Via Vallen dan Sebuah Album Dangdut

Via vallen

Bagi sebagian orang, Via bukan hanya pengisi panggung hiburan, tapi hiburan itu sendiri.

Saya menganggap Via Vallen adalah salah satu pewaris sah untuk menjadi “Ratu Dangdut” di masa depan. Mungkin sampean mengangggap saya berlebihan, atau menyimpulkan terlalu dini. Di luar sana masih banyak penyanyi gaek dan kawakan macam Elvy Sukaesih yang bergelar “Ratu Dangdut”, Rita Sugiarto yang berjuluk “Diva Dangdut, Inul Daratista sang “Ratu Pantura”, maupun pedangdut papan atas lain macam Iis Dahlia, Ayu Rosmalina, Dewi Persik, Surkianih, atau Cita Rahayu.

Namun, apabila melihat kenyataan anggapan itu tidak terlampau berlebihan. Lagu-lagu Via Vallen di kanal Youtube terlampau banyak. Pabila dihitung jumlah viewers di laman ciptaan trio Karim-Chen Hurley, mencapai ratusan juta. Pencapaianya tentu memungkinkan ia melampui nama-nama mapan yang sudah disebutkan diatas. Nella Kharisma pun kerap menyanyi Gelangsari (gending, langgam dan campursari) dan menyanyi ulang lagu hits 80-an cukup diperhitungkan jumlah viewers lagu-lagu yang ia lantunkan, selain ia juga aliran dangdut koplo kekinian. Sampai saat tulisan ini ditulis lagu paling lari masih milik Cita-Citata dengan singlenya Sakitnya Tuh Disini yang telah diputar lebih dari 81 juta kali, sementara single Via Sayang berada dibelakangnya dengan telah diputar lebih dari 80 juta kali.

Definisi “dangdut baru” yang dibawakan Via, bukan tanpa perlawanan. Branding penyanyi kampung dengan lagu daerah melekat pada citra Via. Selama lebih lebih dari 30 tahun dangdut diglorifikasi menjadi genre tersendiri, dan tentu lekat dengan gambaran kelas sosial para penikmatnya. Selama periode itu dangdut dengan sketsanya identik dengan musik melayu yang mendayu-dayu. Seperti kehidupan, seiring berjalannya waktu muncul genre-genre tersebut bercampur dan membaur. Gaya baru itu dipelopori Via yang mampu melantunkan suara merdunya dalam berbagai bentuk dan aliran.

Tentu sulit bagi Via, jika ia ingin berbicara karir lebih banyak apabila keadaan masih dibawah tahun 2010, dimana platform medium indsutri musik masih terpusat didalam segelintir kalangan. Setiap gelombang industri musik memiliki karaktenya sendiri-sendiri. Pada awal 90, sebagai ilustrasi Sheila on 7 dan Anang Hermansyah rela merantau jauh ke Ibu Kota demi mengadu nasib, dan perlu dicatat pula bahwa, dulu Anang bukanlah bergenre pop, ia punya selera musik pada alunan yang lebih cadas, ia merintis karir di lingkungan yang sama dengan Slank. Dan hari ini, perlu digarisbawahi tebal-tebal, bukan Via yang mencari TV swasta nasional, justru berlaku sebaliknya.

Tentu yang menjadi persoalan adalah bagaimana Via bisa menjadi terlampau terkenal, melejitnya popularitas Via tentu tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial budaya dengan kontestasi-kontestasi kepentingan dan ide-ide yang ada. Dan saya tidak sedang mencoba berkonsentrasi mengulas kebesaran Via melalui sosoknya, karena Esensiana bukanlah media infotaintment.

Our identity is at once plural and partial. Kalimat tadi adalah salah satu point penting dalama esai Salman Rushdie, Imaginary Homelands. Dan tuturan Rushdie bisa menjadi kunci untuk memahami melejitnya Via dihubungkan dengan irisan-irisan identitas budaya dan politisasi identitas yang sedang berkembang di dalam masyarakat.

Nama panggung

Setiap artis biasanya memiliki nama panggung yang amat mustahil sampean percayai jika sampean mengetahui nama aslinya. Inul Daratista, sebuah nama yang identik dengan budaya Kamasutra yang tercerabut dari aroma etnik Arab “Ainur Rokhimah”, Zaskia Gotik terkesan memiliki unsur baru tercerabut dari nama aslinya yang berbau Sunda “Surkianih”. Ayu Rosmalina tenar dengan nama panggung “Ting-Ting” memberikan gambaran seorang perempuan yang masih kinyis-kinyis. Apalagi ditambah dandanan Ayu yang kerasan meniru gaya ala Korea, rambut panjang digerai dan diwarnai pirang, agar aksen putih kulit semakin nyalang.

Dalam sebuah acara infotainment, Via mengaku ia menyitat nama panggungnya dari album band Evanescene, Fallen. Dua single dalam album ini amat terkenal yakni Bring Me to Life dan My Immortal. Bagi generasi awal 90-an band tersebut tentu sangat akrab dengan mereka, berbeda dengan generasi pertengahan 90-an yang akrab dengan lagu-lagu Linkin Park dan Avenged Sevenflud (maksud saya Avenged Sevenfold). Dengan pemilihan nama itu, Via melemparkan pesan yang jelas segmen apa yang bakal ia sasar sesuai konteks sosial budayanya.

Nama tersebut beririsan dengan warna dangdut yang dibawakan. Jangan heran kemudian jika nama Via Vallen sangat dekat dengan berbagai macam kultur, hal ini ditambah dengan nama penggemar yang mendapat imbuhan yang sudah sangat popular sebelumnya (Vianisti, Milanisti, Interisti).

Dangdut dan Erotika

Sudah sepantasnya Via berterima kasih terhadap Inul yang terlebih dahulu membongkar pakem definisi dangdut. Goyang ngebornya merobohkan bangunan yang lama dibangun Elvy dan Raden Haji Oma Irama. Inul sudah membuka pintu terlebih dahulu, Via salah satu orang paling awal yang melewati pintu bersejarah itu.

Hampir sepuluh tahun berselang, erotika itu mewujud dalam bentuk yang lain. Zaskia Gotik pelopor gelombang itu. Penggunaan kata “erotika” terdengar peyoratif, dan berkonotasi pada sesuatu yang amoral. Namun, posisi itulah yang mengantarkan pada perdebatan yang menyita perhatian publik.

Zaskia Gotik dengan goyang itiknya menyedot perhatian publik, bermodal goyang yang sangat provokatif. Secara ketubuhan, Gotik, sosok penyanyi dangdut yang sudah dewasa dan matang. Dewasa dan matang bukan hanya merujuk pada pemikiran, sikap dan pengambilan keputusan. Dewasa yang sering luput diterjemahkan adalah bahwa secara seksualitas ia telah matang, bukan lagi semata merekah. Ia telah mencapai seksualitas yang sempurna. Dengan modal tubuh dibalut pakaian ketat (lihat 1 jam, 1000 alasan, cukup 1 menit). Sembari bergoyang seperti itik kekenyangan yang hendak bertelur.

Zaskia mencoba meneruskan ceruk yang dituahkan oleh Melinda dengan genre dangdut remix. Melinda laris manis dengan tajuk one night stand singlenya “Cinta satu malam”. Lagu-lagu Zaskia perlahan dilupakan, akan tetapi siapa yang mampu melupakan goyang nungging ala Surkianih?

Stereotype janda

Menyebut kata janda harus berhati-hati, kata ini sangat licin, serta memiliki konotasi-konotasi dan implikasi yang jauh berbeda satu sama lain. Namun bagi kalangan masyarakat, kata janda semakin memberikan imbuhan pengertian negatif terhadap sosok perempuan. Begitu juga di dalam industri hiburan, janda memiliki ceruk sendiri untuk dieksploitasi sebagai suatu topik yang niscaya ada. ( Baca ulasan tentang janda di esensiana)

Ayu dan Cita, keduanya seorang janda, cantik, dan seorang penyanyi dangdut. Hal yang membedakan keduanya adalah status selain ikatan pernikahan. Ayu sudah berstatus sebagai ibu, sedangkan cita masih belum berbuah.

Mahmud lekat dengan Ayu, ia seorang ibu muda, tak heran ia laris lantaran eksploitasi statusnya yang menjadi banyolan-banyolan garing yang selalu diulang-ulang. Setelah Ayu menjanda, karirnya bukan berarti habis, pintu gerbang itu malahan baru saja dibuka. Mahmud dekat pengertiannya dengan MILF (mother i like to fu*k). Sengaja dikasih tanda bintang. Biar dikira sopan. Segmen satu ini laris di berbagai kanal situs penyedia film dewasa. Seorang janda, ibu muda, modis, dan terawat, serta berpengalaman (sudah punya anak) membuat citra itu lekat dengan Ayu. Industri hiburan salah satu dagangannya adalah menyediakan imajinasi-imajinasi yang ada dalam kening untuk menyeruak.

Lain dengan Ayu lain pula dengan, Cita. Salah satu prestasi terbesar Cita adalah video-video klipnya tembus mencapai puluhan juta kali (lihat Sakitnya Tuh Disini, Goyang Dumang dst). Dan sampean paham bahwa pengguna internet adalah orang kelas menengah ke atas, Cita berhasil membuka mitos bahwa dangdut adalah musik arus bawah. Status janda kembang juga lekat dengan Cita, bertubuh kecil dan berambut panjang, membuat Cita laris di pasaran.

Perubahan platfrom dan definisi baru

Pada awal tahun 2014, salah satu momen besar terjadi. Blackberry sebagai produsen telepon seluler meringis, Android merebut  pasar mereka. Android mewajibkan pemakainya memakai email, dan sampean paham betul, Youtube adalah aplikasi yang menjadi bagian paket aplikasi surel yang diusung android. Menonton youtube menjadi semakin mudah. Tidak berlebihan jika jargon “Youtube lebih dari tv”, dengan perangkat Android, tidak perlu lagi kemana-mana membawa komputer jinjing atau pesawat tv jika semua fiturnya sudah ada digenggaman. Perangkat ponsel pintar dengan option sharenya membantu membuat viral suatu konten. Vlogger, Youtuber dan para penyanyi yang biasa mengcover lagu orang lain tumbuh dan berkembang secara beriringan dengan gelombang teknologi.

Sebelum Via dilahirkan, bahkan sebelum ia menetap dalam kandungan ibunya, tepatnya pada akhir periode 80-an bukankah gelombang remake lagu popular sudah menjadi trend, hits “Hati yang Luka” bahkan ditemukan berbagai macam versi dan gaya. Lantas apa perbedaan cover dan remake lagu?

Remake lagu tentu tidak bisa dilepaskan dari adanya payung dan tangan panjang dari label dan manajemen yang menaungi artis itu sendiri di dalam industri musik. Remake biasanya bertujuan untuk mengorbitkan artis-artis baru dan meraup untung lagu-lagu hits lama. Cover biasanya dinyanyikan oleh orang yang tidak berteduh dalam label dan manajemen artis. Pun jika Youtube memfasilitasi para penyanyi cover, platform yang ditawarkan adalah sharing profit, semakin banyak diputar lagu cover semakin tebal pula pundi pemilik lagu.

Lantas bagaimana jika lagu cover lebih terkenal dari lagu asli yang dinyanyikan oleh penyanyi yang bersangkutan, disitulah hukum pasar berbicara.

Melongok beberapa tahun belakangan, seorang musisi dan penyanyi panggung selalu dipertanyakan mengenai album mana yang telah ia rilis, lagu apa saja ciptaan dan lagu mana saja yang diciptakan khusus untuknya.

Via berhasil menyangkal itu semua, Maulidia Octavia tidak memerlukan album untuk membuatnya besar. Single “Sayang” cukup untuk membungkam setumpuk pertanyaan musikalitas Via. Ia tidak perlu membutuhkan itu, bahkan ia mengendorse band-band semenjana yang tidak diketahui namanya sebelum Via menyanyikan ulang lagu itu.

Kemudian, ada perbadaan siklus dan polarisasi yang terjadi dalam dinamika industri hiburan dan teknologi. Perbedaan pola namun pangkal motif ekonominya jelas diterka. Pada periode sebelum Via atau sepuluh tahun pertama millennium, melejitnya pemasangan NSP, RBT dan penamaan lain yang sejenis. Dengan melepaskan angka penjualan keping cakram bajakan. Dengan berkembangnya teknologi medium perekam dalam setiap genggaman. Youtube menerima guyuran untung yang tidak ada matinya, konten kreatif menjadi pembanding dan tolok ukur pada poin ini, tentu Via memberikan berkah para pemungut uang dengan menjadi pengunggah dan pengunggah ulang lagu Via saat konser di daerah. Hal ini juga ditambah dengan label-label rekaman yang tidak terpusat di Ibu Kota, mereka tentu raja-raja kecil yang lain.

Dangdut dan Genre

Via adalah paket komplit dari seorang penyanyi dangdut, selain itu ia bisa membebek hampir semua genre lagu. Untuk aliran reggae ia fasih melantunkan lagu macam Kopi Hitam, untuk lagu-lagu India ia  melantunkan Tum Hi Ho dan Muskurane, untuk lagu dangdut lawas coba sampean dengarkan macam Titip Cinta dan Birunya Cinta. Untuk lagu pop lawas coba sampean dengarkan lagu macam Setia dari  jikustik. Untuk lagu yang sedang popular coba sampean dengarkan lagu Akad, Surat Cinta untuk Starla atau Despacito, untuk lagu campursarian coba sampean dengarkan Suket Teki dan Layang Kangen, untuk lagu yang sifatnya membakar semangat coba sampean dengarkan Sunset di Tanah Anarki, untuk lagu berbahasa Inggris coba sampean dengarkan lagu yang butuh nafas panjang seperti All I Ask dari Adele, atau pun lagu bernafas pendek cepat-cepat seperti Love Me Like You Do.

Berbgai macam genre mampu ia bebek ke dalam dangdut koplo, ini tentu memunculkan sesuatu undangan yang namanya “penciptaan selera baru”, orang orang yang dulunya hanya saklek mendengarkan satu genre, dengan kemampuan Via tadi tak heran orang yang dulunya tidak suka dangdut, kemudian mendengarkan dangdut dengan sentuhan dan gaya baru, serta bercampur dengan genre yang lain, memungkinkan ia menjadi keranjingan.

Dengan kelebihannya, Via mampu menyanyikan banyak genre, tentu ia begitu dipuja di segenap elemen masyarkat mulai anak sekolah, tukang parkir, kuli sampai pegawai kantoran yang berkerah lagi berdasi klimis. Lagu-lagu yang ia nyanyikan perlahan meremukkan ingatan atas Mars Perindo. Tema lagu yang ia bawa kebanyakan pun menarik, ia mempertanyakan sekaligus memberikan jawaban atas eskpresi dan realitas percintaan kaum muda, khususnya lumpen, urban dan pinggiran kota. Itu tergambarkan dalam beberapa judul Ditinggal Rabi, Bojo Galak, Bojo Ketikung, Aku Cah Kerjo, Lungset, Kimcil Kepolen dst. Team itu memiliki dimensi sosiologis yang tidak tersekat, tak mengherankan lagu-lagu itu kerap diputar berulang-ulang di ruang-ruang tertutup dan berpendingin udara.

Tantangan karir

Tantangan karir Via akan semakin berat kedepannya, dua tahun kedepan adalah tahun politik. Tahun depan ada dua pentas akbar jagad olahraga, Asian Games yang digelar di Jakarta dan Palembang, dan Piala Dunia di Rusia. Serta tahun politik menuju Pemilukada serentak dan menuju pilpres 2019. Industri musik biasa lebih banyak berbicara pada kuartal pertama dan ketiga dalam kalender tahunan. Menyaingi gengsi Piala Dunia terlampau berat.

Sebagai orang yang gandrung mendengarkan Via, saya berharap sederhana ia tidak terlampau sering tampil di televisi, Via akan sering diatur ini dan itu. Biarkan Via menjadi Via yang memang berasal dan dibesarkan oleh dangdut koplo. Dan sejauh ini, yang saya tahu Via Vallen adalah seorang pedangdut dari Sidoarjo yang bernyanyi diatas panggung dangdut dan  kerap menerima saweran, bukan Via Vallen yang menghibur pirsawannya di depan layar kaca.

Taylor Swift diberi gelar Ratu Country saat usianya masih berkisar 22 tahun, setiap nadanya diirngi gitar bolong. Ia berjalan meninggalkan country yang membesarkan namanya. Ironis, hari ini ia sudah tidak mengimani country. Ilustrasi lain, ambilah contoh Dewi Persik, si pemilik goyang gergaji. Setelah pernah menjadi pedangdut terlaris, hari ini ia lebih dikenal sebagai pemeran opera sabun.

Sudah sejak lama Via menjadi rebutan raja-raja kecil di daerah dalam wujud orkes-orkes melayu di timur jawa. Dan undangan dari raja-raja industri hiburan tv swasta nasional bejibun padanya. Terlepas dari itu semua satu hal yang tak kalah penting, ia kerap tampil dalam berbagai macam variety show, talk show dan pelbagai macam acara infotainment yang tidak perlu dijelaskan lebih jauh.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga