Tasyakuran dan Momen Kontemplasi Ala UMP

Saya berada di sana, di pelataran gedung megah. Saat itu ramai sedang tasyakuran. Tampak deretan motor terparkir rapi memenuhi sisi-sisi gedung. Beberapa mobil juga ikut nampang, menegaskan adanya keramaian. Ratusan mahasiswa tampak memasang wajah

sumringah dan antusias memasuki gedung pertemuan. Saya di antara mahasiswa itu. Meski karena suatu hal tak bisa ikut masuk.

Tepat semalam kampusku menggelar tasyakuran ulang tahun. Oke, kami biasa menyebutnya milad. Dari pamflet dan banner yang disebar diketahui beberapa gelaran seni dan acara hiburan meramaikan acara tersebut. Eitss jangan salah, sebagai kampus Islami, tidak lupa acara setamsil pengajian disisipkan. Meski harus diakui acara yang bersifat hiburan lebih mendominasi. Yah namanya juga ulang tahun eh milad.

Di tengah kekhidmatan acara tasyakuran tersebut ada suara-suara sumir yang mencibir. Dan itu datang dari kawan-kawan saya. “Muhammadiyah kok tasyakuran” begitu gerutu kawan saya. Yang lebih radikal lagi juga ada. Kurang lebih mereka ngomong begini “ Milad kok pesta melulu, merenung kek!”. Ada-ada saja memang pikiran kawan-kawan saya itu. Jujur saya jadi tergelitik menuliskannya.

Soal Muhammdiyah dan tasyakuran kita tidak akan bahas. Selain jelas itu sah-sah saja, karena sebagai muslim kita memang disuruh bersyukur, itu juga tak menarik. Bahasan tentang syukur terlalu melangit. Lagi pula soal agama, saya bukan orang yang tepat. Kita hanya akan membahas soal merenung, soal pesta. Dan itu bukan dari tinjauan hadist ataupun Al-Qur’an.

Milad adalah momen yang monumental bagi apapun yang melewatinya. Milad mendifinisikan capaian perjalanan. Milad jua tanda kehidupan. Bagi lembaga, milad jelas bukan sesuatu yang bisa dilewatkan begitu saja. Karena pada saat milad itulah kita bisa meneguhkan kembali cita-cita. Sejenak menengok kebelakang untuk mengambil ancang-ancang beberapa lompatan ke depan. Perkara diiringi pesta ah itu hal biasa. Lagi pula itu wajar sebagai ungkapan rasa syukur bukan? Jelas kita sepakat bahwa sesuatu yang tidak diungkapkan akan membusukkan. Termasuk cintasyukur.

Tahun ini UMP merencanakan rangkaian milad yang tak kalah mewah dari tahun-tahun sebelumnya. Seluruh rangkaianya saja menghabiskan waktu tak kurang dari 3 bulan. Sebelum di buka semalam, sudah lebih dahulu ada acara di depan rektorat beberapa minggu lalu. Sebagai penutupnya ditunjukkan kemahiran para petugas keamanan kampus merontokkan tumpukkan-tumpukkan besi. Ngeri! Endingnya UMP akan menggelar mega konser dari band kenamaan Shela on 7 Juni mendatang. Heibat bukan?

Tapi bukan itu yang umumnya dicibir kawan-kawan saya. Selain kegiatan tasyakuran yang nda ada ngaji-ngajinya macam acara murahan kampung saya ketika menyambut Maulid Nabi itu, kampus juga dituduh terlalu menghamburkan uang untuk hal yang tak perlu. Contohnya dorprize jalan sehat atau sepada santai yang bikin ngiler. Betapa tidak, ada beberapa motor dan mobil berhias pita sebagai hadiahnya. Saya sih sinis saja menanggapinya. “ Kamu ngomong gitu karena kamu ga bisa ikut kan? ” tiap kali ada kawan yang menanyakan urgensi hadiah motor atau mobil dalam jalan sehat.

Sekilas apa yang diprotes kawan saya itu masuk akal juga. Daripada menggunakan biaya untuk hadiah yang sebenarnya bisa dikecilkan, kan mending buat mbangun. Atau untuk kesejahteraan karyawan deh. “ Meski tampak hadiah-hadiah akan mensejahterakan karyawan, tapi konsepnya tak adil “ lanjut kawan saya mengkirtik. Berarti UMP menggunakan konsep untung-untungan untuk mensejahterakan karyawannya jika caranya dengan pembagian dorprize. Mestinya kan tidak boleh. Konsepnya mestinya equity, siapa paling membutuhkan dia yang dikasih duluan. Dan terus kawan saya ncrocos. Setalah dia diam, tampak kehabisan kata.

Singkat saya jawab “ ini kan miladnya kampus. Bukan milad kamu”. Lalu teman saya melongo.

LIGA KOPI

About The Author

2 Comments

  1. Sovian Nisa 06/04/2016 Reply
  2. fajarupper 07/04/2016 Reply

Reply

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Menilik Perjalanan Secangkir Kopi
Sekuler, Akar Istilah dan Perdebatan-perdebatan yang Menyertainya
Memo untuk Washington
Syarat Menikah itu Ada Pasangan, Mblo!
Cara Mudah Move On dari Mantan yang Sudah Kadung Dicintai ala Sigmund Freud
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Memo untuk Washington
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif