Pantaskah Ulama Mazhab Dipertentangkan dengan Imam Hadist?

Sudah sulit untuk kita hitung dengan jari, jumlah orang yang mendekati Islam melulu dari dua sumber utama: Al Quran dan Hadist. Sementara sumber-sumber lain, seperti Ijma’ dan Qiyas dikesampingkan sama sekali. Imbasnya adalah mengkerucutnya pandangan sebagian muslim tentang hukum yang hanya tinggal halal atau haram.

Padahal Islam tak sesempit itu. Keluasannya menyelimuti segala aspek dan sisi kehidupan berikut kondisi anak zamannya.

Akumulasi dari pandangan seperti di atas, tidak lain dan tak bukan, adalah lahirnya kelompok Islam yang menuntut segala sesuatu dibuktikan dengan Al Qur’an atau Hadist belaka. Bahkan lebih parah lagi mereka mempertentangkan ulama empat mazhab dengan hadist-hadist yang dikumpulkan oleh Imam Bukhari maupun Muslim; ulama hadist besar yang karya-karyanya selalu jadi rujukan.

Sampai di sini, saya ingin menyatakan bahwa saya bukanlah ahli fiqih, ahli hadist, apalagi ahli agama. Sekaligus menegaskan bahwa untuk memahami persoalan di atas kita tak butuh kualifikasi kegamaan tingkat tinggi. Hanya butuh beberapa menit untuk membaca dan menelurusi sejarah intelektual muslim maka kita akan tau duduk soalnya.  Ingat JASMERAH Bung!

Lebih lanjut, saya hanya ingin memberi opini pembanding tentang bagaimana orang yang menolak imam mazhab karena berdalih ingin menuruti hadist saja. Bagi mereka, ulama mazhab—karena tidak pernah merujuk pada hadist Bukhari atau Muslim, tak menggunakan hadist dalam memformulasikan hukum fiqih dalam Islam. Oleh karenanya mereka lebih bangga dengan atribusi Mazhab Ahli Hadist (dengan tafsir dan intepretasi hadist pas-pasan) ketimbang merujuk pada salah satu imam mazhab.

Beda Generasi

Sebelum menjastifikasi pandangan ulama empat mazhab dengan hadist rujukan Bukhari ataupun Muslim, lihatlah terlebih dahulu sejarah mereka. Dengan mengandalkan situs gratisan macam Wikipedia saja kita sudah dapat cukup informasi untuk bilang: waw ini sama halnya mempertanyakan kenapa leluhur tidak ikut pemikiran orang sekarang?

Para imam mazhab telah wafat jauh sebelum para imam hadist popular lahir (saya sebut popular karena sejatinya para imam mazhab ini adalah juga para pakar hadist jempolan pada masanya, hanya saja mereka lebih dikenal sebagai fuqaha ketimbang muhadist). Sebagai gambaran, Imam Ahmad bin Hambal, pendiri mazhab hambali, yang merupakan imam mazhab paling akhir, wafat pada tahun 164 Hijriah. 32 tahun sebelum Imam Bukhari lahir. Apalagi jika dibandingkan dengan imam Muslim, Tirmidzi, Daud, dan yang lahir setelahnya.

Jadi ada kekeliruan besar jika menggunakan rujukan hadist-hadist karya Imam hadist belakangan untuk memverifikasi imam mazhab yang justru hidup pada generasi sebelumnya. Dalam kaidah sejarah, juga khasanah Islam, sumber yang paling tualah yang digunakan untuk patokan. Bukan malah sebaliknya.

Pun pada itu, jika kita mau menelisik fakta sejarah, yang lagi-lagi bisa kita dapatkan dengan mudah di internet, Imam Bukhari dan Muslim justru yang mengikuti pandangan salah satu mazhab. Mereka menjadikan Imam Syafi’i sebagai mazhabnya.

Infografis Imam Mazhab

Infografis Imam Mazhab dan Imam Hadist

Dengan begitu, mestinya mereka yang mengaku ingin kembali pada hadist mencontoh laku muhadist besar setamsil Bukhari dan Muslim yang memilih bermazhab ketimbang mendirikan mazhab. Tentu ini bisa kita maknai karena mereka, para Imam Hadist, menyetujui fiqih imam mazhab, dalam hal tersebut Imam Syafi’i.

Pandangan binner

Seperti telah disinggung di atas, kita telah terjebak pada pandangan binner yang sempit. Amat sempit malah. Kita selalu berpegangan pada kebenaran dengan cara menyalahkan yang lain. Jadi kalau ada satu yang benar, maka yang lain, yang tak sama dengan yang satu itu, berarti salah. Cara pandang seperti itu yang menimbulkan kegaduhan akhir-akhir ini.

Padahal ikhwal kebenaran boleh jadi sangat beragam. Allah, menurut Habib Quraish Shihab dalam suatu ceramahnya, tak menuntut kebenaran dari sudut pandang 5+5= berapa?. Melainkan 10 bisa diperoleh dari perhitungan yang seperti apa?

Dengan padanan seperti itu Habib Quraish hendak menunjukkan kebenaran sekalipun bisa bervariasi. Menjawab 10 adalah hasil dari 5+5 tentu benar. Tapi bukan berarti itu membuat salah yang menjawab 10 adalah hasil dari 15-5. Ya demikianlah realitas kebenaran.

Sekali lagi, tulisan ini bukan membenarkan, tak pula menyalahkan. Kita beriman bukan berarti yang lain harus atheis. Kita Soleh bukan penanda yang lain kafir, dan lalu menepukinya. Lagian apa susahnya mengakui kebenaran imam hadist dengan membenarkan imam mazhab. Bukankah mereka semua adalah ulama pilih tanding hingga sekarang?

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga