mereka berkulit hitam. Tentu ini asu banget cah, wong kita inikan ndak bisa milih mau lahir dari orangtua berkulit apa. Kalau kita lahir dalam keadaan miskin, itu bukan masalah, dengan kerja keras itu bisa saja dirubah. Lah, kalau terlahir hitam?

Mempersoalkan warna kulit seseorang itu sama saja dengan mempersoalkan Tuhan itu sendiri. Bagi orang religius, warna kulit, adalah takdir Tuhan yang harus disyukuri bukan untuk dipertanyakan apalagi diperolok. Bagi seorang muslim ini ada ayatnya kok, tapi saya lupa. Kalian cari sendiri gih..

Nah, andai Evra dan Balloteli  adalah dua orang yang religius tentu akan selow saja menanggapi para bedebah rasis itu. Alih–alih marah atau nangis, mereka pasti menimpuk kepala para rasis itu dengan setangkai bunga dan tentu saja beserta potnya sembari berseru “ God, send those shits to hell earlier!”.

Rasisme tumbuh karena dilatari oleh sikap pongah dan congkak, baik dalam level individu maupun kolektif. Mereka merasa dirinya lebih superior dibanding yang lain. Dalam landskap yang lebih luas, ada golongan yang merasa rasnya lebih superior dibandingkan ras yang lain. Jadi, karena superior, mereka bebas memaksakan kehendak sesuka hatinya pada ras, yang bagi mereka, lebih inferior.

Kecongkakan berbau rasis sudah ada sejak zaman baheula. Misal saat orang Arya mengalahkan orang Dravida yang lebih dahulu menghuni India. Dengan semangat berbau rasial, secara perlahan orang Arya, yang berkulit putih, mulai menggeser peran orang Dravida, yang berkulit hitam, dalam berbagai sektor termasuk ekonomi. Kemudian orang Dravida menempati kasta paling bawah sementara orang Arya berada lebih tinggi dari dalam hierarki sosial masyarakat India.

Watak congkak orang Arya, yang dipercaya sebagai leluhur orang Eropa, nular ke orang Eropa kebanyakan. Bahkan saat pakde Hitler masih berkuasa, dia ingin negeri Jerman murni dihuni ras Arya saja. Bangsa Wahyudi, eh Yahudi dan bangsa–bangsa lain hanya mengotori kemurnian ras Arya saja. Mereka harus di usir keluar Jerman dan yang tersisa dibabat habis. Maka terjadilah tragedi hollocaust yang mengerikan itu.

Orang Eropa memang sudah biasa rasis sejak dahulu kala, ya meski tidak semua, tapi kebanyakan seperti itu. Bahkan mereka punya beberapa ilmuan yang menteorikan rasisme sehingga tampak ilmiah. Sir William Petty, misalnya, dikenal dengan teori piramida manusianya. Dalam teorinya, ras kaukasoid berada di posisi paling tinggi sementara ras negroid di posisi paling bawah. Orang Negroid, yang berkulit hitam, dianggap manusia tidak sempurna dan beastlike (mirip hewan) dimana karakternya mendekati  kera.

Teori inilah yang bikin orang Eropa,tanpa rasa berdosa, memperbudak orang kulit hitam untuk menggarap kebun–kebun mereka di benua Amerika sana. Orang eropa merasa berhak memperlakukan orang afrika sebagai budak karena mereka tidak dianggap sebagai manusia tetapi binatang. Selain itu, ini adalah jawaban mengapa bentuk rasisme dalam sepakbola dilakukan dengan cara melempar pisang atau bertingkah seperti monyet.

Ilmuwan lain yang menjadi pelopor rasisme ilmiah adalah George-Louis Leclerc, Comte de Buffon. De Buffon bilang asal mula manusia berasal dari ras kaukasia yang berkulit putih. Sementara adanya orang kulit hitam atau sawo busukmatang seperti orang Indonesia itu karena menyesuaikan diri dengan iklim tropis yang panas. Jadi, lanjut  blio ini, orang kulit hitam bisa jadi putih kalau tinggal di tempat sejuk macam daratan Eropa. Teori inilah yang bikin dedek dan mamas gemes males kerja dibawah terik matahari, takut hitam katanya.

Teori ini tentu perlu dibuktikan oleh Catur dan Arigus yang bercita–cita ingin berkulit seputih pembalut.  Cobalah berlibur barang seminggu ke kutub utara, bermain bola salju bersama beruang, berenang bareng pinguin atau menyelam ditemani kuda laut, insyaallah kilau kulit cantik putih merona akan menjadi milik anda berdua.

****

Sialnya, rasisme bukan perilaku endemik para bedebah di Eropa sana saja. Rasisme bisa terjadi dimana saja termasuk di Indonesia yang konon menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Eka. Contoh termutakhir dalah olok–olok sekelompok netizen terhadap Franz Kaisiepo di uang pecahan 10.000-an.

Mereka mengolok gambar pahlawan yang di angkat pada era presiden Soeharto itu dengan menyebutnya mirip monyet. Perilaku mereka memang dilatari oleh ketidaktahuan tentang siapa Frans Kaisiepo itu sendiri. Banyak tidak tahunya alias bodoh itu memang karakter khas orang rasis, dimana kecerdasan mereka tidak lebih baik dari monyet yang pintar.

Eh, tapi emang ada monyet yang pinter? kalau monyet mah monyet aja.

Iya gak nyet..

Nyett….

Sepakbola dan rasisme- aef nandi

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga