Teroris dan Islam

30/05/2017 183 2 0

Setelah berita tentang ledakan bom ditayangkan, tak lama berselang, warganet akan langsung membanjiri linimasa media sosial dengan sejumlah tagar. Dua yang paling terkenal–dan telah menjadi tagar wajib–adalah #KamiTidakTakut dan #TerorisBukanIslam.

Sekilas kedua tagar tersebut baik-baik saja, bahkan cenderung heroik. Namun jika kita jeli, keduanya adalah tagar naif dan justru dapat memelihara masalah.

Pada tulisan ini, kita akan fokus pada tagar kedua: #TerorisBukanIslam.

Ini bisa dimaklumi, bahwa memang kekejian bukanlah ajaran Islam. Tapi siapa yang bisa mengelak, bahwa para teroris itu, mencatut dalil-dalil Islam sebagai legitimasi atas kebiadabannya. Kita tidak bisa pungkiri, kalimat takbir, buku “jihad”, jenis pakaian, hingga jejak digital pelaku terror menunjukkan afiliasinya dengan Islam.

Taruhlah mereka ini settingan belaka seperti yang digembor-gemborkan Jonru dan yang sepemikiran dengannya, tapi atribut Islam yang mereka kenakan sudah kadung melekat. Dan kenyataanya motivasi terbesar mereka meledakkan bom adalah untuk jihad. Itu sudah.

Lalu setelah kita berbesar hati mengakui bahwa teroris ada beragama Islam, berikutnya adalah kita petakan kenapa mereka bisa begitu?

Islam merupakan ajaran kedamaian, dan keindahan. Al- Qur’an, Hadist, hingga Maqolah tentang itu bertebaran. Namun banyak yang menyalah artikan hanya karena, dibeberapa hal, Islam menggunakan pendekatan ketegasan.

Ya, ketegasan dimaknai sebagai kekerasan. Pemahaman ini bisa terjadi, karena sebagaian muslim menganggap Al-Qur’an sebagai sebuah teks tertutup. Teks yang dangkal tanpa bisa digali maknanya lebih dalam.

Membaca Teks, apalagi Al Qur’an, tak bisa kita lepaskan dari konteks saat teks itu diproduksi. Membaca teks dengan mengabaikan konteks akan mengaburkan makna sejati dari teks tersebut.

Dengan membiarkan teks berdialektika dengan kontekslah kita bisa mengambil nilai (makna) teks untuk bisa dipraktekkan sekarang. Dan nilai itulah yang sesungguhnya abadi: shalih likulli zaman wa makan.

Pengaburan makna ini yang kemudian melahirkan terorisme. Sekalipun para teroris itu bentukan suatu kelompok kepentingan besar (yang kerapkali motivasinya adalah ekonomi negara) jika pengaburan makna bisa dicegah, akan sulit menemukan orang yang rela tubuhnya hancur. Atau paling tidak, sulit menemukan orang Islam yang mau melakukan sesuatu yang dilarang Islam: bunuh diri.

Maka alih-alih kita latah membagikan tagar #TerorisBukanIslam., yang perlu kita lakukan adalah mengakui adanya paham dalam Islam yang berwatak keras. Lalu sekuat tenaga coba melenyapkan masalah dari jantung persoalannya: ekonomi dan mispersepsi.

Soal mispersepsi semua agama punya kelompoknya. Bahkan Buddha yang selama ini dikenal berinti ajaran kebajikan juga pernah tercoreng dengan ulah sekelompok pemeluknya di Rohingya, Myanmar.

Maka saya rasa, ketimbang kita sibuk mengelak teroris bukan Islam, lebih baik mengakuinya untuk kemudian meluruskan sebagian kecil orang Islam yang berpemahaman keras. Ini akan lebih membantu mencegah kejadian serupa di kemudian hari. Terutama tentu, agar para ukhti yang jelita dengan burqo di tubuhnya tak berhamburan badannya karena melakukan bom bunuh diri. Tabik.

Comments

comments

Tags: Featured, Indonesia, Islam Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
fajar

semacam pemuda, suka kopi, berafiliasi dengan PMII

Related Posts
Comments
  1. -

    naiissss

  2. -

    Takbir

Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.