Trofi Bukanlah Tujuan Sepakbola

Tujuan sesungguhnya dari sepakbola

Tujuan sesungguhnya dari sepakbola

Bagi banyak penggemar sepakbola, trofi itu sangat penting. Lebih penting dari sekedar filosofi bermain. Mereka akan bangga bila klub idolanya menyabet trofi, lebih bangga lagi jika dapat lebih dari satu trofi dalam semusim: double winner, triple winner, atau bahkan panca winner. Karena alasan trofi, maka banyak orang lebih mengidolakan klub besar ketimbang klub medioker.

Teman-teman saya sendiri banyak merupakan fans berat klub besar. Mulai dari Real Madrid di La Liga sampai MaduraManchester United di liga Inggris. Tidak ada seorangpun yang mengaku peggemar Bournemouth di Premier League atau Las Palmas di La Liga. Alasannya jelas dan terukur: tidak akan dapat trofi.

Di antara mereka, banyak yang termasuk fans fanatik, jadi gampang baper kalau dibuli. Para milanisti misalnya, meskipun AC Milan hari ini menjadi klub papan tengah dan harus empot-empotan melawan tim sekelas Genoa, tapi mereka tidak mau mengakuinya. Pokoknya Milan tetap klub hebat, meski paling banter main di Liga Europa.

Manchester United juga begitu. Semua orang juga tau, semenjak ditinggal Fergie, klub setan merah ini tampak seperti ayam ditinggal induk semangnya. Boro–boro jadi kampiun liga, sekadar masuk empat besar saja tidak bisa. Bahkan, untuk masuk liga Champion saja harus melalui jalan lain, juara liga Europa dulu.

Alih-alih mengakui klubnya sedang terseok-seok, para fans biasanya, malah selalu punya alasan untuk membela klubnya. Salah satunya dengan romantisme masa lalu. Membanggakan kenangan. Di masa lampau, AC Milan dan MU memang dewa di liganya masing- masing. Tapi kalau sekarang? Asudahlah tidak dibantai saja bagus itu.

Saat ini industri sepakbola makin gila dan makin absurd. Nilai bisnisnya tidak lagi belasan juta tapi puluhan juta euro atau paund. Setiap klub berlomba jadi juara bukan untuk mendapatkan trofi ples uang pembinaan. Emangnya situ pikir tarkam?

Maksudnya begini. Sepakbola Eropa itu bukan turnamen antar kampung. Yang dikejar bukan  trofinya, tapi efek ekonomi dibalik trofi itu. Ketika klub meraih juara, popularitas naik. Harga saham klub dilantai bursa  nanjak. Basis suporter juga makin banyak. Setelah itu sponsor berdatangan dan pundi-pundi keuangan klub terisi sesak.

Karena sepakbola itu bisnis, itulah kenapa Jose Mourinho didepak dari Chelsea meski musim sebelumnya kampiun liga. Claudio Ranieri juga dipecat meski berhasil membawa Leicester menjadi klub ajaib, juara liga di musim promosinya. Mereka tidak dipecat karena kinerjanya yang jeblok, melainkan gagal meraih terget keuntungan. Ini lumrah dalam dunia bisnis. Siapa yang tidak bisa mencapai target bisnis ya layak ditendang. Kejam? Ya!.

Tapi kenapa Arsene Wenger tidak dipecat hingga kini, malah diperpanjang kontraknya dua musim kedepan. Padahal terakhir kali Arsenal juara itu musim 2004/2005, saat saya mau naik kelas lima SD. Anda tau kenapa ?

Salah satu alasannya, karena Wenger berhasil memuaskan pemilik klub. Arsenal itu, sejak bangun stadion baru, pindah dari Highbury, harus mencicil utang selama 10 tahun lamanya. Jumlah cicilanya cukup untuk membeli ratusan rumah tipe 36 di perumahan rakyat. Dengan bunga KPR rendah tentunya. Bermodal keungan cekak dan penghematan di sana sini, alhasil Arsenal hanya bisa mengarungi kompetisi dengan pemain seadanya. Tidak bisa beli pemain mahal.

Tapi kinerjanya bagus disetiap musim, mampu menjaga reputasi klub sebagai tim papan atas. Prestasi di atas lapangan tentu berpengaruh pada pemasukan klub. Ya, meski tidak lagi juara tapi konsisten di empat besar secara ekonomi itu sudah cukup untuk nyicil hutang dan biaya operasional.

Soal para fans Arsenal yang menuntut trofi? Lah, peduli setan. Mau juara bagaimana wong buat beli pemain saja uang gak punya. Di liga inggris, untuk juara investasinya mahal. Klub harus membeli pemain jadi seperti yang dilakukan Chelsea dan Manchester City.

Saya, sebagai fans, mungkin kecewa karena sudah lebih dari satu dekade Arsenal tidak kunjung kampiun. Tapi mau bagaimana lagi, di era kapitalisme sepakbola yang kian menggila, fans fanatik hanyalah objek eksploitasi saja. Toh, bila akhirnya juara, fans hanya mendapat ilusi kebahagiannya. Sementara pemilik klublah yang mendapat kebahagiaan nyata karena mereka menikmati sisi ekonominya.

Jadi jangan bersedih bila klub favoritmu tidak pernah juara. Toh sepakbola tidak bekerja untuk para penggemarnya, tapi bagi para pemiliknya.  Jadi ndak usah lagi meributkan soal trofi, apalagi kalo alasannya cuma untuk bahan buli. Ingat sesama objek eksploitasi dari project delusional harusnya saling menguatkan, bukan malah sebaliknya.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga