Yang Lindap dari Memuja Sepakbola

yang samar dari memuja sepakbola

Semua perihal memilki sisi lainnya. Tak terkecuali sepakbola yang dipuja itu.

Melihat tabel  klasemen sementara Manchester City unggul tiga belas poin dari Si Merah, tetangganya. Melihat permainan City, seperti Barcelona dengan adanya kebaruan, lebih bertenaga, maklum tidak ada kelembutan di Liga Inggris. Melihat permainan dan kedalaman tim asuhan Guardiola saat ini, menasbihkan satu pernyataan; sejatinya tidak ada alasan untuk tidak menjadi penggemar City. Namun, memuja klub sepak bola pun punya seleranya sendiri.

Malam tadi, Malam Natal, Nick Cohen, menuliskan kolom opini liris di media asal Manchester, Guardian, berjudul Who pays for Manchester City’s beautiful game?

“Syeikh Mansour, pemilik City adalah saudara tiri Syeikh Khalifa, Emir UAE. Sebuah kelahiran tak diharapkan memberi Mansour sebuah gunung uang dan pemain-pemain terbaik City di liga Inggris,” tulis Cohen.

“Monarki absolut adalah sebuah kediktatoran yang berhias dengan jubah yang indah. Pelarangan pada kebebasan berpendapat, kebebasan pers, kepastian hukum, pengadilan yang independen, pemilihan umum masih diberlakukan di Federasi Emirates dalam tujuh kesultanan,” lanjut Cohen.

Raksasa Timur Tengah selain UAE dalam industri sepak bola, adalah Qatar. Persaingan sangat nampak, PSG sebagai salah satu klub paling makmur dimiliki oleh Nasser Al Khelaifi, mogul dari Qatar. Persaingan kedua negara teluk itu pun, nampak dari persaingan maskapai udara, dimana Qatar Airways harus  bertempur sendirian menghadapi dua maskapai raksasa asal UAE; Etihad (sponsor City) dan Fly Emirates.

“Monarki Emirate, Qatar dan Saudi Arabia bersandar pada sistem ekonomi yang eksploitatif yang mencari peniru-peniru selanjutnya,” tandas Cohen.

Krisis Qatar yang dikucilkan negara teluk beberapa waktu lalu, tidak terlepas dari persaingan-persaingan konsorsium multinasional dua negara tersebut. Dubai saat ini menjadi salah satu ibukota ekonomi di Timur Tengah, sementara itu, Qatar tengah bersaing merebut legitimasi (soft power) yang telah di pegang oleh Emirate. Upaya itu nampak jelas ketika, Qatar Airways mensponsori Barcelona, Nasser menjadi boss PSG, kepindahan Xavi Hernandez ke Liga Qatar, lebih- lebih setelah Qatar memenangkan biding tuan rumah Piala Dunia 2022.

Sejatinya persaingan konsorsium-konsorsium asal Asia yang menghujani uang di Eropa bukan hanya milik negara teluk tadi, China pun menyergap klub-klub Eropa. Tetapi, faktor geopolitik pun menjadi alasan, China ada di Asia Timur, bukan Timur Tengah.

 “UAE secara keseluruhan, hanya 13% dari populasi yang merupakan warga negara. Pusat pariwisata yang bercahaya di Dubai, penduduk meningkat sedikit menjadi 15%, dan Abu Dhabi mencapai 20%, dan di mana-mana kelas bawah imigran mengerjakan borongan proyek yang kebanyakan dari Asia Selatan. Secara hukum, para pekerja tidak bisa bertahan dari ancaman deportasi ke Filipina atau India, jika mereka tidak memuaskan bos yang banyak tingkah. Pada praktiknya monarki absolut menekan pengacara dan pengkampanye jika mereka ingin membawa kasus secara hukum. Sekarang dan akan selalu, aktivis dibungkam dan buruh takut untuk membicarakan upah mereka, ” papar Cohen.

Pun setelah Qatar ditetapkan menjadi host Piala Dunia 2022, kontroversi-kontroversi masih saja menaungi negara teluk  ini. Yang paling mendapat sorotan dunia internasional tentu tentang eksplotiasi pekerja dalam pembangunan infrastruktur Piala Dunia 2022. Tercatat sebanyak 1,2 juta buruhya migran asal Nepal, India, dan Bangladesh mengalami berbagai kasus seperti eksploitasi pekerja seperti gaji yang tidak dibayarkan, bekerja tidak sesuai kontrak, dan juga bekerja melebihi jam kerja (Sigit Prasetyo, Menggunakan Spanyol demi Pencitraan dan Diplomasi Publik).

Sementara itu, Vetricia Wizach dalam Membalikkan Piramida’ Sepakbola Kelas Pekerja’ di Piala Dunia Qatar, melanjutkan. Tak heran kini Nepal jadi penyumbang pekerja paling banyak ke Qatar, yiatu sebesar 40% dari total pekerja. Lebih dari 100 ribu penduduk Nepal meninggalkan keluraganya untuk mencari penghidupan di Qatar.

Bahkan, dalam paragraf awal tulisannya, Wizach menulis bahwa pada periode Juli hingga Agustus 2013 saja sudah ada 40 buruh yang tewas di beberapa konstruksi terkait Piala Dunia. Ada pekerja yang mati terjatuh dari ketinggian saat bekerja di tempat yang bahkan tidak menyediakan helm. Ada yang mati kelelahan karena jantungnya tidak berfungsi lagi dipaksa bekerja terus menerus, dua belas jam sehari, tujuh hari seminggu. Mereka datang ke Qatar dalam keadaan sehat, kemudian pulang ke negaranya dalam wujud jenazah.

Nasib buruh migran tadi tentu tidak jauh berbeda dengan buruh migran asal Indonesia meski  dalam beberapa kasus berbeda sektor.

lain Eropa, lain Indonesia

Liga Indonesia sempat membuat geger dunia, setelah Persib Bandung merekut pemain dengan portofolio mentereng, Michael Essien. Brand Essien yang moncer di Chelsea dipadukan dengan  Persib yang merupakan salah satu klub dengan pengikut media sosial terbanyak di Asia, diharapkan mengangkat pamor Liga Indonesia usai di skors FIFA, nama liga melambung dan Persib bisa mendapatkan lebih banyak sponsor.

Mengikat Essien tentu bukan hal yang murah bagi Persib, seperti membeli pemain lokal sebagai pelapis.

Konsorsium sepakbola bukan merupakan hal yang baru dari Indonesia, konsorisum ditujukan untuk memonopoli suatu wilayah ekonomi dimana motif prestasi sedikit dikesampingkan, dan mengutamakan keuntungan sebagai prestasi utamanya. Meski begitu konsorsium yang menaungi Persib pernah meraih prestasi mentereng, Persib memenangkan Liga Super Indonesia pada 2014. Konsorsium ini pula yang membuat persib tetap hidup dari sponsor dan mampu mengikat pemain-pemain papan atas, meski pada musim kemarin Persib tereok-seok di papan tengah.

Keterlibatan Glenn di persib bermula saat Maung Bandung hendak kolaps pada 2009. Aturan Mendagri yang melarang klub sepakbola mendapat bantuan APBD  membikin Persib ketar-ketir. Di sisi lain, regulasi baru ditetapkan PSSI bahwa klub sepakbola yang berkompetisi di kasta tertinggi meski berbentuk lembaga hukum. PT PBB kemudian menjadi solusi saat itu dibentuk Walikota Bandung Dada Rosada. Namun PT PBB gagal mendapatkan dana untuk mengarungi ISL musim 2009/2010 (Aqwam Fiazmi Hanifan, Gurita Bisnis Glenn Sugita di Persib dan Sepakbola Nasional).

“Di saat itulah Glenn masuk. Masuknya Glenn ke Persib tidak lepas dari peran Dede Yusuf yang waktu itu menjabat Wakil Gubernu Jawa Barat. Untuk membantu Persib, Dede mengusulkan PT PBB membentuk konsorsium,” lanjut Aqwam.

Glenn tercatat memiliki saham di Go-Jek, sehingga tidak mengherankan, PT LIB sebegai  penyelanggara liga menggandeng sebagai salah satu sponsor utama liga. Glenn tidak hanya mendirikan konsorsium seperti di Persib, ia juga mendirikan konsorsium sepakbola nasional.

Pun dengan ISC 2016, yang disponsori Mayora group, melalui anak perusahaanya Torabika, tahun ini, sister company Torabika, Le Minarele, bersengketa soal sumber mata air di Banten dimana matai air untuk persawahan beralih dalam produk kemasan.

Di sebuah sudut kota London, terdapat sebuah tim sepak bola medioker, prestasinya biasa-biasa saja. Tidak turun kasta pun sudah syukur. West Ham united, klub tradisional medioker berlambang palu yang disilang. The Hammers baru saja pindah dari stadion lamanya, ke stadion Olimpiade, alasannya, supaya traffic penonton meningkat, demi pemasukan yang lebih besar dari penjualan tiket.

“Mereka menciptakan klub terbaik di dunia dan mungkin di suatu hari, mereka mendirikan oligarki,” tulis Cohen.

Mari menunggu pertemuan antara PSG dan City di Liga Champions, mari menunggu PSMS bertemu PS TNI atau Persib melawan Bali United di Liga Indonesia musim depan.

Glamornya liga-liga yang ditonton lewat pesawat televisi atau kanal Youtube, tidak terlepas dari kerja-kerja buruh yang dengan atau tanpa dibayar rendah, mari menonton sepakbola sembari mengesampingkan nasib buruh migran dan para penarik ojek online yang tarifnya diatur oleh perusahaan yang mendanai liga.***

About The Author

Reply

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Menilik Perjalanan Secangkir Kopi
Sekuler, Akar Istilah dan Perdebatan-perdebatan yang Menyertainya
Memo untuk Washington
Syarat Menikah itu Ada Pasangan, Mblo!
Cara Mudah Move On dari Mantan yang Sudah Kadung Dicintai ala Sigmund Freud
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Memo untuk Washington
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif