Tentang Hati

“Dasar manusia tak punya hati!”

Kata itu kerap terucap tatkala seseorang ingin menyebut orang tak punya pekerti. Begitu juga ketika cinta melanda, hati menjadi organ yang seolah mengaturnya. Hati, selama ini dianggap memiliki mekanisme yang akan membuat manusia menaruh cinta kepada sesiapa sekehendaknya. Maka kemudian istilah baik hati, jatuh hati, sakit hati, dan sebagainya menjadi memasyarakat. Hati memanglah fenomenal, dengan segala tafsiranya, hati menguasai manusia.

Dalam ilmu alam, hati merupakan organ manusia yang terletak dibawah rongga dada dan berfungsi untuk menawar racun, memporduksi protein dan darah, serta membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Adapun fungsi lain, itu tak signifikan. Malahan dalam sistem tubuh kita, hati hanyalah bagian dari sistem pencernaan, yang tugas utamanya menetralkan racun dan memproduksi zat-zat pencerna makanan.

Dengan penjelasan di atas, sulit untuk mengatakan hati adalah organ tubuh yang dapat mengatur sikap-tindakan manusia. Atau bahkan yang lebih tinggi, cinta. Kalau kita mengingat palajaran di sekolah dulu misalnya, sebenarnya tindakan manusia ditentukan dari hasil tangkapan panca indra untuk kemudian diolah dalam sistem saraf. Sekali lagi, sistem saraf, bukan sistem pencernaan! Sistem saraf inilah yang kemudian membuat saraf motorik, hormon, dan zat-zat kimia dalam tubuh  kita bekerja menghasilkan sikap. Temasuk cinta.

Begini, saat seseorang jatuh cinta misalnya, awal dari proses jatuh cinta adalah impresi atau ketertarikan. Impresi ini muncul dari tangkapan indra kita, mislkan dari mata atau telinga. Kemudian karena ketertarikan kita, otak bereaksi menghasilkan hormon estrogen dan atau testosteron. Hormon ini yang memicu gairah kita pada seseorang.

Pada tahap lebih lanjut, tubuh juga akan memproduksi hormon lain seperti dopamine, adrenalin, norepinepherine, dan serotonin. Hormon-hormon tersebut adalah hormon yang juga bekerja ketika kita kecanduan. Efek bahagia timbul dari hormon tersebut. Sebagai gantinya, otak memerintahkan jantung untuk memompa darah tiga kali lebih cepat ke otak. Itu menjelaskan kenapa jantung berdebar ketika bertemu kekasih. Ha memang betul, yang sering kamu elus-elus tatkala dada berdebar itu karena jantung bukan hati. Lalu di mana kerja hati? La memang hati tak punya peran di sini, dia lagi sibuk dengan racun dan darah.

Singkatnya, jatuh cinta juga merupakan proses ilmiah yang tak sesederhana hati tertembus panah asmara!

Segumpal Darah

Rosulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang artinya: “Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah. jika segumpal darah tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah tersebut rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal darah tersebut adalah qalb.” Qalb inilah yang banyak diartikan sebagai hati.

Betul bahwa itu adalah hadist Nabi yang musti kita amini. Akan tetapi pertanyaanya, apakah umat kala itu sudah bisa menangkap jika Nabi menggunakan istilah-istilah yang kompleks, semisal super ego? Nabi yang kita tahu amat bijak tentu akan menjelaskan segala sesuatu tergantung siapa yang meminta penjelasan.

Di sini saya tidak sedang mempertanyakan kecerdasan Nabi, melainkan kondisi sosio-kultur masyarakat penerimanya kala itu.

Atau sampean pernah mendengar hadist yang mengisahkan pertemuan Nabi dengan petani kurma? Itu lho, yang Nabi ditanya ini itu soal bertani kurma dan akhirnya Nabi bersabda bahwa untuk urusan dunia (bertanam kurma) kamu (petani kurma) lebih tau. Lagian perlu diingat pula, bahwa Al-Qur’an juga menyuruh kita untuk berfikir dalam memahami ayat-ayat Allah SWT kok. Tak kurang dari 100 ayat dalam Al-Qur’an yang menyuruh kita untuk berpikir dan menelaah. Itu sebabnya tidak masalah kita memikirkan kembali hal-hal yang memang berurusan dengan dunia. Soal hati misalnya. Dari pada ngisin-ngisinke, ngomonge hati nunjuknya jantung!

Qalb dalam Psikoanalisis

Sigmud Freud seorang berkebangsaan Austria telah mencanangkan teori mengenai kepribadian manusia ratusan tahun lalu. Berpraktek sebagai dokter ahli jiwa Freud mengamati betul apa yang dialami para paseinnya hingga ia mengeluarkan teori psikoanalisis. Sebuah teori yang hingga kini dijadikan aliran dalam ilmu psikologi. Dalam psikoanalisis inilah Freud membagi manusia menjadi 3 bagian yang saling berinteraksi. Ketiganya adalah Id, Ego, dan Super Ego.

Menurut Freud, Id adalah sesutau yang naluriah dan mendasar. Seperti misalnya naluri untuk bertahan hidup dan mencari kesenangan. Sedangkan Ego adalah sisi lain manusia yang bertugas menyelaraskan id manusia dengan realitas. Ego melingkupi alam kesadaran manusia. Sementara Super Ego adalah sisi manusia yang berkaitan dengan norma-norma, agama, adat, dan kebenaran universal. Super Ego membawa id ke dalam ruang yang lebih transenden, Illahiyah. Sebab itulah, dalam memenuhi kebutuhan dan kesenangan, kita tidak menghalalkan segala cara.

Mari kita buat skenarionya untuk menjelaskan udaran Freud di atas. Misalkan begini, saya eh jangan sampean saja lah. Misalkan sampean kepengen menidurimenikahi seseorang (ini adalah id sampean). Nah tetapi setelah ketemu kaca lemari sampean jadi mikir, “ Mana mungkin dia yang begitu semloheh itu mau sama aku yang kucel, kere, ngentutan pula” (itu adalah ego sampean). Nah tetapi jika hanya terjadi pertentangan antara Id dan Ego kayak di atas pasti sampean akan gampang saja mengalahkan ego. Misalkan sampean akan pergi ke dukun, atau pergi ke rumahnya dan mengancam seluruh keluarganya agar menikahkan anaknya dengan sampean atau apalah. Penting sampean iso rabi!

Maka Super Ego tampil sebagai pahlawan yang akan menendang segala kebrutalan sampean itu. Super Ego akan mengajak sampean mengingat ajaran agama, nasehat orang tua, atau adat yang berlaku di tempat di mana sampean berada. Norma dan nilai-nilai itu kemudian mereduksi niat sampean untuk nekat pergi ke dukun. Mudheng le?

Sebenarnya jika kita mau jujur, qalb pada hadist Nabi di atas tidaklah sepenuhnya mengarah pada objek material. Melainkan pada suatu konsep kepribadian. Memang demikianlah Nabi, dapat menempatkan kata agar tetap hidup melintasi zaman. Nabi dengan sangat cerdas membuat kata yang bisa diterima oleh manusia di 1400an tahun yang lalu hingga manusia di masa mendatang. Kalaulah yang dimaksud Nabi dengan segumpal darah itu hati, yang menyaring racun itu, tentulah Nabi akan menggunakan kata kibd yang dalam bahasa arab artinya hati.

Lagi pula, jika qalb itu mengacu pada sesuatu yang bersifat fisik dan berupa material, bagian tubuh mana coba yang jika itu rusak maka seluruh bagian tubuh juga ikut rusak? Ohya rusaknya juga berupa rusak fisik loh ya.

Tetapi memang begitulah bahasa. Tentu sangat tidak nyaman kalau kita harus mengubah kata jatuh hati, misalnya, dengan kata jatuh otak. Sekalipun begitu, mengetahui segala sesuatu yang diucapkan masihlah merupakan hal yang utama. Jadi seandainya kita salah, maka kita salah dengan ilmu. %#[email protected]$#[email protected]&*???

About The Author

2 Comments

  1. rr. Galuh Kamila 05/06/2016 Reply
  2. Kangtoer Kangtoer 06/06/2016 Reply

Reply

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Dongeng “Anak Setan” dari Gunung
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga