Teroris dan Islam

Setelah berita tentang ledakan bom ditayangkan, tak lama berselang, warganet akan langsung membanjiri linimasa media sosial dengan sejumlah tagar. Dua yang paling terkenal–dan telah menjadi tagar wajib–adalah #KamiTidakTakut dan #TerorisBukanIslam.

Sekilas kedua tagar tersebut baik-baik saja, bahkan cenderung heroik. Namun jika kita jeli, keduanya adalah tagar naif dan justru dapat memelihara masalah.

Pada tulisan ini, kita akan fokus pada tagar kedua: #TerorisBukanIslam.

Ini bisa dimaklumi, bahwa memang kekejian bukanlah ajaran Islam. Tapi siapa yang bisa mengelak, bahwa para teroris itu, mencatut dalil-dalil Islam sebagai legitimasi atas kebiadabannya. Kita tidak bisa pungkiri, kalimat takbir, buku “jihad”, jenis pakaian, hingga jejak digital pelaku terror menunjukkan afiliasinya dengan Islam.

Taruhlah mereka ini settingan belaka seperti yang digembor-gemborkan Jonru dan yang sepemikiran dengannya, tapi atribut Islam yang mereka kenakan sudah kadung melekat. Dan kenyataanya motivasi terbesar mereka meledakkan bom adalah untuk jihad. Itu sudah.

Lalu setelah kita berbesar hati mengakui bahwa teroris ada beragama Islam, berikutnya adalah kita petakan kenapa mereka bisa begitu?

Islam merupakan ajaran kedamaian, dan keindahan. Al- Qur’an, Hadist, hingga Maqolah tentang itu bertebaran. Namun banyak yang menyalah artikan hanya karena, dibeberapa hal, Islam menggunakan pendekatan ketegasan.

Ya, ketegasan dimaknai sebagai kekerasan. Pemahaman ini bisa terjadi, karena sebagaian muslim menganggap Al-Qur’an sebagai sebuah teks tertutup. Teks yang dangkal tanpa bisa digali maknanya lebih dalam.

Membaca Teks, apalagi Al Qur’an, tak bisa kita lepaskan dari konteks saat teks itu diproduksi. Membaca teks dengan mengabaikan konteks akan mengaburkan makna sejati dari teks tersebut.

Dengan membiarkan teks berdialektika dengan kontekslah kita bisa mengambil nilai (makna) teks untuk bisa dipraktekkan sekarang. Dan nilai itulah yang sesungguhnya abadi: shalih likulli zaman wa makan.

Pengaburan makna ini yang kemudian melahirkan terorisme. Sekalipun para teroris itu bentukan suatu kelompok kepentingan besar (yang kerapkali motivasinya adalah ekonomi negara) jika pengaburan makna bisa dicegah, akan sulit menemukan orang yang rela tubuhnya hancur. Atau paling tidak, sulit menemukan orang Islam yang mau melakukan sesuatu yang dilarang Islam: bunuh diri.

Maka alih-alih kita latah membagikan tagar #TerorisBukanIslam., yang perlu kita lakukan adalah mengakui adanya paham dalam Islam yang berwatak keras. Lalu sekuat tenaga coba melenyapkan masalah dari jantung persoalannya: ekonomi dan mispersepsi.

Soal mispersepsi semua agama punya kelompoknya. Bahkan Buddha yang selama ini dikenal berinti ajaran kebajikan juga pernah tercoreng dengan ulah sekelompok pemeluknya di Rohingya, Myanmar.

Maka saya rasa, ketimbang kita sibuk mengelak teroris bukan Islam, lebih baik mengakuinya untuk kemudian meluruskan sebagian kecil orang Islam yang berpemahaman keras. Ini akan lebih membantu mencegah kejadian serupa di kemudian hari. Terutama tentu, agar para ukhti yang jelita dengan burqo di tubuhnya tak berhamburan badannya karena melakukan bom bunuh diri. Tabik.

Comments(2)

  1. 31/05/2017
    • 01/06/2017

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga