Tantangan Intelektual Muslim di Indonesia

Tantangan intelektual muslim

Selain banyak, agaknya ulama juga harus progresif.

Jumlah Ulama di Indonesia dengan China atau Amerika tidak sebanding. Di Indonesia jumlahnya sangat banyak sekali. Jika dibandingkan dengan seantero benua Eropa pun, jumlah agamawan di Indonesia jauh lebih banyak. Ini memang bukan hitungan ilmiah. Hanya perkiraan dengan hitungan jumlah pemeluk Islam. Jika umat Islam banyak, maka tentu ulamanya juga banyak.

Jumlah ulama yang banyak ini dengan nyata dan jelas tidak bisa membuat negara ini menjadi makmur. Negara ini tetap saja miskin. Dengan tegas saya katakan bahwa istighosah, majlis dzikir, pengajian dan pondok pesantren yang dielu-elukan banyak orang bukanlah solusi atas permasalahan negara baik dalam level makro maupun mikro. Barangkali agama, secara umum hanya mampu menjadi sebatas penenang hati.

Benarkah demikian bahwa agama hanya jadi penenang hati? Tentunya tidak. Yang benar adalah bahwa agama salah dipahami. Ajaran agama didominasi oleh ajaran yang berorientasi pada masalah-masalah ukhrowi yang terputus dengan persoalan duniawi. Berbeda sama sekali jika menilik sejarah baik pada masa nabi, sahabat dan masa kejayaan dinasti. Betapa agama pada waktu itu menjadi solusi yang mutakhir sehingga banyak yang tertarik untuk masuk Islam. Hari ini ajaran agama hanya direduksi pada masalah-masalah sepele terkait furuiyah. Kajian Fikih masih mendominasi ajaran agama. Di pondok pesantren ngaji fikih dilakukan berkali-kali. Yang membedakan adalah kitab dan pengarangnya.

Sejak kapan sebenarnya Islam menjadi begini, khususnya di Indonesia. Agama menjadi membosankan umat karena tak mampu mengeluarkan masyarakat dari kemiskinan, budaya korupsi dan perilaku buruk lainnya. Dulu nabi Muhammad pada masa Jahiliyah bisa mengajarkan hal yang dibutuhkan umat manusia. Mulai dari pengurangan perbudakan, perdamaian negara, mengenalkan perekonomian dengan sistem yang tidak merugikan kedua pihak dan menghapus diskriminasi kepada perempuan. Sehingga Islam menjadi solusi yang dibutuhkan manusia.

Ilmu pengetahuan berkembang sedikit demi sedikit setelahnya sehingga tamaddun mewujud, masyarakat sejahtera dan Islam menjadi daya tarik tersendiri bagi umat manusia. Namun kemudian digerogoti oleh politik kekuasaan dan ajaran-ajaran yang menjauhkan umat Islam dari berpikir filsafat. Sedang oleh masayarakat Barat, justru filsafat inilah yang dikaji sehingga melahirkan disiplin ilmu yang banyak sampai hari ini. Dalam Islam sendiri, cabang pengetahuan tersebut baik sosial science maupun natural science tidak dianggap sebagai ilmu agama. Yang dianggap agama hanya sebatas akidah, fikih dan akhlak. Dan jadilah umat Islam seperti hari ini. Miskin, kalah, pengemis dan korup.

Lulusan pesantren yang kuliah ke laur negeri lagi-lagi mempelajari akidah, fikih dan akhlak. Kembali ke Indonesia tidak membawa perubahan yang signifikan selain hanya mengajar santri hal-hal yang tidak revolusioner. Posisi ini terus saja dipertahankan. Oleh sebagian kalangan dianggap sebagai sebuah prestasi. Padahal sebenarnya tidak sama sekali.

Kemiskinan dan mental korup tidak hilang. Santri yang lulus dan mendapat jabatan akan tetap korupsi dengan berbagai modusnya. Pejabat kampus sebagaimana di tempatku belajar melakukan kolusi dan nepotisme. Dan pengusaha yang ingin cepat kaya menyogok calon bupati agar usahanya bisa berkembang dengan bantuan pejabat negara. Untuk yang terakhir ini terjadi di Gresik sebagaimana cerita seorang komisioner KPU Gresik.

Jumlah umat Islam yang berpikiran bahwa agama hanya sebatas akidah, fikih dan akhlak jumlahnya mayoritas. Orang yang memiliki pemikiran dengan yang mayoritas akan dianggap sesat, keluar dari pemikiran aswaja atau sebatas sebagai orang yang su’ul adab. Siapa yang kelak bisa mengeluarkan umat dari pola pemikir demikian? Seorang walikah? Habaibkah? Kiaikah? Professorkah?

Tuhan pun agaknya membiarkan kondisi umat. Dia tidak akan mengubah suatu kaum, kecuali individu-individunya mau berubah. Bukan hanya dengan berdoa dan istighosah. Kedua cara ini dan sejenisnya tidak ampuh. Seorang Ulama-Habaib yang diagungkan di Indonesia saja ternyata tidak mampu membuat negerinya damai. Doanya dikalahkan oleh konflik politik yang mengobrak-abrik Timur Tengah. Sebaliknya negara Barat dan China yang komunis hari ini menjadi negara maju secara ekonomi.

Hal ini bukan berarti negara Islam seperti halnya Indonesia tidak memiliki kelebihan. Indonesia memiliki banyak kelebihan yang perlu dikembangkan. Khususnya dalam semangat beragama. Semangat tersebut perlu dikelola oleh para intelektual agar bisa diarahkan dengan benar. Bukan sebaliknya, menjadi ladang bagi kelompok ekstremis sehingga melahirkan teroris-teroris yang rela menghabisi nyawanya atas nama ‘agama’.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga