Yang Lebih Berbobot dari Pertanyaan Kapan Kawin

supaya durian cepat berbuah

Yang Lebih Berbobot dari Pertanyaan Kapan Kawin. Anda sarjana pertanian? Pastilah akrab dengan pertanyaan: Mas (atau Mba) durenku kok ndak berbuah ya? Gimana biar bisa cepet buah? Lantas obrolan akan berjalan panjang penuh tanda tanya. Apalagi di momen lebaran begini, frekuensi pertanyaan itu akan meningkat drastis dibanding hari-hari biasa.

Lakadang-kadang publik tidak mau tau, kalo sudah ngerti sarjana pertanian, dikira ngerti segala aspek dalam dunia pertanian. Kalo yang ngambil jurusan Agroteknologi sih mending, lakalo jurusannya Agribisnis? Yang kuliahnya ngurusin ekonomi non parametrik sama manajemen usaha tani. Mana nyantol urusan beginian.

Pertanyaan tersebut, bagi sebagian orang, amatlah sederhana. Cuman bagi kami, yang sarjana anyaran ini, bobotnya setimbang dengan desakan intimidatif: kapan kawin? Bahkan lebih berat.

Loh, untuk menjawab pertanyaan tersebut dibutuhkan data-data yang tidak sedikit. Juga analisa yang tidak sebentar. Kalo jawabanya cuma: nganu Pak, dikasih pupuk P, K, serta disemprot hormon, lalu apa bedanya kami dengan tukang jaga toko pupuk? Masalah juga tambah runyam, memang sih ini bukan soal resep obat yang bisa membuat pemberinya dituntut atas tuduhan malpraktek, tapi tetap saja ini soal pertaruhan nama baik. Sarjana je.

Soal bagaimana durian bisa berbuah, itu tidak saklek seputar pupuk. Dalam pandangan agronomi, buah dipengaruhi oleh berbagai faktor; iklim (makro/mikro, meliputi: ketinggian, suhu, kelembaban, intensitas matahari dll), tanah, pupuk, dan tentu saja, perawatannya. Belum lagi faktor genetik dari bibit tanaman durian itu sendiri.

Faktor-faktor tadi, kalau mau dianalisa, dipecah menjadi buanyak bagian lagi. Untuk tanah misalnya, itu ada sifat fisik tanah, sifat kimia tanah, dan sifat hayati/biologi tanah. Sifat fisik tanah saja ada tekstur tanah, struktur dan banyak yang lain. Belum lagi soal pupuk. Ada enam belas (sumber lain mengatakan 20) unsur hara yang dibutuhkan tanaman.

Unsur-unsur itu terbagi menjadi unsur hara makro (dibutuhkan dalam jumlah banyak) meliputi: Nitrogen, Phosfor, Kalium, Sulfur, Magnesium, kalsium. sementara yang mikro (dibutuhkan dalam jumlah yang relatif sedikit) ada boron, tembaga, seng, besi, molibdenum, mangan, khlor, natrium, dll.

Dan kesemua unsur itu memberikan dampak pada tanaman, yang akhirnya bermuara pada buah. Iya betul, kesemua unsur tadi berkesempatan untuk menjadi jawaban atas pertanyaan: bagaimana supaya cepat berbuah?
Ini belum ngomong soal cekaman (bisa dibaca: ancaman) yang mungkin menyerang tanaman. Mulai dari cekaman biotik: seperti terserang hama, penyakit, dll dan yang abiotik: kurang air, pupuk dll.

Untuk mengolah analisa menjadi sebuah saran sederhana, kami, sebagaimana dokter, harus melihat langsung kondisi “pasien”. Tanpa itu, kami tak beda dengan jomblo impulsif yang suka menerka-nerka. Atas gejala misal, daunnya kuning saja, itu bisa karena berbagai sebab. Bisa penyakit, bisa pupuk, bisa juga kena cat kan?

Padahal kita belum ngomong seputar masa vegatatif dan masa generatif tanaman durian yang boleh jadi berbeda pada setiap jenisnya. Juga macam-macam teknik rekayasa yang bisa digunakan untuk mengakalinya.
Maka ihwal pertanyaan: bagaimana agar durian saya cepat berbuah? Itu tak pernah sederhana. Paling tidak di mata sarjana pertanian anyaran.

Lagipula Pak, demi Allah, selama pataun setengah kuliah, tak satu diktatpun yang mengajari saya tentang hal-hal praktis. Ga ada mata kuliah tentang rumus pasti mempercepat buah durian. Juga buah-buah yang lain. Selama kuliah, kami lebih banyak menghapal ketimbang berpikir. Jadilah teori teori rumit soal fisiologi tanaman, pupuk dan pemupukan, dan yang lain terkesan tidak operatif. Sungguhpun itu bisa menjawab, tapi paling tidak kami butuh waktu untuk merenung. Menghubungkan teori kuliah dengan realitas di lapangan.

Ini belum ditambah problem ngomong sarjana yang makin payah. Terutama sejak organisasi ekstra jadi demikian menyeramkan untuk diikuti akibat kebijakan NKK/BKK, sementara organ intra (UKM, BEM dan HMPS) tidak bisa menjanjikan apa-apa kecuali gebetan. Sekedar kemampuan nulis surat dan desain banner aja tak pasti! Loh sudah banyak mahasiwa, juga sarjana, yang punya problem to ngomong. Mereka bisa mikir tapi nda bisa ngomong di depan publik. Apaya mereka tidak sama dengan flashdisk?

Jadi untuk para pemangku kebijakan, cara cepat menjadi milyarder dengan bertani Duren sebaiknya ditambahkan jadi mata kuliah wajib mahasiswa pertanian. Tentu agar juga mereka tak kikuk selepas lulus ditanya: gimana ya supaya durianku cepet berbuah?

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga