Sosialisasi Panduan Geowisata Kebumen

Kondisi saat ini adalah kunci memahami masa lalu, jika di inggriskan “The Present is the key to the past” kata penekanan dari Ir. Chusni Anshori, MT. Dalam sosialisasi buku pedoman Geowisata pada Jum’at, 03/02/2016 di ruang Mensa Sukendar Asikin, Kompleks LIPI Karangsambung. Dihadiri lebih dari 30an anggota Forum ‘Ayo Urip’, LIPI, komunitas pecinta alam, pegiat masyarakat, dan unsur pemerintahan desa.

Acara ini terlaksana berkat gagasan-gagasan baik yang berawal dari forum diskusi Grup WhatsApp Ayo Urip, diprakarsai oleh Ahmad Murtajib. Hal tersebut disambut baik oleh pihak LIPI. Edi Hidayat, ST, MT, selaku kepala museum Geologi LIPI Karangsambung mengatakan, acara seperti ini diharapkan dapat menambah pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi geologi yang harus di kawal bersama.

Berawal dari diskusi dunia maya, WhatssApp grup berkembang menjadi forum rembugan bersama soal isu-isu strategis yang berkembang di Kebumen. Forum tersebut terdiri atas berbagai latar belakang dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kebhinekaan dan saling berbagi wawasan untuk membentuk simpul-simpul pemikiran kaya manfaat.

Sabur Hendrian, dari Komunias Kota Pusaka Gombong (KOPONG) membawakan puisi karya Ness Kartamiarja, dalam memoar anti terorisme yang berjudul “Dimana Bidadari”. Aris Panji WS (penggiat sastra) pun turun andil menggetarkan ruangan dengan deklamasi puisi.

Sosialisasi ini disambut positif oleh para peserta yang terdiri atas berbagai disiplin ilmu dan elemen masyarakat. “Harapannya, akan semakin hidup pertemuan acara-acara seperti ini yang nantinya menghasilkan sesuatu yang kongkrit sebagai tindak nyata” ungkap Eko, pegiat Gusdurian Kebumen.

Kepala Desa Seboro, Teguh Tri Marwanto menyatakan dukungannya tentang pengembangan geowisata di Kebumen, sebab yang dahulu lantai dasar samudera adalah Desa Seboro sekarang ini.

Menurut Chusni, Pemaparan buku panduan ini bertujuan untuk mengungkapkan hasil riset mencangkup daerah sepanjang pantai selatan dan rangkaian pegunungan serayu bagian selatan. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengenalkan proses-proses terjadinya alam secara keilmuan yang nantinya dapat menjadi wisata edukatif.

Sebagian besar wisata secara umum mengandalkan alam. Artinya, geowisata sangat dianjurkan berkembang di Kebumen. Proyeksi tentang kepariwisataan ke depannya banyak yang menginginkan pada minat khusus. Tidak hanya mengandalkan pemandangan dan wahana kekinian saja, tapi ada apa dibalik keindahan di dalamnya.

Contoh faktanya adalah Karangsambung, dahulunya adalah dasar samudera yang berada di kedalaman 4.000 m. Bukti ditemukannya fosil radiolaria yang hidup pada masa miosen, saat itu pulau jawa baru saja terbentuk. Dalam geologi, batuan adalah semacam black box yang menyimpan banyak misteri yang dapat mengungkapkan suatu kejadian.

Indonesia terdapat rangkaian gunung, karena ada pergerakan lempeng yang terus bergerak 6-10 cm per tahun. Ini yang menyebabkan banyak gempa. Karangsambung dapat terangkat dari dasar samudera karena ada energi dari dalam bumi yang disebut tenaga endogen. Kerap dijumpai ketika ada rangkaian pegunungan, maka ada daerah pertumbukan antar lempeng. Ibarat kompor, ia memanaskan terus menerus hingga airnya mendidih dan menimbulkan tekanan ke atas.

Banyaknya rangkaian gunung itulah, sering orang bilang kalau Indonesia adalah supermall-nya bencana. Hal tersebut berimbang dengan kekayaan alam yang banyak tersebar di penjuru nusantara. Kita harus mensyukurinya. Ini merupakan potensi yang bisa dikembangkan untuk destinasi wisata dan edukasi.

Chusni menambahkan, perencanaan wilayah Geokarst akan dikomunikasikan dengan pihak pemda, mengingat Kebumen memiliki potensi yang luar biasa dan tergolong kompleks, serta diperlukan kesadaran bersama untuk menjaga kelestariannya.

Dalam sesi tanya jawab, Sigit perwakilan dari RMT menanyakan tentang pegunungan serayu selatan  yang mencangkup daerah sempor. Pak Hargo Yohanes, tokoh budayawan menambahkan tentang bukit indrakila yang ternyata ada legokan dan tuk air tak habis-habis. Mbah Min, tokoh sesepuh meminta penjelasan tentang formasi melang sebelah utara Karangsambung, “mengapa bisa keadaan batuannya berbeda-beda”?

Di sisi lain, hadir juga praktisi goa, Rasyid. Mengusulkan dan menanyakan temuannya di sekitar Argosari yang terdapat bau sulfatara (S), tapi belum ditemukan mengenai jejaknya, hanya saja terdapat tanah yang masih panas, ditemukan juga kandungan emas (Au) yang masih berupa pirit ini membuatnya kaget dan penasaran, soalnya di Nglanggeran Gunung Kidul tidak ada hal yang demikian. Ia berharap lokasi tersebut dimasukan dalam destinasi Geo Traill  karena hal tersebut termasuk unik dan langka.

Chusni menambahkan, mineral Au memang biasanya berasosiasi dengan mineral yang mengandung sulfur seperti pirit dan kalkopirit karena pembentukan Au di Argosari terkait dengan proses hidrotermal yang dihasilkan dari aktivitas gunung api. Dalam pembahasan sosialisasi, akan ada 13 spot rekomendasi Geo Traill  yang sedang dirembug bersama pemda terkait Geowisata.

 

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga