Menulis: Sebuah Ritual Wajib Pers Mahasiswa

Tugas Persma adalah menulis, bukan menangis karena disuruh menulis.

Menjadi seorang jurnalis kampus yang diwadahi oleh organisasi bernama ‘Lembaga Pers Mahasiswa’, membuat orientasi hidup saya banyak berubah. Sedikit bercerita, dahulu semasa SMA, saya merupakan orang yang tak suka baca apalagi menulis. Pula pandangan saya mengenai organisasi sangatlah kaku. Saya memandang orang yang ikut organisasi adalah orang yang elitis, dan hanya menjadi anak kesayangan guru-guru. Sedangkan saya? Bak remah-remah nasi di sela piring. Boro-boro mau senang nulis, baca aja ogah, lalu apa yang mau saya tulis? Boro-boro disayangi guru, dikenal sama mereka aja juga kagak.

Kini, semua itu berubah saat otak saya yang tadinya masih ‘original’ mulai “dieksploitasi” dalam dunia jurnalistik. Membaca bagaikan makanan sehari-hari yang memiliki kandungan nutrisi tinggi untuk mendongkrak intelektualitas. Membaca dari yang paling kiri sampai yang paling kanan, dan tentu tak boleh lupa, yang tengah. Dari baca buku-buku pengetahuan umum, akademik, hingga status orang-orang di medsos. Semua dilahap sebagai pekerjaan harian.

Dan ya alhamdulillah ya, kebiasaan menulis pun ikut tumbuh. Melalui newsletter, buletin, majalah dan beberapa portal berita online, tulisan saya mulai diterbitkan. Dan terkadang, saking semangatnya nulis, saya pun kerap menulis di status medsos teman-teman sejawat tanpa diketahui oleh mereka. Hingga beberapa hari kemudian mereka datang dan memaki-maki saya. Hihihi.

Walaupun menjadi mahasiswa yang memiliki satu disiplin ilmu, namun setelah memasuki dunia jurnalistik, semua pintu disiplin ilmu mulai terbuka lebar. Perlahan dan pasti, saya mulai mengunjungi satu persatu pintu tersebut melalui literasi. Ekonomi, politik, budaya, sosial bahkan agama, merupakan disiplin ilmu yang biasanya menjadi dasar dalam bahan tulisan saya.

Selain literasi, seorang Pers Mahasiswa pun dituntut kritis dalam menganalisis setiap peristiwa yang ada di sekitar. Berbeda dengan pandangan saya dahulu, saat organisasi lain selalu menerima aturan main dari sekolah atau kampus, organisasi jurnalistik ini ternyata banyak menentang kebijakan dari kampusnya baik secara sir maupun jahar.

Tak jarang, melalui tulisannya, seroang jurnalis mampu merubah sebuah keadaan sosial di sekitarnya. Karena memang tulisanya dibuat dengan karakter dan politik redaksi tersendiri yang khas: jurnalisme advokasi.

Sebagai seorang aktivis jurnalis, budaya menulis merupakan rutinitas yang wajib hukumnya untuk dilakukan sehari-hari. Kenapa? Padahal, bukannya seorang jurnalis tak harus menulis? Aktivitas jurnalistik bukannya meliputi reportase, fotografi, videografi, dan lain-lain. Lalu kenapa menulis menjadi sebuah hal yang wajib? Jika ada seseorang yang bertanya demikian, maka cepat-cepatlah lemparkan buku “Jurnalisme Komprehensif” milik Teguh Trianton, dan pastikan lemparannya tepat mengenai muka sang penanya.

Seseorang yang masuk dalam organisasi Pers Mahasiswa, semestinya memang memiliki passion tersendiri untuk mengembangkan minat dan bakatnya. Seperti: ada yang lebih suka menjadi editor video, ada yang suka menjadi fotografer, layouter, news anchor, atau menjadi reporter yang hobinya hanya liputan tapi tak pernah mau untuk menulis.

Dari banyaknya passion tersebut, perlu kita sadari bahwa hal yang paling fundamental dalam sebuah kegiatan jurnalistik adalah menulis. Ambilah beberapa contoh, seperti saat membuat sebuah video jurnalistik. Kekuatan dari video tersebut terletak pada alur cerita yang berdasarkan pada naskahnya bukan?

Kemudian seorang news anchor sangat tergantung dengan hasil naskah yang nantinya akan ia bacakan di hadapan pemirsa bukan? Hal ini membuktikan bahwa kemampuan kepenulisan mutlak dimiliki bagi seorang jurnalis. Sangat disayangkan jika kini para aktivis junalis tak mau menulis, apalagi jika alasannya sangat klise, yaitu bingung apa yang harus ditulis. Ironis.

Sedikit kisah tentang seorang tukang nasi goreng amatir. Awal mula ia membuat nasi goreng, pasti akan merasa bingung bagaimana cara membuat dan apa saja bahan-bahannya. Bahkan setelah ia tahu pun, rasanya akan berbeda dan tak seenak buatan tukang nasi goreng yang lain. Namun, karena kegigihannya untuk mencari tahu bagaimana meracik dan memasak nasi goreng yang enak, ia tak segan membaca resep-resep masakan nasi goreng, berdiskusi dengan tukang nasi goreng, dan mulai bereksperimen dengan ilmu yang telah didapatkannya. Dan hasilnya, ia mampu membuat nasi goreng yang memiliki karakter yang berbeda dengan nasi goreng lainnya. Tentunya degan rasa yang sangat enak. (Eh, kok jadi cerita tukang nasi goreng sih?)

Analogi tukang nasi goreng tersebut patutlah kita korelasikan dengan Pers Mahasiswa yang kini mulai kehilangan keahliannya, yaitu: menulis. Kebingungan saat menulis merupakan sebuah hal yang mudah diatasi, jika kita memiliki kegigihan untuk mencari referensi melalui membaca dan berdiskusi. Hematnya, kesadaran bahwa menulis merupakan suatu kebutuhan perlu kita tanamkan sedalam-dalamnya di dasar jiwa seorang Pers Mahasiswa.

Mengingat terkadang tulisan yang digarap oleh Pers Mahasiswa kerap menimbulkan dahi mengkerut, kuping kepanasan, mata melotot, maka prinsip kerja Pers Mahasiswa pun haruslah sesuai dengan kode etik jurnalistik. Walaupun kita tahu, bahwa menulis di dalam sebuah organisasi Pers Mahasiswa adalah proses belajar. Namun kerja jurnalistik secara profesional perlu ditekankan agar hasil yang didapatkan dapat maksimal.

Karena Pers Mahasiswa tak memiliki afiliasi khusus dengan para stakeholder di luar sana, maka tulisan yang disajikan pun tak harus mengikuti isu yang sedang hangat di media massa. Isu yang dihadirkan pun cenderung beresensikan Tri Dharna perguruan. Jadi, selain menjadi Pers atau junalis yang tulisannya dituntut memiliki fungsi informatif, edukatif, hiburan dan kontrol sosial, Pers Mahasiswa juga dituntut mampu mengimplementasikan Tri Dharma perguruan tinggi dalam setiap tulisannya.

Teringat salah satu kata-kata bijak Pramoedya Ananta Toer yang termaktub dalam novelnya berjudul Anak Semua Bangsa. Ia menekankan bahwa seseorang akan lebih dicintai dan tak akan hilang ditelan zaman jika ia menulis. Tentunya, hal ini seharusnya dapat dirasakan bagi sebagian penulis, khususnya para aktivis jurnalis yang dengan ikhlas menceritakan setiap peristiwa di sekitar guna kepentingan dan kemaslahatan umat.

Oleh sebab itu, sungguhpun tulisan ini mengandung unsur humor, namun pembaca yang budiman hendaknya memahaminya dengan kritis. Dan oleh karenanya, maka kita sebagai insan yang selalu diberi nikmat sempat–terutama  yang sempat membaca tulisan ini–perlulah kita memberikan semangat kepada kawan-kawan kita yang tengah berproses menjadi aktivis jurnalis atau Pers Mahasiswa. Karena menjadi Pers Mahasiswa memerlukan stamina dan daya kreatifitas yang tinggi, maka perlulah kita berikan sedikit apresiasi bagi mereka untuk terus melakukan ritual wajibnya, yaitu: menulis.

Salam Pers Mahasiswa!

Penulis: Decky Kurniawan (Mantan Pimpinan Umum Persma UMP, menolak lajang seumur hidup)

About The Author

Reply

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Menilik Perjalanan Secangkir Kopi
Sekuler, Akar Istilah dan Perdebatan-perdebatan yang Menyertainya
Memo untuk Washington
Syarat Menikah itu Ada Pasangan, Mblo!
Cara Mudah Move On dari Mantan yang Sudah Kadung Dicintai ala Sigmund Freud
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Memo untuk Washington
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif