Menghargai Anjing

Ulama yang Diceramahi Anjing

28/07/2017 1248 0 0

Menghargai Anjing

Jangan merasa paling suci. Bisa jadi hatimu lebih najis dari yang liurnya najis

Sungguh beruntung orang yang bisa menyerap pelajaran dari semua perihal dan peristiwa di alam raya ini. Merekalah orang yang senantiasa mendapat tambahan iman karena kepekaannya dalam menangkap ibrah dari hal yang dianggap najis sekalipun. Dan para sufi, orang yang menempuh jalan cinta untuk mendekati Illahi, memperoleh keistimewaan ini. Hati mereka yang bersih mampu menangkap pelajaran-pelajaran tak biasa itu.

Salah satunya adalah kisah terkenal, tentang perjumpaan Syeikh Abu Yazid al-Busthami dengan seekor anjing. Beliau adalah ulama besar pada masa awal Islam. Lahir di daerah yang sekarang menjadi wilayah dari Iran pada 188H, beliau menganut mazhab Hanafi yang taat betul dengan syariat.

Ini sekaligus membantah bahwa para sufi tak mengindahkan syariat. Justru mereka adalah orang yang sudah melampaui syariat. Catat, melampaui, bukan meninggalkan.

Pada suatu ketika, Syeikh Abu Yazid al-Busthami menyusuri jalan seorang diri. Tak seorang murid pun yang menyertainya. Saat sedang asyik melintas, tiba-tiba, dari arah depan, ada seekor anjing hitam berlari ke arahnya. Syeikh Abu Yazid mulanya tenang-tenang saja, tapi begitu si anjing mendekat, secara spontan beliau mengangkat jubah kebesarannya. Tindakannya adalah reflek dari seorang yang senantiasa menjaga kesucian agar selalu bisa dekat dengan Tuhannya. Beliau khawatir kalau-kalau jubahnya bersentuhan dengan anjing yang liurnya najis itu.

Tapi, betapa terkejutnya Beliau begitu mendengar si anjing hitam yang sudah berada di dekatnya tadi memprotes: “Tubuhku ini kering dan aku tidak melakukan kesalahan apa-apa!

Mendengar suara dari anjing hitam seperti itu, Syeikh Abu Yazid masih tak mempercayainya: “Benarkah anjing ini bicara padaku? Ataukah itu hanya perasaan dan ilusiku semata?” Kira-kira begitu gumam Syeikh Abu Yazid al-Busthami yang masih terdiam memandangi heran si anjing.

Namun belum selesai keheranan beliau, anjing hitam itu sudah meneruskan protesnya: “Jika pun engkau merasa terkena najis dariku, engkau tinggal membasuhnya 7 kali dengan air dan tanah, maka najis di tubuhmu itu akan hilang. Tetapi jika engkau mengangkat gamismu itu karena merasa dirimu yang berbadan manusia lebih mulia, lantas menganggap diriku yg berbadan anjing ini najis dan hina, maka sesungguhnya najis yang menempel di hatimu itu tidak akan bersih walau engkau basuh dengan 7 samudera”.

Setelah yakin bahwa suara tadi benar-benar keluar dari anjing hitam yang ada di dekatnya itu, Syeikh Abu Yazid al-Busthami pun menyadari kekhilafannya. Secara spontan pula, beliau meminta maaf karena telah menghina sesama makhluk Tuhan yang dianggapnya rendahan.

Ya, engkau benar wahai anjing hitam. Engkau memang kotor secara lahiriah, tetapi aku kotor secara batiniah. Karena itu, marilah kita berteman dan bersama-sama berusaha agar kita berdua menjadi makhluk yang bersih.” Kata Syeikh Abu Yazid al-Busthami mengajak berdamai.

Lalu sebagai kompensasi atas sikapnya yang terkesan merendahkan, beliau mengajak si anjing tersebut untuk berjalan bersama. Tapi justru si anjing kini menolak.

Engkau tidak pantas untuk berjalan bersama denganku apalagi menjadi sahabatku! Sebab, semua orang menolak kehadiranku, siapa pun yang bertemu denganku akan melempariku dengan batu. Sebaliknya, engkau disambut hangat dan diperlakukan sebagaimana raja. Padahal aku tidak pernah menyimpan sepotong tulang pun, sementara engkau memiliki sekarung gandum untuk makan esok hari!” Ujar si anjing hitam.

Syeikh Abu Yazid al-Busthami lantas terhenyak. Ulama besar itu diceramahi oleh anjing yang kemudian berlalu meninggalkannya dalam kesendirian di jalanan yang sepi itu. Si anjing hitam tadi pergi dengan meninggalkan luka yang menyayat hati Syeikh Abu Yazid al-Busthami. Betapa tidak, oleh anjing saja beliau merasa tak pantas dekat, bagaimana dengan Allah? Beliau khawatir Allah pun berlaku demikian pada dirinya.

Ya Allah, aku tidak pantas bersahabat dan berjalan bersama seekor anjing milikMu. Lantas, bagaimana aku dapat berjalan bersamaMu yang abadi dan kekal? Maha Besar Allah yang telah memberi pengajaran kepada yang termulia di antara makhlukMu yang terhina di antara semuanya.” ucap Syeikh Abu Yazid al-Busthami lirih.

Comments

comments

Tags: kisah abu yazid bushtomi, kisah sufi dan anjing, Nyunah Categories: Nyunah
share TWEET PIN IT SHARE share share
Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.