5 Hal yang Membuat Kalian Bangga Kuliah di UMP

Kuliah di UMP
Keunggulan kuliah di UMP
Merdeka Ospeknya, Merdeka Panitianya

Barangkali tulisan ini bisa dimaknai sebagai pesan dari alumni untuk para mahasiswa baru kampus biru. Uhuuk (dahak redaksional). Sebelumnya, saya menulis artikel ini tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Saya juga mengetiknya secara sadar.Sebelum saya mulai menulis artikel ini, saya diundang oleh panitia Ospek Merdeka, nama ospek dari UMP, untuk memberikan pandangan saya kepada para pemandu ospek (sebut saja begitu) tentang ospek, mahasiswa, dan tentu saja, mantan kampus tercinta; UMP.

Usai sejam lebih mulut saya cuap-cuap hingga berbusa-busa, sa mengajukan pertanyaan simpel; kalian bangga tidak sih kuliah di UMP? Dan sesuai dugaan, para mahasiswa enerjik, piawai membikin kepsyen, dan kritis-kritis sama nasehat orang tua itu terdiam. Tatapan mereka kosong. Padahal jumlah peserta saat itu lumayan banyak. Sekitar 150 orang, yang kalau satu orang nyumbang satu huruf saja, rangkaian hurufnya bisa jadi kalimat jawaban yang lumayan panjang.

Masyaallah, setelah bersemester-semester kuliah di UMP mereka bahkan tidak memiliki kebanggan pada kampusnya sendiri. Sa kok jadi teringat hatei yang tiap hari berjalan di aspal bikinin kementrian PU Indonesia, tapi tidak ada bangga-bangganya sama Indonesia. Suul adab itu.

Padahal kalau mau ditadzaburi kuliah di UMP bukan saja akan mendunia sebagaimana motto barunya, tapi juga mengakherat. Insyallah. Dan sebagai alumni yang baek sa coba menulis tentang betapa seharusnya kaliyan bangga kuliah di UMP. Meskipun saya tau, kaliyan mulanya masuk UMP karena ga tau harus ke kampus negeri mana lagi kan? Puk puk. Atau kuliah di UMPnya cumak buat ngabisin waktu nunggu SNMPTN taun depan?

Jika iya, camkan ini baik-baik. Sebab ada banyak hal yang membuat kaliyan harus redha, pula bangga kuliyah di UMP.

1. UMP Kampus Islami

Betapa banyak orang muslim yang mengejar prestise duniawi tapi mengabaikan nilai-nilai Islami? Adakah adek-adek ini termasuk di dalamnya? Jika iya, istighfar, bertaubatlah, dek. Sa kasih tau ya, bahwa sungguh, kehancuran umat Islam itu tidak berasal dari luar dirinya, tetapi dari dalam dirinya sendiri. Yakni ketika umat Islam sudah tidak punya gairah keislaman, sudah menempatkaan capaian dunia di atas kepentingan akhirat. Tepat pada titik itulah umat Islam akan hancur.

Maka dek, betapa beruntungnya kaliyan, masuk dalam kampus Islami. Kampus yang rahmatan lil alamin. Kampus yang bukan hanya memberi manfaat pada yayasan, tetapi juga seluruh alam. Ya pedagang jipang, penjaja kraca keong, yang burung, ya pohon dan ya ampunnn semua dapat manfaatnya.

Dan asal kamu tau dek, di kampus yang saat ini adek ikuti ospeknya, manakala adzan datang, seluruh pintu gerbang akan segera dikunci. Biar apa? Menumpuk antrian mahasiswa keluar di gerbang? Bukan. Biar ke masjid. Duh.

2. UMP adalah bagian dari solusi Indonesia

Begini, tentu kaliyan sudah tahu, bahwa pendidikan, apalagi pendidikan tinggi, adalah barang mewah di Indonesia. Tidak semua orang bisa mengenyam bangku pendidikan tinggi. Mengingat negara, lewat kampus negerinya, tidak sanggup mencukupi kebutuhan pendidikan tinggi bagi segenap pembayar pajaknya. Belum lagi, biaya kuliah di perguruan tinggi yang relatif mahal. Atau sangat mahal bagi buruh tani, penjaja cilok, pengais sampah, dan sebagian besar profesi penyerap tenaga kerja mayoritas lainnya.

UMP hadir ditengah ketidakberdayaan negara itu. UMP hadir mengisi ruang kosong yang tidak sanggup dipenuhi pemerintah: menyediakan layanan pendidikan tinggi. Jadi Bung, Noni, berbanggalah kaliyan menjadi bagian dari solusi Indonesia.

Apalagi biaya kuliah di UMP tergolong ekonomis. Sangat ekonomis malah. Untuk uang masuknya hanya seharga beberapa petak sawah. Sementara SPP nya bisa dipenuhi dengan jual sapi, kerbau, atau beberapa ekor kambing. kelinci ya boleh asal ribuan. Investasi memang begitu!

3. Tidak membebani negara

Waini. Ini yang mestinya membuat matamu berbinar-binar. Membikin kamu berani membusungkan dada tatkala bertemu dengan teman seperjuangan yang kebetulan lolos SNMPTN. Karena kamu bisa kuliah mandiri tanpa membebani keuangan negara yang kian kemari utangnya kian bejibun.

Lihatlah, betapa 3000 lebih desa di Indonesia belum dialiri listrik, daerah-daerah perbatasan belum disentuh aspal, harga semen bahkan saat dikatakan baru saja turun 150% masih di angka 500 ribu per sak, juga wakil kita di DPR yang merengek-rengek karena gubugnya yang reot miring. Dan masih ada jutaan tanggungan negara lainya, yang biayanya ditanggungkan pada APBN kita yang tak seberapa itu.

Jadi kuliahmu, yang paling banter, hanya membuat kedua orang tuamu lupa pada nama salah satu anaknya itu masih bagus kok. Ndak membebani negara.

4. Makin mendunia

Setelah berkutat pada hal-hal yang berbau keislaman, berbau akhirat, UMP juga tak lupa pada dunia. Tentu ditempatkan secara proporsional. Masyallah.

5. Wes ndang disyukuiri, rasalah kakean alesan. Delengo batirmu do ra mampu kuliah!

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.