Suka Duka Jadi Mahasiswa Kebidanan

Suka duka mahasiswa Kebidanan

Sudah kuliah mahal, saingan banyak, jaminan profesi tak punya.

Sebuah profesi akan berdiri kokoh jika ada organisasi yang menaunginya. Tentu tidak itu saja, peraturan yang jelas, birokrasi yang ringkas, dan pendidikannya yang kuat juga mempengaruhi. Salah satu profesi tua yang masih tertatih-tatih menata ketiganya adalah bidan. Profesi bidan sudah berdiri kokoh dari zaman Hindia Belanda. Sejak zaman Belanda ngacak-acak negara ini sudah disadari, banyaknya kematian ibu dan bayi yang sangat tinggi dikarenakan, salah satunya, minimnya jumlah bidan. Sejak itulah prosefi bidan eksis untuk mengatasi masalah tersebut.

Sampai di sini ingat ya, kalau ada permasalahan terkait profesi itu jawabnya ke sumber masalah bukan takdir.

Walaupun bidan adalah salah satu profesi tertua namun hingga saat ini belum mempunyai undang-undang khusus untuk menaunginya. Saat ini, yang menjadi landasan hukum para bidan adalah Peraturan Menteri Kesehatan atau sebut saja Permenkes. Konon sih sudah muncul RUU yang mungkin sebentar lagi akan menjadi Undang-Undang, tapi ya itu, wacana melulu.

Belum selesai urusan hukumnya, urusan jumlahnya sudah riweh saja. Saat ini memang sudah banyak pendirian sekolah bidan di Indonesia yang menyebabkan membludaknya profesi bidan. Sebenarnya kalau dibilang di Indonesia sudah terlalu banyak bidan itu tidak sepenuhnya benar. Lebih tepat masalahnya adalah pemusatan konsentrasi bidan. Karena kebanyakan bidan di Indonesia mengumpul jadi satu di kota-kota besar. Membuat sebagian dari mereka menganggur karena terlalu banyak lulusan bidan yang belum berkerja.

Sementara di daerah terpencil seperti NTT, NTB, Papua, Kalimantan, Sulawesi khususnya di desa-desa terpencil di dalamnya belum ada bidan yang praktek. Tidak meratanya profesi bidan bisa dikarenakan belum adanya undang-undang kebidanan yang akan melindungi bidan dan mensejahterahkan bidan dalam menjalankan tugasnya. Walhasil para bidan enggan mengabdi di daerah-daerah terpencil. Inilah yang menyebabkan bidan harus segera mempunyai UU yang bisa menjadi payung hukum dalam mensejahterakan bidan baik dari segi fasilitas maupun gaji yang layak. Untuk sekarang di daerah terpencil ada beberapa bidan yang tidak bertahan karena fasilitas yang tidak memadai sehingga kebanyakan profesi bidan belum berani praktek di daerah terpencil.

Jujur dalam hati saya masih bingung akan kemana saya akan pergi nanti setelah wisuda. Saya mahasiswa kebidanan vokasi, dan untuk sekarang lulusan bidan vokasi hanya boleh menjadi asisten bidan. Ia tidak boleh membuka BPM atau yang biasa disebut Bidan Praktek Mandiri. Ditambah sekarang ada peraturan bahwa bidan praktek mandiri tidak boleh menangani persalinan di BPM-nya. Inikan kayak kamu punya rumah tapi ga boleh tidur dirumah tersebut. ngehek.

Bidan harus merujuk ibu hamil supaya bersalin di Puskesmas. Mungkin itu dilakukan untuk menjamin keselematan pasien. Tapi apa itu juga berarti pemerintah tidak percaya pada kinerja bidan selama ini? Perlu diketahui, hampir 83% ibu hamil di indonesia melahirkan anaknya di bidan. Dari angka itu, hampir semua berjalan lancar. Kalaupun ada yang tidak itu bukan murni kesalahan bidan, lagipula jumlahnya sedikit. Ini kan mengurangi pencarian nafkah bidan. Di sisi lain untuk terjun ke dunia akademis pun harus menyelesaikan pendidikan strata magister. Sementara di Indonesia hanya ada 4 perguruan tinggi negeri saja yang memiliki otoritas untuk menyelenggarakannya. Yaitu Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Univeristas Hasanudin, dan Universitas Andalas. So ruang kami amat terbatas.

Kebanyakan beranggapan bahwa menjadi mahasiswa kebidanan itu enak. Nanti setelah lulus akan langsung jadi bidadari idaman eh bidan. Itu hanya anggapan kalian saja, pada kenyataannya jumlah bidan sudah membumbung tinggi. Kalau ingin mengabdi lebih dibutuhkan di desa-desa terpencil yang kurang fasilitas dan kurang keamanannya. Hidup itu keras bung!

Selama menjadi mahasiswa kebidanan pun tidak ada hal yang mudah dilewati. Biaya masuk sekolah kebidanan yang mahal ditambah biaya semesteran yang seakan-akan menjerat leher wali mahasiswa. Mau keluar sayang, mau lanjut, bagi yang ga kaya, kok ya besar banget biayanya.

Selama praktek kami harus siap mental dalam menghadapi berbagai macam tipikal pasien. Dan juga harus tahan banting menghadapi bidan dan senior berwajah singagarang ketika kita praktek di rumah sakit. Mungkin di mata mereka kami ini saingan potensialbocah bau kencur kali yak. Ketika disuruh harus selalu siap. Mengajarkan disiplin yang tinggi karena nyawa pasien adalah taruhannya.

Tentu masih banyak lagi tantangan yang harus dihadapi dalam menjalani proses pendidikan. Kadang aku mikir, saat menjadi mahasiswa saja masih banyak kesulitan apalagi setelah lulus ya. Terlebih bagi orang yang tidak mempunyai orang dalam di sebuah instansi kayak aku, akan susah masuknya pasti.

Entahlah semoga di perjalanan yang sulit ini akan menemukan tempat terindah nanti. Tapi ya jadi mahasiswa kebidanan tidak melulu susah sih. Ketika kami berhasil membantu persalinan, ketika tangis pertama si bayi pecah, ketika senyum para penunggu merekah, alamaaaak suenengnya.

 

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Choirul Huda
Mati Bahagia a la Choirul Huda
Pribumi Indonesia
Kenapa Kanda Anies Dilarang Menggunakan Kata Pribumi?
Permasalahan Pangan Indonesia
Yang Perlu Dicatat Setelah Hari Pangan Berlalu dengan Kesunyian
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah