Soe Hok Gie Lahir Kembali

Kisah perjalan hidup soe Hok Gie hanyalah potongan cerita perjuangan pemuda yang begitu peduli dengan bangsanya, sebuah realita pergerakan yang tak berujung. Namun tidaklah bijak jika kisahnya hanya dijadikan prasasti tertulis dan cerita legenda peradaban. Ada api yang harus di ambil, ada kata yang harus ditafsir, dan ada gagasan yang harus dimanifestasikan. Tentu, di surga, Gie masih berharap mimpinya ada yang mewujudkan. Lahirnya Gie di era kapital ini tentu amatlah sulit diharapkan, tetapi tentu tidaklah berdosa jika berharap kesulitan itu teratasi .

Reinkarnasi Soe Hok Gie

Cerita Gie adalah sebuah refleksi keadaan, dan kata – katanya adalah sebuah tanda zaman. Tentu berbeda antara era Soe Hok Gie dan era saat ini. Namun sabda dan pemikiran Gie yang begitu transenden benar–benar melampaui zamannya. Tetap relevan diterapkan pada zaman ini. Gie telah berhasil menanamkan pondasi idealisme dengan begitu kuat lewat kata–kata sebagai perlawanan. Gie telah menunjukan bahwa perjuangan yang disertai kebulatan tekad pasti menuai hasil. Ia terbentur, terbentur, terbentur, lalu terbentuk.

Kisah Gie jika dikontekstualkan pada keadaan pemuda hari ini tentu ada satu bagian yang hilang, yaitu Idealisme dan konsistensi perjuangan. Semangat perjuangan Gie tak lagi nampak pada era ini. Semua terendap dan tertindih oleh perilaku modernitas–yang konon harus diikuti dengan penghambaan pada westernitas–hingga legenda Gie tak mampu membangkitkan nalar kaum muda untuk bangkit.

Sejatinya kisah Gie adalah sebuah perenungan mendalam untuk kaum muda hari ini, bawa masih ada harapan untuk meraih kemenangan dalam perjuangan, masih ada harapan untuk mengembalikan kebenaran pada tafsir yang seharusnya.

Kaum muda saat ini mengalami tantangan yang tidak kalah berat. Musuh tersanding didepan mata namun terlihat samar, dimana kebaikan dan kebenaran dijadikan sampul pada isi buku yang penuh kejahatan. Ada nilai yang dapat diambil dari Gie untuk dilakukan pada saat ini, yaitu ketahanan nalar idealisme berfikir orang muda dan kehati – hatian menilai. Dulu Gie menjadi orang yang sangat teliti dalam menilai sesuatu, dan nalar kritisnya mendorong Gie pada dinding idelaisme yang tak tergoyahkan. Amat sangat berbeda dengan kaum muda hari ini yang menaafsir idealisme pada takaran pragmatisme, sehingga hanya ada sehelai benang tipis yang membatasi idelisme dan pragmatisme.

Nilai – nilai yang diwariskan oleh Gie harusnya menjadi perenungan mendalam bagi pemuda era ini. ada banyak hal yang bisa dilakukan saat ini untuk melanjutkan perjuangan Gie. Terlepas dari perbedaan dimensi waktu antara era perjuangan Gie ketika bangsa belum benar – benar tertata daan era saat ini ketika tatanan bangsa hilang. Perbedaan dimensi waktu ini mengharuskan pemuda pada era ini untuk memperbaharui arah perjuangan. Tentu suda tidak relevan pada era teknikalitas seperti saat ini pemuda bergerak dan berjuang secara konvensional.

Kaum muda era ini dapat mengkontekstualkan nilai–nilai yang di tinggalkan oleh Gie dengan langkah–langkah perjuangan yang kongkrit dan memiliki dampak yang signifikan pada masyarakat. Jika dulu Gie melawan dengan masa dan sikap independensi yang kuat serta dengan propaganda–propaganda tulisan dan kata–kata, maka kaum muda hari ini mesti selangkah lebih maju dari itu. Yaitu dengan penyadaran melalui pencerdasan dan pemberdayaan kepada masyarakat. Karena sejatinya Gie mencoba mengabarkan pada kaum muda era hari ini bahwa hanya people power lah yang dapat melawan tirani kedzoliman.

Jika melihat keadaan hari ini, masyarakat dibingungkan dengan “samarnyakeadaan dalam artian antara yang benar dan yang salah, maka pencerdasan melalui jalur tulisan apalagi forum–forum formal bukanlah menjadi suatu solusi, maka penyadaran dan pencerdasan melalui pemberdayaan masyarakat bisa menjadi pola agitasi yang dapat dilakukan kaum muda pada hari ini.

Selain pada ranah perjuangan kaum muda era ini juga dapat mengambil nilai–nilai yang di wariskan Gie dari jalan kehidupannya yang dipenuhi oleh keresahan–keresahan berfikir tentang keadaan. Keresahan berfikir Gie kemudian diluapkan dengan membuat karya–karya berupa tulisan. Gie menelurkan buah fikirnya pada karya dan membuktikan bahwa dia tak hanya bisa bertriak, tapi memiliki prasasti karya. Hal ini lah yang kemudian hari ini hilang dari diri kaum muda hari ini yang tidak berfikir untuk menelurkan karya.

Kemalasan dan stagnasi berfikir menjadi penyakit akut yang menempel dalam diri kaum muda saat ini sehingga berpengaruh pada kehidupan yang monoton, nalar kreatif dan inovatif terendap, semangat untuk kemajuan bahkan untuk dirinya sendiri tidak di miliki oleh kaum muda hari ini. Oleh karena itu tak ayal jika kaum tua dengan enteng meremehkan kaum muda hari ini. Sebabnya tidak ada karya yang dilahirkan oleh kaum muda sebagai bukti kompetensi dan pencapaian prestasi. Maka lagi–lagi kaum muda hanya puas menjadikan Gie sebagai sosok legenda dan pendiri hobi.

Maka untuk melahirkan kembali semangat Gie pada era saat ini, kaum muda perlu menjadi manusia yang tidak hanya idealis dan bersemangat. Namun perlu juga menjadi manusia yang memiliki kompetensi, berkarya, dan berprestasi. Hal ini menjadi penting karena bagaimana pun takdir kaum muda salah satunya adalah menjadi penggerak dan inisiator perubahan. Buktikan kepada dunia bahwa Indonesia juga memiliki generasi emas dengan segudang bakat dan pencapaian.

Gie telah mencontohkan itu, dia citrakan Indonesia sebagai bangsa yang memiliki kaum muda teguh pendirian, kritis dan memiliki karya sebagai prasasti serta memiliki nilai – nilai hasil kontemplasi fikir yag mendalam dan begitu transenden, sehingga pemikirannya dipakai sampai hari ini. Soe Hok Gie akan terlahir kembali apabila kaum muda hari ini menyadari tugas fungsi dan kewajibannya sebagai anak bangsa. Maka sedikit mengutip sebuah quotes “Belajarlah yang tinggi, kembangkan bakat dan kebisaanmu, jadilah dokter, insinyur, guru,ulama,pejabat bahkan penguasa, namun lakukanlah kebisaanmu itu untuk kebermanfaatan bagi masyarakat dan Indonesia”.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga