Ungu Warna Janda, Lalu Kenapa?

Ungu Warna Janda

Janda

Ungu Warna Janda, Lalu Kenapa?. Menjadi perempun di negeri patriarki saja sudah merupakan tantangan. Perempuan biasanya akan tersubordinasi menjadi “yang lemah” dan tak bebas mengerjakan sesuatu. Untuk sekedar memperoleh pendidikan tinggi mislanya, perempuan sudah harus berhadapan dengan kalimat: Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau cuma masak dan momong? Apalagi jika harus menjanda. Makin runyamlah urusan.

Tak seorang perempuanpun yang sejak kecil bercita-cita menjadi janda. Tentu karena status tersebut berarti dirinya gagal membina rumah tangga. Baik ditinggal mati ataupun menikah lagi, dua-duanya sama getirnya. Tak cukup disitu, stigma masyarakat yang dilekatkan pada janda juga tak kalah menyakitkan: gatal dan penggoda suami orang.

Memang sih ada beberapa oknum janda yang berperilaku demikian. Tapi itu tidak bisa digunakan untuk menjustifikasi semua janda. Tidak boleh gebyah uyah. Bahwa tante Firza nakalin istri om Rizieq itu tidak boleh menjadi alasan untuk mengatakan tante Maia Estianty juga nakal. Key!

Dengan sederet stigma negatif yang melekat padanya, hal yang beririsan dengan janda pun akan dinilai negatif pula. Bahkan warna, yang lumrahnya mewakili keindahan, bisa luntur pamornya sebab janda. Kita tentu pernah mendengar–atau malah justru keluar dari mulut kita, ucapan “ih jangan pilih warna ungu. Kayak janda aja“, atau yang senada dengannya.

Sampai-sampai banyak gadis yang hingga kini masih mikir-mikir jika hendak memilih baju berwarna ungu. Tentu karena ia khawatir akan dianggap penyuka warna janda, ingin menjanda, atau janda itu sendiri. Secara konotatif, anggapan bahwa ungu warna janda telah merendahkan dua hal sekaligus. Yang pertama adalah warna ungunya, dan yang kedua adalah jandanya. La memang kenapa kalau janda? Kalau ungu? Rendah? Tidak bermartabat gitu?

Kita justru harus berpikir sebaliknya, seringkali para janda ini bercerai karena ingin mempertahankan martabatnya sebagai manusia. Tidak mau dipukuli, dicampakkan, ataupun diperlakukan sebagaimana kebo. Mereka ini simbol kedirian yang sejati, yang tak ragu dianggap rendah demi mempertahankan ketinggian derajatnya.

Istilah warna janda, sebenarnya juga adalah istilah yang absurd. Memangnya sejak kapan ungu menikah dan lalu bercerai? #@#*

Engga, begini, warna ungu dipersepsikan sebagai warna yang salah satunya menggambarkan kemurungan. Lalu entah sejak kapan dengan entengnya kemurungan itu diasosiasikan dengan janda. Jadilah ungu sebagai warna janda. Sesimpel itu. Padahal seandainya mau adil, yang murung kan bukan cuma janda. Birokrat UGM yang menyadari namanya harus diganti agar tetap islamisesuai perkembangan zaman juga bisa bikin murung! Meskipun cuma ganti ejaan (dari Universitas Gajah Mada menjadi Gaj Ahmada) penggantian nama kampus tak cukup pake bubur merah putih.

Tapi tegasnya begini kalau Ungu Warna Janda, Lalu Kenapa?.

Perihal janda, kita tak boleh memandang remeh. Dengan berbagai stigma yang dibebankan lingkungan para janda ini dituntut untuk menghidupi diri dan keluarganya. Terlebih ketika terjadi kasus perceraian, dalam undang-undang perkawinan, biasanya hak asuh anak di bawah usia 12 tahun diserahkan kepada ibu. Anak di bawah 12 tahun kan biasanya belum bisa bekerja membantu ibunya. Hal ini diperparah dengan kesadaran hukum yang rendah, sehingga para ayah bisa bebas begitu saja dari kewajiban konstitusional (UU Th. 1974 tentang perkawinan) untuk tetap menafkahi anaknya.

Saat ini menurut survei Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKA), sebanyak 24 persen atau hampir seperempat dari jumlah keluarga yang tersebar di Indonesia, dipimpin oleh janda. Lebih lanjut, survei PEKA mengungkap bahwa 60 persen janda tersebut hidup dibawah kesulitan ekonomi. Ini menunjukkan betapa para janda memiliki kemampuan manajerial sekaligus survival yang tangguh. Sebab mempimpin keluarga di tengah keterbatasan ekonomi lebih sulit ketimbang saat kaya raya. Akan tetapi selama ini para janda telah membuktikan mereka bisa melewati masa-masa kritis itu. Mereka bisa mengatasi kesulitan ekonomi dan stigma sosial sekaligus.

Sementara BPS (2010) menyatakan jumlah janda di Indonesia mencapai 11.168.460 jiwa. Dan angka tersebut dipastikan meningkat di 2K17 ini. Dengan jumlah yang begitu banyak—setara penduduk Jakarta, para janda harus teralienasi dari struktur sosial kita yang patriarkis ini. Ini tentu ironi.

Memiliki massa yang jumlahnya sekarang diperkirakan dua kali lipat aksi 212 dua (yang 7 juta umat itu), saya menyarankan agar para janda membentuk sebuah wadah untuk menyuarakan hak-haknya. Menjadi semacam Serikat Janda Indonesia misalnya. Dengan begitu Janda-janda se tanah air bisa sinergis untuk saling bantu dan menguatkan.

Saya tidak bisa bayangkan betapa jalanan Jakarta akan lumpuh total jika para Janda ini mengepung istana untuk menuntut, umpamanya, diterbitkannya Kartu Indonesia Janda (meniru konsep Kartu Jakarta Jomblo besutan duo anies-uno). Semoga.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga