Usia 24 Bagi Seorang Perempuan

Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan

12/08/2017 609 2 0

Menginjak usia kepala dua bagi seorang perempuan, bukanlah perkara mudah. Dibilang remaja, sudah tidak, dibilang dewasa pun masih perlu dipertimbangkan. Sedangkan waktu, kita tahu, tak mau menunggu. Di tahun 2017 ini, generasi Z kini sudah mulai tumbuh menjadi remaja yang siap menggantikan generasi milenial yang semakin tua. Ya generasi yang usianya dua puluhan ini. Sebab itu, bagi seorang perempuan yang usianya sudah mantap di 24 pasti gundah gulana bukan main. Tertodong tekanan dari segala penjuru mata angin.

#Lirik media daring. Gerakan mengenai nikah muda semakin gencar, apalagi sejak seorang anak ustad  terkenal memutuskan menikah di usianya yang masih terbilang belia.  Makin kocar-kacirlah para jomblowan dan jomblowati. Hanya saja bagi jomblowan tentu saja situasinya masih terbilang aman. Sebab kata orang, semakin matang usia laki-laki akan semakin menawan.  Beda dengan perempuan. Semakin banyak nominal usia yang disandang, semakin banyak omongan. Dibilang jual mahal lah. Digosipin nggak laku-laku lah. Dilabeli perawan tua lah. Syukur kalau yang bilang hanya tetangga, nah ini ditambah sanak saudara.

Belum lagi pertanyaan-pertanyaan dari teman sebaya, seperti “kapan nikah?”, “kapan nyusul?”, “ingat, kamu sudah nggak muda lagi lho.” Adalah  pertanyaan “wajib” yang dilontarkan ketika acara kumpul-kumpul, tak sekadar wacana. Ini tidak termasuk orang-orang yang baru kenal yang tiba-tiba menanyakan “Memangnya kapan mau menikah?” sudah menjadi bumbu sehari-hari. Seolah-olah usia 24 untuk seorang perempuan haruslah sudah menikah. Usia perawan penghabisan.

Usia ideal untuk menikah

Datasiana: Dirangkum dari berbagai sumber

Memang, terkadang pertanyaan yang dilontarkan hanya sekadar basi-basi. Tapi basa-basi itu sesungguhnya betul-betul basi. Obrolan lain yang, boleh jadi lebih, berkualitas sebenarnya terbuka lebar mengingat banyak sekali pemberitaan yang berseliweran di berbagai media massa. Atau cukuplah bertanya kabar, bercerita tentang aktivitas keseharian. Itu sudah cukup untuk mengisi apa yang di sebut basa-basi pertemuan.

Seorang perempuan—yang berusia 24 tahun atau lebih- yang memilih untuk tidak atau belum menikah pastinya memiliki alasan pribadi. Sama seperti seorang perempuan yang memilih untuk menikah di atau sebelum usia itu. Setiap perempuan memiliki tujuan hidupnya masing-masing. Mempunyai cara tersendiri untuk mendapatkan kebahagian. Orang lain tidak berhak menentukan hidup seseorang harus begini atau begitu. Apalagi untuk seorang yang mengaku beragama, mendoakan orang lain sudah lebih dari cukup ketimbang harus menggadaikan ukhuwah dengan bertanya kapan nikah?

Comments

comments

Tags: jomblo sepi, jomblomologi, jomblowati, menikah, perempuan Categories: Datasiana, Malem Minggu Esensiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Aifiatu Azaza Rahmah

Bersenang-senang di sekolah. Main dengan tulisan.

Related Posts
Comments
  1. -

    hahahaha

  2. -

    Wah, ada pak dosen. Terima kasih sudah berkunjung, pak! Hehe
    Kalau boleh sekalian bagi ilmunya lewat tulisan ke Esensiana dong, pak. 🙂

Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.