Import Garam

Soal Import Garam, Salah Siapa?

01/08/2017 441 0 0

Petani Garam

Garamnya asin buat konsumen, tapi pait bagi petaninya.

Sudah menjadi kesepakatan emak-emak bahwa garam menjadi bumbu dapur paling penting untuk berbagai masakan. Hanya dengan sedikit taburan sudah bisa menambah kenikmatan dalam setiap masakan. Wajar saja perihal kelangkaan atau naiknya harga garam membuat heboh masyarakat yang tak rela hidupnyamasakannya dibuat hambar. Tak hanya emak-emak, pedagang ikan asin bisa gulung tikar kalo suplai garam bermasalah, demikian juga telor asin. Kalau sudah begitu, yang rugi kan publik.

Dan menyoal publik, menjadi amat baperan akhir-akhir ini. Ada sedikit fakta terungkap saja, seolah olah negaranya paling aniaya. Maka pemerintah, dan harus selalu begitu, adalah pihak yang salah. Apalagi pemerintahan Jokowi yang bhoneka itu, napas aja salah.

Hidup tanpa menyalahkan pemerintah, mungkin seperti pameo lama “bagai sayur tanpa garam“; hambar. Dan di tengah kehambaran itu, tulisan ini dibuat.

Selama kurun waktu 2016 produksi garam nasional anjlok ke angka 118.05 ton saja dari yang ditargetkan 3,2 juta ton. Sementara untuk rencana impor garam konsumsi adalah sebanyak 226.124 ton, Akibatnya semenjak tahun 2017, pemerintah diharuskan menambah garam kembali dari negara Australia, India, Selandia Baru, Inggris dan Singapura.

Faktor menurunnya produksi petani garam sebenarnya karena banyak hal. Dari faktor alam seperti kondisi laut, cuaca, hingga soal infrastruktur. Akumulasi dari permasalah itu muaranya pada penurunan jumlah petani garam. Alasanya sederhana, petani garam mengolah garam untuk cari untung, tidak bisa ngolah garam maka tidak untung. Lalu cari profesi lain yang menguntungkan.

Disampaikan oleh pusat data dan informasi kiara.or.id, dalam lima kurun terakhir ini jumlah petani garam di indonesia mengalami penurunan. Dari yang sebelumnya 30.668 jiwa di tahun 2012 menjadi 21.050 jiwa sampai pada tahun ini. Sekali lagi baik penurunan petani maupun produksi garam disebabkan banyak hal. Tidak tunggal karena pemerintah.

Dari hasil googling, kita bisa mengerti bahwa jumlah laut atau garis pantai kita yang masuk 4 besar garis pantai terpanjang di dunia, seperti yang banyak digembor-gemborkan aktivis medsos, tidak ada kaitannya langsung dengan produksi garam. Sama seperti Antartika yang meskipun seluruh wilayahnya diselimuti es tetapi tidak jadi pengeksport es terbesar di dunia.

Lagipula membuat garam itu butuh banyak persyaratan, selain faktor “pemberian alam”. Di Australia, sebagaimana informasi google, garamnya diproduksi dari laut yang sudah dikeringkan oleh alam selama jutaan taun. Dan cadangan garam mereka sampai ratusan tahun ke depan masih aman. Karena proses kristalisasi garamnya alami, kualitasnya pun jadi baik dan biaya produksinya murah.

Berbeda dengan garam yang diproduksi petani kita secara tradisional. Selain makan waktu dan bergantung pada kebaikan Sang Surya, juga menghasilkan garam yang agak kecoklatan. Garam yang secara kualitas, oleh anak-anak kesehatan, dikampanyekan tidak baik. Bikin gondokan. Selain itu, oleh sebagian ibu-ibu hygienst, garam model tersebut tidak disukai. Ga sehat. Maka Ibunya beli yang garamnya yang putih kinclong, yang susah dipenuhi petani garam lokal. Maka import menjadi secercah harapan.

Kalaupun Indonesia dipaksa untuk tak import garam, biaya riset untuk pengembangan infrastruktur dan industrialisasinya mahal. Pemerintah tidak punya uang untuk itu, nanti jatuhnya utang. Salah lagi kan?
Sebenarnya teknologi tinggi dalam pengolahan garam sudah dilakukan oleh perusahaan besar seperti PT Garam. Akan tetapi ini sulit diikuti petani kecil dengan alasan bahwa tenologi ini membutuhkan dana yang besar. Ya meskipun triliunan duit digelontorkan untuk sektor asinan ini.

Selain itu pemerintah import garam untuk kebutuhan industri. Di mana garam model ini belum bisa dipenuhi oleh petani garam lokal. Sungguhpun ada yang diperuntukkan untuk keperluan konsumsi, jumlahnya masih sedikit.
Kecuali kalo ada oknum nakal yang memanfaatkan import garam industri demi ambisi keuntunganya, seperti PT. Garam yang menyulap garam industri menjadi garam konsumsi. Ini yang mematikan petani kita.

Seperti petani garam Jeneponto, yang harus rugi karena stok garam di gudang mereka sudah membatu karena tidak terjual. Hanya sebagian kecil yang dibeli tengkulak.

Pada akhirnya nasib petani “Sudah jatuh tertimpa tangga”. Sudah kepayahan mengeringkan air laut ditengah cuaca yang hingga Agustus masih hujan, ditambah lagi harus melawan oknum rakus. Kalau seperti ini kemana mereka harus mengadu, nyatanya sampai saat ini para petani kita selalu dijadikan objek eksploitasi.

Mirip seperti kasus sebelumnya. Di mana industri besar bermain curang mengangkangi kepentingan petani. 

Comments

comments

Tags: garam indonesia, import garam, masalah garam, petani garam Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.