Terkuaknya Saracen dan Perintah Islam dalam Berhati-hati Menyikapi Berita

Terkuaknya Saracen

Banyak orang yang menyebar hoax justru dengan khayalan sedang berjuang demi Islam.

Jika kita mau menarik mundur, hoax mungkin sudah ada sejak zaman dahulu kala di Indonesia. Tapi gelombang besar hoax baru begitu terasa semenjak pilpres 2014 lalu. Munculnya koran obor rakyat diiringi dengan konten media sosial yang bernada kebencian susul menyusul menghebohkan warganet. Baik Jokowi maupun Prabowo tak luput dari sasaran berita hoax.

Berkembangnya isu sara dan hoax di media sosial bukan hanya tumbuh subur karena kian digdayanya pengguna internet di Indonesia. Melainkan juga adanya pihak-pihak tertentu yang sengaja memanfaatkannya untuk berbagai kepentingan, utamanya politik.

Yang membuat hoax Indonesia kian berbahaya adalah sudah munculnya pihak yang menjadikan hoax juga isu sara sebagai ladang bisnis. Adalah kelompok yang menamakan dirinya Saracen, terungkap melakukan praktek jual jasa menyebar hoax. Tak tanggung-tanggung, nilainya bisa mencapai ratusan juta untuk satu proyek. Bisnis hoax bisa menyebar karena karakter orang Indonesia yang menyukai hal-hal mencengangkan, aneh, pula ditambah minimnya budaya literasi. Alpanya budaya membaca.

Banyak netizen yang langsung membagi berita tanpa membacanya. Sekalipun itu berasal dari media antah berantah. Meme-meme provokatif juga turut mewarnai sebaran berita hoax. Asal sesuai dengan prasangka dan syahwatnya, langsung sebar. Tak jarang juga dibumbui dengan kalimat-kalimat Islami atau malah umpatan kotor. Di banyak kasus, bahkan kita temukan orang yang begitu bangga, misalnya, menghina presiden, yang kita tahu simbol negara itu.

Ihwal berita hoax, Islam sejak dulu telah mewanti-wantinya. Karena memang sejak awal perkembangannya, Islam telah didera hoax atau berita palsu. Korbannya dari mulai para sahabat dekat hingga Nabi sendiri.

Akibat yang ditimbulkan dari munculnya berita palsu dalam sejarah Islam bahkan memicu terjadinya peperangan besar. Misalnya saja pada peperangan antara Sayiddina Ali dengan Muawiyah yang muncul akibat dihembuskannya berita palsu tentang pembunuhan khalifah Usman guna kepentingan politik.

Nabi Muhammad sendiri, secara halus, pernah menjadi korban hoax. Terutama dalam wujud hadist palsu. Ya memalsukan ucapan, perilaku, dan sikap Nabi adalah sebagian kecil hoax yang sejak lama menggrogoti Islam. Dari 600.000 hadist yang dikoleksi Imam Bukhari misalnya, hanya 2.761 hadis yang dipilihnya. Itu boleh kita tafsirkan, sebanyak 597.239 hadist dimungkinkan palsu.

Mengantisipasi munculnya berita palsu ini, Nabi telah bersabda “ Barang siapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka”. Namun lucunya, banyak di antara pembuat hadist palsu yang beranggapan bahwa hoaxnya (hadist palsunya) bukan berbohong pada Nabi, tetapi demi Nabi (demi kebaikan Islam).

Kondisi tersebut serupa dengan penyebar hoax akhir-akhir ini. Banyak orang yang menyebar hoax justru dengan khayalan sedang berjuang demi Islam. Ini mengerikan, karena militansi menyebar kebohongan justru dibalut dengan semangat beragama. Imbasnya adalah biasnya suatu yang haq dengan yang batil. Yang salah dianggap benar, yang benar didakwa salah.

Dalam Qur’an surat al Hujarat Allah telah berfirman “ Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang fasik datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayunlah (periksalah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.”

Perintah Allah lewat Al Qur’an ini agaknya menjadi pilar penting untuk membatasi penyebaran hoax, jika menghilangkannya tidak mungkin. Umumnya berita hoax menggunakan judul yang bombastis. Diterbitkan oleh media yang susunan pengelola dan alamat redaksinya tidak jelas. Jika itu berupa meme, periksalah kebenaran konten meme pada media-media kredibel. Jika perlu, perbandingkanlah dengan lebih dari satu media.

Semoga kehati-hatian kita dalam menyebarkan berita menjadi salah satu musabab Ridhonya Allah pada hidup kita. Amin.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga