Syarat Menikah itu Ada Pasangan, Mblo!

Seperti yang dikatakan orang-orang, Januari, hujan sehari-hari. Akronim yang sengaja dibuat dengan melihat kondisi setiap tahun pada awal bulan yang penuh dengan curah hujan. Intensitasnya hampir sama dengan undangan pernikahan yang mampir di rumah saya, entah diselipkan di bawah pintu masuk atau diserahkan secara langsung dan biar lebih up to date juga disampaikan melalui media sosial.

Perayaan pernikahan dimeriahkan pula oleh  saudara perempuan saya yang usianya lebih muda tujuh tahun. Akhirnya pertanyaan “kapan nyusul” tidak mungkin untuk tidak ditanyakan. Adakah yang merasa kesal dengan pertanyaan seperti itu? Saya tidak lagi. Sejak saya merasa perlu menerima konsepsi masyarakat yang sering kali berpandangan bahwa tingkat kesuksesan dan kebahagiaan perempuan seusia saya adalah menikah. Sedikit banyak ini dapat membantu mengurangi tingkat kecemasan atas penilaian dan penerimaan dari orang lain. “We don’t care what the people says,” kata Shawn Mendes dalam lagunya Life of the Party.

Pesta pernikahan saudara saya seperti perempuan suku Jawa yang lain, mengangkat adat Jawa dan ada kemeriahan tersendiri, juga akulturasi budaya dengan agama. Menjadi menarik ketika secara sengaja, saya mengunggah foto memakai riasan penuh. Beberapa menanyakan perihal apakah saya menikah dan dengan tegas saya menjawab tidak. Bagi saya menikah tidak perlu berias atau mengadakan pesta pernikahan. Saat ini, saya masih merasa pernikahan yang utama adalah akad dan tercatat di lembaga negara. Artinya, cukup datang ke KUA dengan pasangan, semua sudah beres. Sah menurut agama juga negara. Sebab kebetulan sekali, negara hanya melegalisasi pernikahan yang sudah disahkan secara agama.

Bagaimana jika keluarga menginginkan diadakan pesta? Bukankah pernikahan bukan mengenai dua orang saja, melainkan dua keluarga?

Ada hal-hal yang menurut saya tidak perlu dilakukan. Cukup makan bersama dengan keluarga dan teman-teman terdekat. Barangkali saya terlalu mengikuti ego untuk tidak perlu repot-repot menghabiskan dana dan tenaga untuk merayakan pernikahan. Tidak ada syarat wajib mengadakan pesta pernikahan. Tapi apapun pilihan seseorang mau merayakan atau tidak itu sudah menjadi keputusan masing-masing pasangan.

Bagi saya, jelas hal paling penting dalam pernikahan adalah adanya pasangan. Mengapa saya katakan demikian? Karena tidak mungkin jomblo-jomblo seperti kita bisa lolos seleksi masuk pintu KUA kalau tidak ada gandengannya. Pasangan bisa siapa saja yang dianggap telah bersedia memberikan komitmen untuk sama-sama membangun rumah tangga. Tidak perlu orang yang dicintai, syukur kalau mendapatkan yang sama-sama saling cinta.

Di Indonesia, pasangan telah ditetapkan harus dari jenis kelamin yang berbeda tapi kalau sudah beda agama bisa lain cerita. Pernikahan di Indonesia ternyata juga tidak terlepas dari hal gaib sehingga tidak jarang ada pemberitaan yang menyampaikan mengenai pernikahan manusia dengan jin. Tidak ada yang santer untuk menolak. Sampai sekarang pernikahan semacam itu masih ada. Bahkan yang terbaru, di Gunung Salak, Bogor, ada yang sampai berpoligami dengan jin. Ada penghulu dan ritual tertentu yang dilakukan dengan tujuan agar hidup sejahtera.

Sementara di negara lain, seperti Belanda, sudah melegalkan pernikahan antar manusia yang berjenis kelamin sama. Untuk Indonesia, hal ini masih sangat aneh dan barangkali menjijikan. Manusia sering kali ketakutan bahwa hidup seseorang tidak akan bahagia jika tidak seperti mereka. Atau hidup akan sengsara jika ada orang yang berbahagia dengan cara yang dianggap berbeda. Seperti, pandangan bahwa kebahagian seorang perempuan terletak pada pencapaian waktu pernikahannya.

About The Author

Reply

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Menilik Perjalanan Secangkir Kopi
Sekuler, Akar Istilah dan Perdebatan-perdebatan yang Menyertainya
Memo untuk Washington
Syarat Menikah itu Ada Pasangan, Mblo!
Cara Mudah Move On dari Mantan yang Sudah Kadung Dicintai ala Sigmund Freud
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Memo untuk Washington
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif