Soal LGBTIQ, Mari Bersikap Adil

Soal perdebatan harus diapakankah kaum Lesbi, Gay, Bisexual, Transgender, Intersex, Queer (LGBTIQ) saya cuma bisa nyengir-nyengir saja. Apa pasal? Perdebatan mengenai LGBTIQ apakah  harus ditolak atau diterima itu kayak perdebatan pendukung Liverpool dan MU soal siapa paling layak mendapat gelar English Premier League taun ini. Itu sia-sia dan tak pernah ada ujungnya.

 

 

Mengemukanya isyu LGBTIQ akhir-akhir ini karena Pak Mentri Nasir yang melarang aktivitas pro LGBT di kampus UI hanyalah ulangan lagu lama yang terus diputar dan diperdebatkan sebagai panggung unjuk pemikiran manusia. Sebagai bangsa yang menganut budaya ketimuran nan religius ini tentu banyak kalangan mengecam adanya pernikahan sesama jenis di Indonesia. Sitiran kitab suci dan laku ilahiah pun berhamburan sebagai argumen mereka yang mengucilkan kaum LGBT ini. Di sudut lain, para aktivis HAM dan kritikus prohresif jumlahnya juga tak bisa dibilang sedikit. Di bawah naungan panji-panji hak asasi manusia mereka keukeh bahwa LGBT adalah keniscayaan yang harus diterima dalam masyarakat majemuk sebagai bentuk kebablasankebebasan berekspresi.

Sampai di sini kita bisa memahami bagaimana keduanya sama-sama memiliki argumen yang kuat dan berdasar (semoga bukan pada ego masing-masing). Pada titik ini saya sih setuju dengan para teolog bahwa LGBT adalah hal yang dilarang agama dengan berbagai madhorotnya. Ngeri juga saya mbayangin kalau azab yang menimpa kaum Nabi Luth juga menimpa Indonesia. Wah bisa gagal upaya saya mribik gebetan. Tapi ya itu, sebagai pria yang mengerti betul rasanya penolakan tentu saya tidak tega membiarkan kaum LGBT terkatung-katung dikucilkan lingkungan. Betapa nestapa manusia yang hidup tanpa kepedulian dari manusia disekitarnya. Tak tega saya.

Pada kasus semacam ini, saya condong untuk mengandalkan keadilan dalam menentukan sikap. Aef lewat statusnya telah panjang lebar menjelaskan duduk persoalan LGBT yang tak hanya menyoal urusan titit. Melainkan juga harus diterima sebagai realitas sosial. Oleh karenanya kita perlu adil dalam memandang pelaku LGBT sebagai manusia yang punya hak untuk menentukan penggunaan seperangkat testis  yang menggelantung itu. Namun bukan keadilan seperti itu yang ingin saya tawarkan. Saya justru menyayangkan sikap kawan Aef yang cenderung permisif pada penyimpangan. Dalam konteks ini kok saya tidak melihat kegarangan kawan Aef yang biasanya tanpa ampun menghajar kelaliman. Gagasan kawan Aef yang menyeru ummat untuk memisahkan LGBT sebagai orientasi seksual dan sebagai manusia bagi saya tidak tepat. Amat sangat tidak tepat malah. Perlu diingat bahwa orientasi seksual merupakan bagian integral dari manusia manusia, jadi tidak bisa dipisah-pisah.

Keadilan yang saya tawarkan adalah keadilan genuine. Keadilan yang tetap perpegangan pada moral dasar manusia yang mestinya Watawa saubil haqi watawa saubil sobr. Keadilan di sini tidak menolak mentah-mentah kaum LGBTIQ sebagaiamana kaum moralis-fundamentalis lakukan. Tapi juga bukan penerimaan permisif sebagaimana yang kawan Aef tawarkan. Saya tegaskan di sini bahwa LGBT itu bukan penyakit tapi bisa menular. sekali lagi MENULAR, setidaknya itu menurut analisa Dek Bibit yang kemudian diperkuat oleh para peneliti dari Queen Mary’s School of Biological and Chemical Sciences dan Karolinska Institutet di Stockholm. Kok bisa? lah emang selama ini kamu pikir semakin bertambahnya jumlah LGBT karena keturunan? Awalnya mereka dilahirkan dengan insting penyuka lawan jenis, tapi karena pengaruh lingkungan dan pergaulan mereka berubah. Jika tidak ada sikap permisif lingkungan sulit bagi penyimpangan seperti LGBT ini berkembang. Lingkungan yang permisiflah membuat jumlah mereka bertambah signifikan.

Berikut adalah data yang di peroleh Gallup tentang peningkatan jumlah pendukung LGBT di Amerika.

Ok

Betul bahwa itu kan di Amerika, bukan di Indonesia. Tapi jika kita tidak melakukan langkah-langkah preventif maka kebiasaan di sana juga bisa dengan gampang pindah ke sini to? Buktinya minuman alkohol yang di sana dipakai untuk menghangatkan badan di musim dingin di sini dipakai untuk mabuk di suhu sekitar 28-34 derajat celcius dan banyak lagi kebiasaan sana yang sudah pindah ke sini yang tidak akan dibahas di sini tentunya.

Kembali soal keadilan Watawa saubil haqi watawa saubil sobr yang mana kita harus saling megingatkan dalam kebaikan dan berlaku sabar. Maka adil pada pelaku LGBT adalah bukan dengan melegalkanya dengan UU, membelanya dengan dalil kemanusiaan atau sebagainya. Ingat bahwa secara hakikat paling azasi manusia dicipta berpasang-pasangan. Adil pada mereka adalah dengan mengingatkan bahwa perilakunya menyimpang dan kita mesti meluruskanya sesuai porsi kita, bukan malah membiarkan mereka terjebak dalam penyimpangan. Barangkali yayasan sosial maupun pemerintah perlu membuat semacam panti rehabilitasi bagi mereka pelaku LGBT. Nanti pola pembinaan dan teknisnya seperti apa? entahlah saya juga tidak tahu sebagaimana saya tidak tahu kenapa artikel ini begitu serius.

Kalau begitu mari tertawa saja, sembari menunggu RUU perkawinan sesama jenis *ehh..

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga