Soal Rohingya, FPI ini Menyakralkan Apa? Agama atau Ilusi atas Agama

FPI Jihad Rohingya

Jihad sebaiknya tidak hanya bersenjatakan jari menodong jidat

Dalam tafsir hidup dualisme, selalu muncul pandangan binner yang memisahkan apapun di bumi ini dalam dua hal. Maka tidak asinglah kita pada dua kutub yang seakan saling menegasikan; benar-salah, siang-malam, jiwa-raga, baik-buruk, cakep-kamu. Tak terkecuali dalam kehidupan beragama. Maka kemudian kita mengenal dikotomi sorga-neraka, sakral-profan, halal-haram, atau yang paling trend; kafir-syukur. Meskipun sementara orang menyandingkan kafir—yang asal katanya menutupi karunia, dengan iman.

Dengan semakin membatunya pandangan demikian, dunia, yang sejatinya warna-warni ini, menjadi sesederhana hitam-putih. Tidak ada abu-abu, coklat, apalagi merah jambu.

Yang menyedihkan, kita ternyata juga kesusahan membedakan mana yang suci mana yang profan, mana yang wahyu illahi mana yang duniawi. Misalnya saja, soal mana yang suci, Alquran dalam arti kitab yang terbuat dari kertas atau hudallinnas, Masjid dalam arti bangunan atau tempat sujud. Identifikasi-identifikasi yang kabur tersebut membuat kita sulit untuk menemukan kerangka pijakan yang jernih. Tanpa tendensi dan subjektifitas.

Urusan makin pelik jika kemudian, dari pemaknaan yang kabur itu, kita gunakan sebagai justifikasi atas sikap pribadi atau untuk menghakimi orang lain. Hal tersebut juga makin diperkuat dengan cara pandang umat beragama yang menempatkan kitab sucinya (Alquran) tertutup dan anti dialogis. Atau kalau meminjam istilahnya Muhammad Arkoun disebut korpus resmi tertutup.

Padahal Alquran, baik dianggap sebagai makhluk maupun tidak, adalah sesuatu yang luas maknanya. Dan karena keluasannya, ia seolah hidup dan mampu menjadi penuntun umat dari zaman ke zaman.

Sebagai buah dari kritalisasi pemikiran tertutup pada Alquran, menjadi hanya boleh bertafsir tunggal. Alquran—yang mukjizat paling agung itu, menjadi sesempit pemikiran kelompok tertentu yang memiliki cukup power untuk mengancam tafsir lain diluar tafsirnya. Mereka seolah memiliki kewenangan tunggal dan karenanya berwenang pula memaksakan tafsir tunggal tersebut kepada kelompok lain, jika tak mau dianggap sesat lalu dijatuhi hukuman.

Padahal, perkara menjatuhkan hukum pada tafsir kitab suci itu ya “wilayah kerja” Tuhan.

Pada kasus terakhir, pandangan kabur soal agama dan tafsir agama, atau dalam bentuk yang lebih konkret: Alquran dan tafsir atas Alquran, digunakan untuk membaca konflik Rohingya. Oleh FPI tentu saja. Mereka, dengan jejaring wilayahnya, konon telah menghimpun 10 mujahid yang siap mati di medan laga.

Saya, bersama manusia normal lain, tentu saja bersimpati pada pembantaian, pengusiran, pemerkosaan, dan penyiksaan yang dialami oleh segenap warga Rohingya. Tapi tetap saja, simpati tersebut tidak bisa dijadikan landasan untuk melakukan tindakan ceroboh yang justru berpotensi memperkeruh situasi. Sekalipun iming-imingnya jihad untuk masuk sorga.

Apalagi jika alasan untuk menyatakan perang didasari tafsir yang belum tentu mewakili arti sebenarnya dari Alquran. Soal jihad itu.

Bahwa Alquran adalah benar dan meriwayatkan beberapa ayat tentang jihad itu memang iya. Tapi tafsir orang tentang Alquran boleh salah. Dan pada hal-hal yang sekrusial nyawa banyak orang tentu kita tak boleh coba-coba apalagi iseng. Yang paling wajar, tentu adalah mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Soal rencana sepuluh ribuan orang untuk menyerbu Rakhine, Myanmar adalah tindakan yang tidak mencerminkan kehati-hatian. Itu jika tak mau disebut gegabah. Sebab selain konflik Rohingya tak melulu soal agama—sebagaimana digembor-gemborkan sebagai alasan jihad, kalkulasi kemenangan menjadi begitu kecil. Itupun jika seruan perang sebagaimana diserukan Jubir FPI, Slamet Maarif, bukan pepesan kosong.

10 ribu orang, dengan senjata ala kadarnya, tentu bukan lawan sepadan bagi 400.000an tentara Myanmar dengan 592 unit tank, 1.300 kendaraan lapis baja dan ratusan meriam, peluncur roket dan artileri medan. Belum lagi pesawat jet, pembom strategis, dan kapal-kapal perangnya.

Ohya sebelum mikir sampai situ, itupun kalo mereka lolos di emigrasi ding.

Kembali pada rencana jihad itu, Myanmar takkan tinggal diam dengan 10 ribu potensi distabilitas negaranya. Saya kira, militer mereka takkan membiarkan pesawat komersil atau kapal atau bus yang ditumpangi 10 ribu mujahid bentukan FPI sampai di bandara atau pelabuhan atau terminal dengan tenang. Apalagi menyambutkan dengan kalungan bunga sebagaimana lazimnya tamu negara.

Lagipula, apakah mereka merasa setelah militer mereka pukul mundur dengan pentungan, umpamanya, lalu Rohingya akan mendapat pengakuan kewarganegaraan dan kondisi Rakhine stabil tanpa pernah diganggu lagi oleh militer?

Jika iya, lekas berangkatlah jihad.

Baca tulisan-tulisan lain seputar konflik berbumbu agama di esensiana:

  1.  Soal Rohingya, Waraskah Mengutuk Kebencian dengan Kebencian?
  2.  Membaca Ulang Konflik Suriah
  3.  Islam Sumbu Pendek dalam Pusaran Politik Indonesia

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Perbedaan Islam
Islam Nabi, Islamku, Islammu, dan Islam Kita
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Terkuaknya Saracen
Terkuaknya Saracen dan Perintah Islam dalam Berhati-hati Menyikapi Berita
Kisah Rumi
Pelajaran dari Guru Jalaluddin Rumi: Membeli Ciu dan Ajaran Tauhid
Hadratusyeikh
Hadratusyeikh Bukan Gelar Pesanan