Yang Muda, Yang Bertani

18/04/2018 204 0 1

Di suatu pagi yang penuh rindu, dipisahkan oleh langit dan samudra, saya menekan tombol video call di aplikasi chatting dengan logo warna hijau dan putih. Saya tekankan bahwa yang dihubungi itu adalah nomer adik saya, bukan nomer gebetan apalagi mantan. Panggilan pun diterima dan muncullah sesosok wajah yang begitu dikenal, selalu cantik, walau dengan beberapa kerutan di sekitar mata dan pipi. Ia adalah ibu saya, yang dengan senyumnya, seperti hendak menanyakan, “kapan kamu perkenalkan ibumu ini dengan calon menantu yang paling cantik?”.

Dari obrolan yang berlangsung, ibu dan adik saya sedang berkunjung ke rumah kakek dan nenek. Kunjungan dalam rangka membantu orang tua yang sedang punya hajat tiga bulanan, memanen padi yang sudah menguning dan merunduk. Sayangnya, selalu ada dugaan harga jual gabah menjadi lebih rendah saat masa panen. Surplus persediaan beras membuat para tengkulak dan pengepul memainkan harga seminimal mungkin dalam membeli hasil panen.  Apalagi pemerintah memiliki ketidaktegasan dalam mengatur harga jual minimum.

Pemerintah pun bisa saja secara tiba-tiba memilih mengimpor beras menjelang masa panen, maka hancur sudah angan–angan petani untuk melunasi hutang pupuk atau kredit motor yang sudah menunggak berbulan–bulan. Meski sering mengalami kepedihan itu, para petani tidak pernah berhenti dan beristirahat dari aktivitas bertani dari musim ke musim. Begitu pula dengan kakek, ia secara bergilir menanam padi di musim penghujan dan jagung atau ubi manis di musim kemarau. Bagi kakek, bertani bukan sekedar menanam tumbuhan melainkan menanam kebaikan yang jika ternyata pendapatan hasil panen lebih kecil dari modal, InsyaAllah ada pendapatan lain berupa berkah dan pahala karena membantu menyediakan makanan untuk orang lain.

Dengan tidak mengurangi nilai sufi, saya pikir akan sangat mampu menjalankan nilai korporasi dalam aktifitas bertani. Yang dibutuhkan adalah sekelompok muda progresif yang memiliki pengetahuan dan kemauan dalam mengembangkan aktifitas bertani dari sisi teknologi dan pemasaran. Apalagi jika melibatkan sarjana pertanian seperti mas FAJAR HC misalnya, pasti akan lebih mampu memberikan dampak psikologis dan akademis agar lebih berkemajuan.

Patut diapresiasi karena semenjak beberapa tahun terakhir, dunia digital sudah mulai merambah dunia pertanian. Digawangi anak-anak muda kreatif, muncullah beberapa startup yang mempunyai beberapa fokus seperti permodalan, pengembangan teknologi tepat guna, dan pemasaran. Meski belum menjamah hingga pelosok daerah seperti di desa saya misalnya, setidaknya bisa memantik ide bagi generasi muda di daerah lain untuk bisa menduplikasi gerakan pengembangan pertanian. Jika generasi muda tidak mempunyai perhatian dan minat terhadap pertanian, niscaya pada tahun 2030 beras hanyalah akan menjadi barang fiktif.

Mungkin harus ada gerakan semacam tagar 2019 yang diikuti ajakan untuk generasi muda agar mau menjejakkan kaki di areal persawahan. Sebagai negara agraris yang dulu pernah berjaya dengan program swasembada pangan oleh The Smiling General, entah kenapa kini malah mengalami krisis petani muda. Salah satu hasil survey LIPI di tahun 2017 menyatakan bahwa hanya ada 4% pemuda usia 15 – 35 tahun yang bekerja dan berminat untuk menjadi petani. Ditambah dengan konversi lahan tani menjadi perumahan dan tempat industri sekitar 2% setiap bulannya. Semestinya ada tuntutan untuk mengambil langkah strategis, terstruktur, dan massif yang menjangkau seluruh pelosok negeri terkait peningkatan pengetahuan dan teknologi di bidang pertanian. Bukan sekedar peduli tentang siapa yang menguasai bisnis pupuk dan beras kemasan.

Dengan perbedaan karakter geografis, sosial, dan ekonomi di masing-masing daerah, kemampuan tentang menganalisis dan merumuskan kebijakan pertanian penting untuk diketahui dan dipraktikkan. Di sinilah dibutuhkan peran pemuda dan khususnya sarjana pertanian untuk membantu meningkatkan pertanian di wilayah pedesaan. Harus saya akui, betapa tidak mudahnya mengubah cara pandang dan perilaku masyarakat pedesaan dalam menjalankan praktik pertanian yang hingga kini masih tidak mengalami perubahan. Masyarakat pedesaan butuh treatment khusus yang lembut, halus, bersahaja, dan tidak terlalu radikal. Setidaknya, mereka harus diperlihatkan dulu bukti real dari inovasi yang akan disampaikan atau mereka akan berpikir itu semua hanyalah omong kosong belaka.

Last but not least, selagi masih ada manusia di muka bumi ini, maka kebutuhan akan sumber daya pangan selalu berkelanjutan. Sehingga kebutuhan akan petani sebagai sumber hulu pangan adalah mutlak. Tinggal bagaimana generasi muda mampu mengolah potensi ini secara maksimal dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan. Karena menunggu perhatian lebih dari para politisi pun tidak akan pernah maksimal, kecuali mendekati tahun politik seperti sekarang ini. Meski kesadaran politik itu penting, tapi kesadaran terhadap pemanfaatan sumber daya di sekitarmu adalah lebih penting.

Comments

comments

Tags: ekonomi, Panen, petani Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Related Posts