Soal Rohingya, Waraskah Mengutuk Kebencian dengan Kebencian?

Pengungsi Rohingya

Para pengungsi dari Rohingya dipotret di atas kapal

Saat ini, sudah sulit untuk mengurai subjektifitas—dengan memisahkan agama, dalam memandang konflik di Myanmar. Tepatnya di negara bagian Rakhine, pada etnis Rohingya. Konflik yang mulai membesar pada 2012 ini kini tampil begitu pelik dengan melibatkan, memeagama, sosial, politik, ekonomi, dan etnis sekaligus. Hanya saja, sementara orang menyederhanakannya menjadi hanya tinggal konflik bersumber agama saja.

Pandangan yang begitu, tampaknya begitu disukai, atau paling tidak disambut gempita oleh orang-orang yang maunya praktis-praktis. Seperti sebagian orang Indonesia misalnya. Mereka menganggap seluruh Budha di Myanmar memusuhi orang Islam di sana. Dan oleh karenanya, orang Islam di sini harus membantu, dengan cara membunuh balik orang Budha. Malah kalau perlu, orang Budha di Indonesia. Paling tidak itu yang diprediksi oleh Muhyiddin Junaidi, yang ketua hubungan luar negeri MUI itu.

Saya juga kurang tau, kenapa konflik atas nama agama begitu laku di Indonesia. Bisa jadi karena membela dengan ilusi agama lebih transendens kali si yah. Ketimbang misalnya, membela etnis Rohingya dengan alasan kemanusiaan.

Ditambah, kebanyakan dari kita malas untuk sekedar mencari, membandingkan, dan memikirkan data-data yang sebenarnya sudah tersebar luas di tlatah jagad maya. Sehingga, karena kemalasan itu, lebih memilih mempercayai meme atau broadcast an provokatif yang seringkali menjadi “materi dakwah” grup-grup Watsapp.

“Para penyembah berhala yang telah membantai saudara-saudara kita kaum muslimin di Burma, memperkosa wanita-wanita muslimah, membakar dan mengusir mereka dari rumah-rumah mereka. . . APAKAH KITA TINGGAL DIAM?”

Itu adalah contoh bagaimana kalimat provokatif disebar. Sebagai penutup “dakwah” mereka kemudian mencomot dalil, yang belum tentu kontekstual, sebagai legitimasi propaganda itu. Dalilnya biasanya pake ayat 45 dari Surat Al Maidah yang intinya: “Jiwa dibalas dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka pun ada qishasnya.”

Dengan propaganda semacam itu, meskipun sebenarnya gampang dibantah, nyatanya gampang mendapat pendukung. Benih-benih kebencian pun mulai tumbuh. Ironisnya kebencian itu hadir bersama upaya merawat kasih sayang; meminta agar pemerintah dan penduduk Myanmar mengasihi umat Islam di Rakhine.

Kasus kekerasan yang menimpa umat Islam di Myanmar, atau yang menimpa umat Kristen di Sudan Selatan, atau yang menimpa umat Konghuchu di Tuban yang patung di tempat ibadahnya dirisak, adalah kasus-kasus yang patut kita sesali. Karena memang tidak seharusnya terjadi. Kasus itu bukan hanya berpotensi mencidrai hubungan antar agama, melainkan juga spirit kemanusiaan. Dan pada titik kemanusiaan inilah seharusnya kasus Rohingya lebih dikedepankan.

Selain lebih jernih, pandangan yang seperti itu juga memungkinkan para pengungsi ataupun yang masih bertahan mendapat dukungan dari pihak yang lebih luas. Semua agama dan etnis, atau yang masih berwujud manusia, bisa leluasa membantu. Tidak hanya dari kelompok Islam seperti yang dibingkai sekarang.

Selain itu, kita juga harus menyadari, bahwa kekerasan yang dilakukan oleh Juntai Militer Myanmar, yang seolah mendapat dukungan pemerintah dan penduduk mayoritas, tidak terjadi begitu saja. Ada begitu rumit alasan yang melatarbelakanginya. Dari mulai karena Rakhine adalah daerah kaya sumber daya alam, kecemburuan sosial, kewarganegaraan, upaya melanggengkan jabatan politis, hingga sentimen agama.

Namun yang menjadi alasan “resmi” militer adalah penyerangan pos-pos mereka yang sekali dua kali dilakukan oleh kelompok militan Rohingya, atas kekesalan mereka terhadap militer dan pemerintah. Pada level yang “lebih manusiawi” Indonesia juga pernah melakukannya pada GAM di Aceh dan OPM di Papua. Ohya tentu saja, ini tidak berarti menyamakan kekejian militer Myanmar dengan Bapak-bapak di Kodim yang ramah-ramah samak petani itu. Contoh di atas hanya ilustrasi saja, biar kamu ada gambaran.

Dan supaya lebih gamblang, bahwa ini bukan semata konflik agama, penduduk Myanmar itu sekitar 50 jutaan. 10 juta lebih mahal dari harga motor Ninja 4 takseperlima jumlah penduduk negara kita. Jumlah umat Islam mereka sekitar 4% dari total populasi. Artinya berjumlah sekitar 2 jutaan. Sementara yang tinggal di Rakhine—tempat di mana kekejaman itu berlangsung, sekitar 1 jutaan, alias separuhnya. Sementara umat Islam yang tinggal di daerah lain, relatif tidak ada gangguan. Selain itu, yang harus kamuk ketahui, di Rakhine sana mayoritas penduduknya ya beragama Budha. Itu menunjukkan bahwa militer tak cuma merusuhi kaum muslim di sana, yang Budha juga.

Pengungsi Budha di Rohingya

Kaum Budhis yang turut mengungsi karena terancam kerusuhan, (sumber reuters)

Maka kemudian wajar, sebagian penduduk yang beragama Budha juga ikut menjadi pengungsi karena desa-desa mereka dijadikan medan perang (lebih tepatnya bakar-bakar) oleh militer, yang sesekali mendapat balasan dari para militan. Yang tidak wajar itu treak-treak menentang kekejaman pada kaum minoritas di Myanmar tapi sendirinya paling semangat kalo ngrusuhin kepercayaan minoritas di negeri sendiri.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Choirul Huda
Mati Bahagia a la Choirul Huda
Pribumi Indonesia
Kenapa Kanda Anies Dilarang Menggunakan Kata Pribumi?
Permasalahan Pangan Indonesia
Yang Perlu Dicatat Setelah Hari Pangan Berlalu dengan Kesunyian
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah