Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah

hijrah

Hijrah bukan migrasi

Hijrah merupakan peristiwa besar yang menjadi tonggak kejayaan masa dakwah Nabi. Dari perjalanan hijrah inilah Nabi berpindah baik diri sisi lokasi dakwah hingga metodenya. Dan, barangkali, sebab kebesarannya itu, peristiwa hijrah dijadikan sebagai awal penanggalan kalender Islam. Kalender yang hari ini memulainya harinya di tahun 1439. Selamat Tahun baru ya Cuk.

Sejak tanggal 16 Juli 622 masehi,  1 Muharram alias hari ini, ditetapkan sebagai tahun 1 hijriyah. Ya emang sih, fakta sejarahnya perjalanan hijrah Nabi ke Madinah terjadi pada tanggal 13 September 622 masehi. Atau bertepatan dengan tanggal 27 Shafar tahun keempat belas kenabian.

Lakok, sebelum Nabi hijrah sudah ada bulan Shafar? Laiya memang Nabi menggunakan kalender bikinan, uhuk, kaum Jahiliyah “kafir” itu kok. Sampai akhir hayat. Kalender yang hari ini disebut sebagai kalender Islam baru ditetapkan pada masa kepemimpinan Umar (Yang Diridhoi Allah). Adapun nama-nama bulan sama dengan kalender sebelumnya, yang dipakai kaum Jahiliyah. Perbaikannya ada pada penghapusan praktek interkalasi, semacam praktek penambahan waktu beberapa minggu atau bulan agar siklusnya tetap sama dengan kalender masehi.

Tapi apapun itu, spirit yang diambil terkait permulaan tahun Hijriyah memang keren abis. Sebagai babak baru dari sebuah perjalanan hidup.

Berhijrah jika bukan dimaknai sebagaimana orang-orang  Asia Selatan memaknainya diartikan sebagai sebuah lompatak kebaikan. Dalam konteks kekinian, berpindah dari satu tingkatan akhlak (yang lebih rendah) ke tingkatan akhlak yang lain (yang lebih luhur). Lain kalo orang-orang Pakistan, Bangladesh, atau India memaknai hijrah.

Di sana hijrah digunakan untuk merujuk orang yang berpindah kelamin. Maksudnya berpindah orientasi penggunaan kelamin.

Kembali ke soal hijrah, dalam arti Indonesia tentu saja, merupakan fenomena yang sekarang sedang banyak dibicarakan dan dikerjakan orang. Sebagai sebuah peningkatan akhlak tentu itu baik. Tapi pada titik tertentu hijrah seringkali disederhanakan hanya tinggal urusan pilihan busana, atau perihal mengurangi sentuhan dengan dunia luar saja. Akhirnya hijrah menjadi ahistoris dan kehilangan banyak kebermanfaatannya.

Hijrah sebagai sebuah peristiwa sejarah

Sebagai sebuah peristiwa sejarah, hijrah bermula ketika Nabi mulai mendapat banyak ancaman. Dan karenanya dakwah yang dilakukan di Mekkah menjadi kurang efisien. Puncaknya ketika kaum musyrik Quraisy, dari hasil rapat besar di bangunan sebelah utara Ka’bah, memilih pemuda-pemuda tangguh dari berbagai suku untuk membunuh Nabi. Informasi telik sandi itu kemudian bocor ke Nabi, sehingga dengan berbagai pertimbangan beliau memutuskan untuk behijrah.

Sebelum malam yang direncanakan untuk membunuh Nabi, Nabi meminta Ali untuk tidur di kamarnya, lengkap dengan pakaian yang biasa beliau kenakan saat tidur. Untuk mengelabui para pembunuh pastinya. Dengan strategi semacam itulah Nabi lolos dari rencana pembunuhan. Tentu itu semua atas izin Allah.

Usai peristiwa itu, pada tengah siang yang terik, Nabi menemui Abu Bakar. Lalu beliau berdua mengatur strategi untuk melakukan perjalanan hijrah. Dari situ disepakati waktu dan rute hijrah. Di tengah pekat malam, pada 27 Shafar, Nabi keluar dari pintu belakang rumah Abu Bakar, yang berjalan mengikutinya untuk menuju Gua Tsur. Nabi melakukannya dengan amat hati-hati. Bahkan karena kehati-hatianya, sebagian riwayat mengatakan Nabi berjalan dengan ujung jari-jari kakinya agar tak meninggalkan jejak yang jelas. Sesampainya di gua, Nabi dan Abu Bakar mengatur strategi lanjutan.

Dan beberapa peristiwa ajaib terjadi di sana. Yang paling tenar dan diajarkan di sekolah-sekolah adalah peristiwa laba-laba yang membuat jaring sesaat setelah dilewati Nabi untuk menutupi jejaknya. Selama tiga malam Nabi dan Abu Bakar bertahan di gua. Setiap malam, Abdullah—putra Abu Bakar, dan ‘Amir bin Fuhairah—bekas hamba sahaya Abu Bakar, mengirimkan bekal dan berita soal dinamika kota Mekkah.

Setelah hari ketiga di gua, dengan memperhitungkan dimamika di Mekkah, Nabi dan para Muhajirin melanjutkan perjalanan ke Madinah dan sesampainya di sana disambut  dengan begitu meriah. Masyarakat, termasuk wanita dan anak-anak, mengelu-elukan beliau dengan pujian dan syair-syair indah.

Terbitlah purnama di atas kami… dari arah Tsaniyat al-Wada….

Wahai yang diutus pada kami, Engkau datang dengan perintah yang dipatuhi”.

Demikian penggalan syair yang menggambarkan betapa antusias penduduk Madinah menyambut Nabi.

Usai penyambutan itu, Nabi bersegera membangun strategi dakwah yang makin membumi. Dari yang semula dakwah menggunakan metode pendekatan personal menjadi dakwah dengan pendekatan sosial kenegaraan. Menjadi lebih terbuka dan luas jangkauannya. Juga meletakkan dasar-dasar pemerintahan negara. Salah satu yang paling monumental adalah disepakatinya Piagam Madinah sebagai konstitusi saat itu.

Dengan mencermati sejarahnya, hijrah mestinya kita baca sebagai spirit membangun relasi sosial yang lebih luas. Bukan malah sebaliknya, menutup diri dengan apologi: maaf saya telah berhijrah atau Alhamdulillah saya sudah berhijrah atau yang lain apapun itu. Hijrah mestinya bicara soal kebermanfaatan bagi semakin banyak orang, bukan sekedar berganti selera pakaian.

Adapun pakaian menjadi penanda itu iya. Tapi tetap saja, di tengah carut-marut kondisi kita hari ini, umat, sebut saja begitu, lebih butuh kerja nyata ketimbang Rawis, Paris, Hana atau Phasmina.

Baca artikel lain seputar hijrah di sini.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga