Selain Protes dan Omong Besar, Sistem Pendidikan Coba-coba Tidak Menjanjikan Apa-apa

Full-dayschool

Selain aturan menteri, cuaca adalah hal paling logis untuk menentukan kapan harus berangkat sekolah

Kalau situ ingin menemukan generasi gado-gado dalam 20-30 tahun ke depan, tetaplah bertahan hidup dan tidak usah pindah dari Indonesia. Meskipun pertaruhannya, kamu harus mengubur dalam-dalam impianmu menjadi penduduk negara Islam ISIS, atau menjadi petualang luar angkasa dengan keanggotaan Asgardia.

Konon sekitar tahun 2045 nanti Indonesia akan mengalami bonus demografi. Semacam keadaan dimana rang-orang produktifnya lebih banyak ketimbang yang tidak produktif. Meskipun produktif di sini tidak presisi artinya. Karena hanya meninjau dari umur semata. Lawong akibatnya orang-orang kaya Agus atau Ardo akan jadi produktif dengan tinjauan bonus demografi tadi je. Kan aneh.

Kembali pada bonus demografi tadi. Pada tahun itu, kita akan melihat generasi yang dididik sesuai dengan selera menteri akan jadi tulang punggung negara. Oke jika istilah ini terlalu umum dan membuatmu muak kita sebut saja; sibuk nglamar atau bosen kerja.

Ya mereka semua adalah generasi yang ditakdirkan untuk mengenyam pendidikan dengan aneka ragam kurikulumnya sesuai dengan masa jabatan rejim presiden. Atau bahkan  tergantung reshufle menteri terkait. Sejak reformasi saja kita sudah berkali-kali ganti kurikulum, mulai dari KBK, KTSP, Kurikulum 2013, dan kurikulum 2013 ples (2015).

Maka tidak aneh jika urusan ganti konsep pendidikan di Indonesia seperti ganti sempak. Makin sering makin bagus. Terhitung sejak merdeka kita sudah 11 kali ganti kurikulum.  Warbyasa.

Terakhir dengan kurikulum 2015, kemudian kita akrab pada full day school (mohon koreksi jika salah mengeja) dan protes yang mengiringinya. Atau karena full day school sudah ditolak presiden, Pak Menteri menggantinya dengan istilah sekolah lima hari. Teknisnya anak-anak seharian berada di sekolah. Peserta didik yang mulanya bersekolah hingga hari Sabtu diarahkan (kalau tidak mau ada istilah dipaksa) agar sekolah sampai hari Jum’at saja. Apakah ini berarti ada pengurangan jam belajar pada anak sekolah yang sudah overdosis itu? Tidak.

Konsekuensinya anak-anak sekolah tadi harus pulang sekolah hingga sore menjelang. Mereka dijejali beragam aktivitas sekolahan mulai dari ekstrakulikuler hingga belajar tambahan. Terus sekolah lima hari yang bikin siswa ikut full day school  (sekolah seharian) bedanya apa? Mbulet? La pancen.

Sekolah lima hari, lagi-lagi, merupakan konsep baru yang dijalankan tanpa riset mendalam untuk ukuran pembangunan sebuah generasi. Yang mengesankan anak sekolah adalah kelinci percobaan semata yang bisa diarahkan secara sepihak. Padahal ketimpangan fasilitas pendidikan menganga begitu lebarnya (yang seharusnya menjadi pertimbangan serius akan pergantian kebijakan).

Kalau tidak percaya, Pak Menteri main-mainlah ke sekolah di pelosok-pelosok. Ke desa saya misalnya. Blusukan gitu. Anak SD di desa saya sudah harus berjalan kaki kiloan meter pulang pergi setiap hari. Yang kalau sudah nyampe di sekolahan, jangankan ruang kreatif, jalannya saja mirip lokasi peledakan nuklir.

SMP lebih jauh lagi Pak jalan kakinya. Sementara untuk SMK/SMA itu sudah mustahil ditempuh jalan kaki setiap hari.

Jadi Pak menteri jangan hanya membayangkan sekolahan di kota-kota yang bergelimang fasilitas itu. Yang dengan seharian siswa ditempatkan di sekolah akan lebih sering mengeksplorasi Lab IPA sehingga bisa menemukan energi murah ramah lingkungan. Atau dengan besarnya bandwidth wifi sekolahan para siswa bisa berselancar gratis untuk belajar hal baru di internet atau bahkan menumbuhkan ekonomi kreatif seperti arahan Bapak Presiden. NgeVlog.

Pun dengan alasan agar siswa lebih banyak menghabiskan waktunya bersama para guru. Oke saya jomblo, tapi bukan berarti tak peduli pada mereka yang sudah berkeluarga. Yang sudah punya anak dan lagi lucu-lucunya. Bukankah mereka, para guru, juga butuh waktu lebih untuk bercengkrama bersama keluarganya? Lagian memang keluargalah yang menjadi sekolah primer bagi anak. Bukan begitu? Ini belum mempertimbangkan tradisi ngaji sore di madrasah-madrasah kampung itu lo.

Atau kalau sempat main-mainlah ke tempat yang lebih jauh lagi, Bapak akan menemukan keanehan yang lebih menggelikan. Bagaimana sistem sekolah, yang gonta ganti itu, tidak pernah cocok dengan tuntutan kehidupan bagi anak-anak pedalaman.

Mereka seharian disuruh menghafal aritmatika, astronomi, atau bilangan irasional. Sementara setalah pulang, mereka harus membantu ayahnya berburu, mengolah sagu, atau memancing di laut lepas. Tentu sambil tak peduli, hubungan sekolah dengan kehidupan mereka di mana.

Jadi tak seharusnya kebijakan sistem sekolah digubah tanpa memperhatikan mereka yang di pinggir-pinggir.

Apalagi jika sekolah lima hari, dikonsep—salah satunya, untuk memenuhi tuntutan jam mengajar para guru. Alamaak. Ini mengubah kebijakan sekolah kok orientasi menghabiskan waktu ngajar guru gara-gara sudah dikasih tunjangan lebih. Jadi selama ini siswa dianggap apa? Remukan mendoan?

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga