Yasinan, Mengisi Ruang Sosio-religi

Yasinan, barangkali merupakan ritus keagamaan yang dibenci oleh sebagian orang, tetapi juga amat digandrungi oleh sebagian yang lain. Yasinan, sebagaimana persoalan khilafiah lain, memang

objek yang pas untuk diperdebatkan. Pertentangan panjang soal boleh tidaknya yasinan juga telah ada sejak dulu. Dan terus akan berlanjut sampai nanti, sampai batas waktu yang tak ditentukan.

Tentang silang sengkarut pendapat soal boleh tidaknya yasinan kita tidak akan membahasnya di sini. Persoalan yasinan tidak hanya bisa kita pandang dari sisi agama. Tapi juga sisi politik dan sosial. Anda boleh tak percaya, tapi tidak bisa juga menentang sepenuhnya. Karena faktanya memanglah demikian.

Dalam term agama, yasinan adalah cara umat Islam mendoakan umat Islam lain yang telah mendahuluinya. Pada derajat ini, semua aliran percaya. Do’a adalah sesuatu yang beyond dimensi. Sesuatu yang menembus batasan ruang dan waktu. Tapi persoalan menjadi lain, ketika do’a tersebut dikemas dalam yasinan dan diasosiasikan dengan organisasi tertentu. Yasinan kian sarat dengan muatan politik konten organisasi. Yasinan menjadi brand, yang itu berarti bisa “diserang” oleh brand lain. Tujuanya jelas, agar “konsumen” memilih organisasi dengan brand tertentu. Baik yang membolehkan atau yang melarangnya.

Pada konteks sosial, yasinan telah menjadi ruang sosial yang menjadi pilihan masyarakat untuk saling memadu temu. Ia bukanlah ritual yang hanya melingkupi habluminallah, melainkan juga habluminannas. Ia bukan hanya soal bid’ah atau mubah. Dalam pada itu yasinan telah menjadi alat masyarakat untuk saling menguatkan. Terkhusus pada momen-momen kematian.

Ini jualah yang menjadi pemikiran Bu Lek saya. Ketika suaminya meninggal karena kecalakaan, Bu Lek, juga keluarga, pantas berterimakasih pada mereka yang telah berbondong-bondong memberikan penguatan. Pada malam pertama sepeninggal Pak Lek, jelas itu malam yang begitu berat. Tak henti-henti Bu Lek memanggil dan meratapi Pak Lek. Saya merasakan jelas kepedihan itu. Tak terbayangkan betapa ngerinya malam itu jika tidak ada do’a bersama semacam yasinan. Barangkali ditinggal mati justru lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri. Beku.

Pada kondisi yang demikian manusia memerlukan manusia lain untuk meneguhkan kembali eksistensi dirinya. Benar, kehilangan anggota keluarga, berarti kehilangan sebagian diri kita. Oleh karenanya selama tujuh hari sanak saudara dan handai taulan berkumpul untuk memberikan dorongan moril dan do’a. Manusia memang kuat dibeberapa hal, ini berkat akal yang dimilikinya. Tapi soal kehilangan, manusia amat lemah.

shareSaben malam jum’at pria-pria di desa saya juga saling bertemu dari satu rumah ke rumah lain untuk mendoakan para leluhur. Tapi prakteknya tak hanya itu, mereka juga membicarakan fluktuasi harga salak, cara terbaru dalam, misalnya, mencampur pupuk untuk tanaman, sampai guyonan soal isu-isu politik menjadi pelengkap yasinan. Hal semacam itu tidaklah bisa dihindarkan. Kita tentu mahfum, berkumpulnya suatu kelompok manusia pasti akan membicarakan sesuatu yang dekat dengan kelompoknya. Selepas do’a-do’a dipanjatkan, pria-pria itu saling melempar gagasan dan lelucon. Ya, sambil menyantap kudapan.

Di mata mbah-mbah dan bapak-bapak itu, agama menjadi begitu cair. Menjadi begitu menyatu dengan ruang sosial.

Kondisi menjadi berbeda ketika agama menjadi alat politik maupun ekonomi-kekuasaan. Para pembesar, tak sungkan menunggangi agama untuk berebut kekuasaan. Mereka tak segan menggunakan jargon-jargon surgawi untuk meraih simpati, lalu, setelah jadi, mereka berlaku neraka. Atau dalam banyak kesempatan kita bisa melihat mereka-mereka yang tega melihat genosida-pembantaian suatu etnis- justru oleh agama yang menyeru pada kedamaian. Alasannya ya kekuasaan, meskipun, katanya atas nama agama.

Pun dengan mereka yang mengkomodifikasi agama. Sama brengseknya. Agama disulap menjadi komoditas yang marketable. Agama, sebagaimana produk ekonomi, dipasarkan dengan cara-cara culas. Halal-haram digoreng sedemikian rupa sehingga menjadi pundi-pundi ekonomi. Ceramah, juga ruqyah dipatok dan diukur dengan rupiah. Tentu aturannya seperti merek ekonomi. Semakin terkenal semakin mahal harganya. Ah agama!

About The Author

Reply

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Dongeng “Anak Setan” dari Gunung
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga