Yu Patmi dan Umara’nya yang Ingkar

Yu patmi.

Lalu untuk apa lagi negara ini berdiri merdeka jika melindungi akses rakyat atas tanah dan air yang dimilikinya saja sudah tak bisa?

Jauh sebelum nama Indonesia terpikirkan James Richardson Logan, Nusantara telah berpenghuni. Kehidupan di dalamnya pun sudah bergeliat, dari mulai mengolah tanah hingga membangun rumah. Setiap wilayah pada setiap pulaunya memiliki peradaban yang berbeda sebelum kemudian bangsa barat datang meluluhlantakan tatanan itu.

Lalu atasnama persamaan nasib dan semangat kesatuan, masyarakat yang mulanya berdaulat itu bersepakat untuk melawan penjajah yang kemudian membentuk sebuah negara bangsa (Nation state). Proses pembentukannya pun tak mudah. Butuh banyak darah dan pengorbanan dalam waktu yang sebentar. Yang jelas tak semudah para pejabat masa kini dalam membagi proyek e-ktp dalam satu tarikan napas.

Setelah mengalahkan penjajah, masyarakat tak lantas sejahtera. Penderitaan demi penderitaan justru datang setelah negara ini lama merdeka. Ada terlampau banyak kisah pilu tentang arogansi penguasa cum pengusaha pada sang pemilik negara agraris ini; rakyat. Yang paling sembrono tentu adalah penyerobotan tanah dari tangan petani.

Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh petani jika mengahadapi cara-cara represif alat negara yang ironisnya bersembunyi dibalik kalimat sakti “demi kemajuan pembangunan negara”. Sudah bukan rahasia lagi, jika militer selalu berada dibalik setiap sengketa tanah masyarakat melawan pemodal. Alasanya masuk akal: mengamankan.

Konflik semacam itu membentang dari ujung barat ke ujung timur. Melibatkan pengusaha, institusi  pemerintah, atau bahkan militer itu sendiri. Dalam kesemua itu tentu rakyat yang berada pada posisi lemah seringkali bukan hanya kehilangan ha katas tanahnya, seringkali juga kehilangan nyawanya.

Sebagai gambaran, menurut Konsorsium Pembaruan Agraria, pada tahun 2012-2013 saja terdapat 567 kasus dengan luas tanah yang disengketakan mencapai 1.5 juta hektar. Dari konflik itu setidaknya ratusan ribu kepala keluarga terdampak, 24 orang tewas, 30 orang tertembak, 130 orang dianiaya dan 239 orang ditahan aparat. Ah memang dari sekian banyaknya, yang paling biadab dari Negara adalah memandang nyawa cuma sebagai angka-angka statistika saja. Tak lebih.

Jumlah tersebut akan merangkak naik jika ditambah konflik yang terjadi selama masa Jokowi memimpin. Presiden yang dicitrakan merakyat dan didukung oleh “partainya” wong cilik ini  rupanya tak semerakyat harapan warga Kendeng.

Hal tersebut terbukti usai Jokowi ditemui dua orang petani kakak beradik asal Kendeng, Gunarti dan Gunarto. Keduanya bertemu Jokowi dan menyampaikan keluhannya usai difasilitasi oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara dalam sebuah acara di Istana. Jawaban yang diberikan Jokowi adalah jawaban template khas birokrat: melempar tanggungjawab ke bawahan.

Jokowi menyuruh petani Kendeng melapor pada Gubernur yang lebih bertindak sebagai agen pabrik dalam melegalisasi eksploitasi ketimbang seorang gubernur yang pelayan rakyat itu.

Yu Patmi yang gigih melawan

Kondisi tersebut membuat segenap warga Kendeng melawan. Salah satu yang paling getol adalah Yu Patmi. Yu Patmi hanya satu dari ratusan warga Kendeng yang gigih mempertahankan lingkungannya. Orang-orang seperti Yu Patmi ini tentu tak perlu memahami konsep Ecological sustainability seperti diajarkan di kampus kampus mewah. Mereka hanya perlu menggunakan kearifan lokal dan sedikit penalaran sistematis seperti yang ditularkan oleh para relawan pendamping.

Meninggalnya Yu Patmi dalam rangkaian panjang perlawanan pada pabrik semen sebetulnya adalah kematian yang tak perlu terjadi. Karena sejak awal pendirian pabrik tersebut sudah mengalami kendala pada izin lingkungannya. Hanya saja, entah karena kekuatan apa, izin itu terbit dari Gubernur yang pada bulan Januari lalu telah mencabut izin operasi pabrik tersebut. Ya begitulah politisi kita, bisa berkelit dan bermanuver dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Apa yang diperjuangkan Yu Patmi dan kawan kawannya menjadi sangat masuk akal jika kita mau sedikit menelusuri berita tentang kematian mencurigakan pada kawasan pabrik semen di desa Karanglo, Tuban.

Sebagaimana diberitakan, ada 28 orang meninggal selama rentang waktu 45 hari. Berita tersebut membuat Komnas HAM dan sejumlah aktivis lingkungan meneliti kematian yang cukup tinggi tersebut. Menurut Sunandar, kepala desa Karanglo, biasanya hanya terjadi 2 atau 3 kematian dalam sebulan. Hal tersebut yan membuat sejumlah pihak berpikir bahwa pencemaran udara menjadi penyebab utama kematian warga.

Desa Karanglo sendiri masuk dalam daerah ring satu wilayah penambangan semen milik PT. Semen Indonesia, pabrik yang saat ini sedang bersengketa di Kendeng. Terlepas dari bantahan pihak Semen Indonesia, kematian tersebut tetaplah kematian yang terlampau tinggi untuk sebuah desa berpenduduk 5.604 penduduk.

Hal ini diperkuat dengan tingkat pencemaran udara yang muncul akibat ledakan dinamit dan rutinitas penambangan lainnya. Sejumlah warga juga mengeluhkan mangganya yang gagal panen lantaran daun dan bunga yang tumbuh tertutup debu. Sejumlah komoditas pertanian lain juga pasti terkena dampaknya.

Melihat kasus tersebut menjadi sangat beralasan kenapa Yu Patmi dan warga lain melawan. Selain penyerobotan tanah dan polusi, aktivitas penambangan juga akan menurunkan kualitas dan debit air yang selama ini mengairi sawah-sawah mereka.

Sejak April 2016 Yu Patmi menyuarakan aspirasinya secara bergelombang di depan istana dengan cara mengcor kakinya dengan semen. Semacam penegasan bahwa petani yang mestinya menginjak sawah justru dibelenggu dengan semen. Hingga pada 21 maret lalu Yu Patmi dipundut oleh yang Maha Kuasa.

Yu Patmi meninggal terkena serangan jantung usai melakukan aksi protes. Sebuah aksi yang mestinya tak perlu seandainya pemimpinnya tidak ingkar.

Tetapi semua telah terjadi. Yu Patmi, barangkali, telah bahagia di alam sana. Paling tidak tak lagi harus berhadapan dengan penguasa yang penuh sandiwara. Sugeng Kondur Yu Patmi, mugi Khusnul Khotimah.

About The Author

Reply

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Dongeng “Anak Setan” dari Gunung
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga